Terbit: 16 Juli 2020 | Diperbarui: 24 Agustus 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Hematuria adalah istilah medis untuk menggambarkan adanya darah di dalam urine. Berbagai kondisi dan penyakit dapat menyebabkan kondisi ini. Munculnya darah dalam urine dapat menjadi tanda masalah kesehatan, bahkan jika itu terjadi hanya sekali. Ketahui gejala hematuria, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Hematuria: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Hematuria?

Hematuria atau sering disebut kencing berdarah tidak selalu merupakan gejala penyakit yang serius, akan tetapi ini bisa menjadi peringatan penting bahwa terdapat masalah pada tubuh Anda. Darah yang terdapat dalam urine bisa berasal dari ginjal atau saluran kemih.

Gejala Hematuria

Gross hematuria menghasilkan urine berwarna merah muda, merah, atau cola. Pada beberapa kasus kondisi ini bisa terjadi tanpa gejala, akan tetapi pada kasus lain gejala yang bisa dikenali adalah buang air kecil lebih sering dan terasa menyakitkan. Gejala lainnya yang mungkin terjadi adalah mual, muntah, demam, atau sakit perut.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera konsultasi dengan dokter jika Anda melihat darah di dalam urine. Namun, tidak semua orang mampu menganalisis apakah di dalam urinenya terdapat darah. Perubahan warna urine yang disebabkan oleh obat-obatan, makanan, atau olahraga mungkin hilang dalam beberapa hari. Langkah terbaik adalah menemui dokter kapanpun Anda mengetahui urine berwarna merah.

Penyebab Hematuria

Terdapat banyak kemungkinan penyebab kencing berdarah. Dalam beberapa kasus, darah mungkin berasal dari sumber yang berbeda-beda. Beberapa kondisi yang berpotensi menyebabkan hematuria adalah:

  • Infeksi Saluran Kemih

Kondisi ini terjadi ketika bakteri memasuki tubuh melalui uretra dan berkembang biak di kandung kemih. Gejalanya dapat berupa keinginan untuk buang air kecil lebih sering, rasa nyeri/terbakar saat buang air kecil, dan urine yang berbau sangat kuat.

  • Infeksi Ginjal (Pielonefritis)

Kondisi ini dapat terjadi ketika bakteri masuk ke ginjal dari aliran darah atau berpindah dari ureter ke ginjal. Tanda dan gejala sering mirip dengan infeksi kandung kemih, tetapi infeksi ginjal lebih cenderung menyebabkan demam dan nyeri pinggang.

  • Batu Ginjal

Mineral dalam urine yang pekat terkadang membentuk kristal di dinding ginjal atau kandung kemih. Seiring waktu, kristal dapat menjadi batu kecil yang keras. Batu yang terdapat di ginjal atau kandung kemih umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi dapat menjadi penyebab microscopic hematuria.

  • Pembesaran Prostat

Tanda dan gejala prostat yang membesar (benign prostatic hyperplasia) termasuk kesulitan buang air kecil, buang air kecil berulang kali, hingga kencing berdarah (terlihat oleh mata telanjang atau dengan bantuan mikroskop). Infeksi pada prostat (prostatitis) dapat menyebabkan tanda dan gejala yang sama.

  • Penyakit Ginjal

Microscopic hematuria adalah gejala umum glomerulonefritis, peradangan sistem penyaringan ginjal. Glomerulonefritis dapat menjadi bagian dari penyakit sistemik, seperti diabetes, atau dapat terjadi dengan sendirinya.

Infeksi virus, radang, penyakit pembuluh darah (vaskulitis), dan masalah kekebalan seperti nefropati IgA, yang memengaruhi kapiler kecil yang menyaring darah di ginjal (glomerulus) juga dapat memicu glomerulonefritis.

  • Kanker

Kencing berdarah yang terlihat mungkin merupakan tanda kanker ginjal, kandung kemih atau prostat lanjut. Sayangnya, Anda mungkin tidak memiliki tanda atau gejala pada tahap awal.

  • Gangguan Bawaan

Anemia sel sabit atau cacat bawaan hemoglobin dalam sel darah merah dapat menyebabkan kencing berdarah, baik hematuria yang terlihat maupun mikroskopis. Begitu juga Alport syndrome, kondisi yang memengaruhi selaput penyaringan di glomerulus ginjal.

  • Cedera Ginjal

Pukulan atau cedera lain pada ginjal akibat kecelakaan atau olahraga dapat menyebabkan darah terlihat di dalam urine.

  • Obat-Obatan

Obat antikanker cyclophosphamide dan penicillin dapat menyebabkan hematuria. Kondisi ini juga bisa terjadi jika Anda mengonsumsi antikoagulan, seperti aspirin dan heparin pengencer darah.

Faktor Risiko Hematuria

Hampir semua orang, termasuk anak-anak dan remaja dapat mengalami kencing berdarah. Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko hematuria adalah:

  • Usia. Banyak pria yang berusia lebih dari 50 tahun mengalami kondisi ini karena kelenjar prostat yang membesar.
  • Infeksi baru-baru ini. Peradangan ginjal setelah infeksi virus atau bakteri (glomerulonefritis pascainfeksi) adalah salah satu penyebab utama kencing berdarah yang terlihat pada anak-anak.
  • Riwayat keluarga. Anda mungkin lebih rentan mengalami urine berdarah jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal atau batu ginjal.
  • Obat-obatan tertentu. Aspirin, obat antiinflamasi nonsteroid, dan antibiotik seperti penisilin diketahui meningkatkan risiko kencing berdarah.
  • Olahraga berat. Pelari jarak jauh sangat rentan terhadap perdarahan urine yang disebabkan oleh olahraga. Bahkan, kondisi ini kadang-kadang disebut jogger’s hematuria. Siapa pun yang berolahraga dengan keras dapat mengalami kondisi ini.

Diagnosis Hematuria

Diagnosis awal yang bisa dilakukan dokter adalah melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan. Setelah itu, dokter bisa menyarankan Anda untuk melakukan beberapa tes untuk menemukan penyebabnya, di antaranya:

  • Tes urine. Tes ini diperlukan untuk memeriksa infeksi saluran kemih atau adanya mineral yang menyebabkan batu ginjal.
  • Tes pencitraan. Tes ini diperlukan untuk menemukan penyebab hematuria. Dokter mungkin merekomendasikan CT scan, MRI, atau pemeriksaan ultrasound.
  • Sistoskopi. Dokter menggunakan selang yang dilengkapi dengan kamera kecil untuk masuk ke dalam kandung kemih. Selain memeriksa kondisi kandung kemih, tes ini berguna untuk melihat tanda-tanda penyakit pada uretra.

Terkadang, penyebab hematuria tidak dapat ditemukan. Dalam hal ini, dokter mungkin merekomendasikan tes tindak lanjut rutin, terutama jika Anda memiliki faktor risiko kanker kandung kemih, seperti merokok, paparan racun dari lingkungan, atau riwayat terapi radiasi.

Pengobatan Hematuria

Tidak ada satu pengobatan khusus untuk semua kasus hematuria. Pengobatan ditujukan pada penyebab spesifik yang mendasarinya. Jika penyebab yang mendasari kondisi ini tidak ditemukan, tes urine tindak lanjut dan pemantauan tekanan darah dapat direkomendasikan setiap tiga hingga enam bulan.

Penanganan kondisi ini dapat menggunakan antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih, obat untuk mengecilkan ukuran prostat, atau terapi gelombang kejut untuk memecah batu ginjal. Dalam beberapa kasus, kencing berdarah adalah kondisi yang tidak memerlukan perawatan.

Komplikasi Hematuria

Jika kencing berdarah disebabkan oleh kanker dan tidak mendapatkan penanganan dengan tepat, maka perawatan selanjutnya bisa menjadi sangat sulit. Sementara itu, jika kondisi ini disebabkan oleh pembesaran prostat dan tidak mendapatkan penanganan dengan tepat, Anda akan merasakan frekuensi buang air kecil yang meningkat hingga batu saluran kemih bisa terjadi.

Pencegahan Hematuria

Secara umum, Anda dapat membantu mencegah kondisi ini dengan mengikuti gaya hidup yang mendorong saluran kemih tetap sehat, seperti:

  • Konsumsi air putih yang cukup. Minumlah sekitar delapan gelas cairan setiap hari (minum lebih banyak selama cuaca panas).
  • Jika kondisi ini terkait saluran kemih, jangan merokok.
  • Jika hematuria terkait dengan olahraga berat, beralihlah ke olahraga yang intensitasnya rendah.

 

  1. Anonim. Blood in urine (hematuria). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/blood-in-urine/symptoms-causes/syc-20353432. (Diakses pada 16 Juli 2020).
  2. Anonim. Hematuria. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15234-hematuria. (Diakses pada 16 Juli 2020).
  3. Anonim. Hematuria. https://www.drugs.com/health-guide/hematuria.html. (Diakses pada 16 Juli 2020).
  4. Ellis, Mary Ellen. 2019. Why Is There Blood in My Urine?. https://www.healthline.com/health/urine-bloody#complications. (Diakses pada 16 Juli 2020).
  5. Feldman, Adam S. 2018. Patient education: Blood in the urine (hematuria) in adults (Beyond the Basics). https://www.uptodate.com/contents/blood-in-the-urine-hematuria-in-adults-beyond-the-basics. (Diakses pada 16 Juli 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi