DokterSehat.Com РHematuria adalah munculnya darah di dalam urine yang dikeluarkan seseorang saat sedang berkemih. Darah yang keluar terkadang tidak terdeteksi karena jumlahnya terlalu sedikit. Namun, dari beberapa pengecekan laboratorium, darah bisa terdeteksi sehingga kita harus waspada terkait  dengan kemungkinan terjadi masalah pada tubuh.

hematuria-pada-wanita-doktersehat

Penyebab Hematuria pada Wanita

Hematuria pada wanita kadang bisa juga terjadi pada pria. Namun, ada kondisi tertentu yang membuat urine berisi darah hanya terjadi atau lebih banyak terjadi pada wanita. Berikut beberapa penyebab hematuria yang umum terjadi pada wanita.

  1. Infeksi Saluran Kemih

Wanita memiliki kemaluan yang berbeda dengan pria dan bentuk vulva membuka. Dengan bentuk vulva seperti ini kemungkinan terjadi infeksi akan besar. Saat wanita jarang mengganti celana dalam hingga tidak bersih saat membersihkan vagina saat bercinta, bakteri akan mudah sekali masuk ke dalam dan menyebabkan infeksi.

Bakteri yang masuk akan bergerak ke saluran kemih dengan cepat dan membuat organ di sekitarnya mengalami inflamasi. Kalau inflamasi terjadi terus-menerus, kemungkinan besar akan menyebabkan masalah pada tubuh seperti perdarahan. Kondisi ini akan semakin parah kalau infeksi menyebar hingga ke ginjal atau kandung kemih.

Perdarahan akan terjadi dan keluar bersamaan dengan urine yang mengalir. Selain itu, area vagina akan terasa sakit saat digunakan untuk berkemih. Disentuh saja terkadang terasa perih, apalagi digunakan untuk melakukan seks. Urine yang keluar cenderung lebih berbau dari biasanya. Tanda lain dari infeksi ini adalah demam dan nyeri di perut bagian bawah.

  1. Ada Batu di Kandung Kemih dan Ginjal

Urine bisa menjadi kristal kalau dibiarkan lama di dalam tubuh. Akhirnya kristal-kristal itu mengalami pembentukan perlahan-lahan hingga akhirnya besar tajam. Baru yang tumbuh di ginjal dan juga kandung kemih dan tajam biasanya akan mudah melukai organ sehingga perdarahan akan semakin mudah terjadi.

Perdarahan biasanya muncul di dalam urine dalam bentuk perubahan warna seperti agak kemerahan atau merah mudah. Selain itu, wanita juga akan semakin mudah mengalami inkontinensia urine seperti mudah berkemih tapi yang keluar tidak banyak. Saat berkemih urine akan memiliki bau menyengat dan proses pengeluarannya menyakitkan.

Batu di ginjal dan kandung kemih bisa muncul karena wanita lebih sering mengalami dehidrasi. Selanjutnya tubuh yang terlalu banyak mengonsumsi garam juga memungkinkan terbentuknya kristal di dua organ tersebut. Menjadi seorang yang obesitas dan juga mengalami masalah tiroid juga menyebabkan masalah perdarahan pada urine.

  1. Mengalami Endometriosis

Kalau Anda mengalami nyeri punggung yang hebat dan juga muncul perdarahan di urine baik itu ringan atau cukup terlihat dengan jelas, kemungkinan besar terjadi endometriosis. Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh lembaga kesehatan di Amerika, sekitar 11 persen wanita mengalami endometriosis.

Kondisi ini muncul karena lapisan di endometrium menebal dari kondisi normal. Penebalan ini menyebabkan jumlah darah yang nantinya keluar saat menstruasi jadi lebih besar. Itulah kenapa wanita sering merasakan nyeri yang intens di perut bagian bawah dan kadang tubuh menjadi sangat lemas.

Endometriosis yang cukup parah dan tidak segera ditangani dengan baik bisa memicu masalah nyeri, susah hamil, dan hematuria. Selalu perhatikan urine yang keluar dan kondisi tubuh secara menyeluruh. Kalau tubuh semakin tidak nyaman dan susah dikendalikan, segera periksakan diri ke dokter.

  1. Terkena Kanker

Meski jarang terjadi dan termasuk langka, kanker yang muncul di ginjal dan kandung kemih juga bisa menyebabkan hematuria. Untuk mengetahui apakah tubuh memiliki kanker atau tidak ada baiknya untuk melakukan pemeriksaan intensif. Kalau memang ada kanker harus segera ditangani sebelum menyebar ke mana-mana.

Cara Diagnosis Hematuria

Hematuria bisa terjadi dalam dua hal. Pertama adalah hematuria dalam bentuk perdarahan yang parah sehingga urine terlihat sangat merah dan ada bau anyir dari darah. Kedua adalah hematuria ringan hanya bisa dicek dengan menguji urine yang dikeluarkan.

Diagnosis dari hematuria biasanya dilakukan dengan beberapa cara. Pertama dengan melakukan pengamatan area selangkangan dari wanita mulai dari vulva, vagina, serviks, hingga rahim. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan

Cara lain untuk melakukan diagnosis hematuria adalah dengan melakukan analisis urine. Analisis ini dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidaknya sisa protein yang berlebihan, dan sel darah merah. Kalau terdeteksi banyak, kemungkinan besar terjadi hematuria.

Terakhir dengan menggunakan pemindaian memakai CT scan atau mesin ultrasonik. Dengan menggunakan cara ini Anda akan tahu ada atau tidaknya pertumbuhan dari endometriosis dan juga batu di ginjal atau kandung kemih.

Menangani Hematuria pada Wanita

Penanganan dari hematuria bergantung dengan penyebabnya karena darah bisa keluar karena infeksi saluran kemih, batu, dan kanker.

  • Kalau hematuria muncul karena infeksi saluran kemih. Kemungkinan besar bisa disembuhkan dengan minum antibiotik sesuai dengan resep dokter.
  • Batu di ginjal dan kandung kemih harus dipaksa untuk hancur dengan mengonsumsi obat atau dengan melakukan pembedahan. Selama batu masih ada di dalam tubuh, perdarahan akan tetap terjadi.
  • Kanker ditangani dengan melakukan kemoterapi, operasi, atau opsi terapi lain yang sesuai dengan kondisi fisik.

Agar penanganan segera dilakukan, kalau tanda di bawah ini muncul segeralah ke dokter.

  • Nyeri di punggung yang semakin tidak tertahankan.
  • Sering mengalami masalah dengan pencernaan.
  • Sering mengalami sakit saat berkemih dan berhubungan seks.
  • Urine baunya sangat intens.
  • Tubuh mengalami demam, lelah, dan meriang.

Inilah beberapa ulasan tentang hematuria yang terjadi pada wanita Secara umum hematuria pada pria dan wanita sama saja. Namun, ada kondisi spesifik yang membuat hematuria muncul hanya pada wanita saja. Nah, pernahkah Anda mengalami hematuria? Semoga tidak dan selalu sehat setiap harinya.

 

 

Sumber:

  1. Eske, Jamie. 2019. What to know about blood in urine (hematuria) in females. https://www.medicalnewstoday.com/articles/325324.php. (Diakses pada 8 Desember 2019)
  2. ACOG. Asymptomatic Microscopic Hematuria in Women. https://www.acog.org/Clinical-Guidance-and-Publications/Committee-Opinions/Committee-on-Gynecologic-Practice/Asymptomatic-Microscopic-Hematuria-in-Women?IsMobileSet=false. (Diakses pada 8 Desember 2019)