Terbit: 15 September 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Pemerintah memutuskan untuk meningkatkan cukai rokok menjadi 23 persen pada 1 Januari 2020 mendatang. Hal ini akan membuat harga eceran rokok naik menjadi 35 persen. Banyak orang yang memprediksi kenaikan harga rokok ini akan membuat jumlah pengisap vape semakin meningkat.

rokok-cukai-doktersehat

Imbas Kenaikan Cukai Rokok bagi Jumlah Pengisap Vape

Meskipun secara logika hal ini sangat mungkin terjadi, pakar kesehatan menyebut kenaikan cukai rokok sebenarnya tidak begitu memberikan pengaruh besar bagi jumlah pengisap vape atau rokok elektrik di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh secara alami jumlahnya sudah meningkat dengan signifikan di setiap tahunnya.

Sebagai contoh, pada tahun 2011, pengguna vape hanyalah sekitar 0,3 persen dari total populasi di Indonesia, kini jumlahnya bahkan sudah naik ke angka 5 hingga 7 persen.

Pakar kesehatan justru menyarankan pemerintah, khususnya di bagian Kementerian Kesehatan untuk membuat regulasi yang lebih baik tentang pengendalian vape atau rokok elektrik di Indonesia. Hingga saat ini, regulasi ini belum ada sehingga vape cenderung bisa didapatkan dengan mudah oleh siapa saja. Padahal, dampak yang diberikan vape bagi kesehatan tak kalah berbahaya dibandingkan dengan rokok biasa.

Jumlah Pengisap Vape Diprediksi Naik 1 Juta Orang

Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia atau APVI, Garindra Kartasasmita menyebut pengguna vape di Tanah Air pada 2018 lalu sudah mencapai 1,2 juta orang. Diprediksi, pada tahun ini jumlahnya bertambah lagi 1 juta orang.

Berbeda dengan pakar kesehatan, Garindra menyebut rokok eletrik sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan dengan rokok biasa dan dianggap bisa membantu menghilangkan kecanduan rokok. Ia pun berharap semakin banyak orang yang beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik.

Berbagai Dampak Buruk dari Penggunaan Vape

Pakar kesehatan menyebut vape tidak bisa dianggap sebagai rokok yang lebih aman bagi kesehatan. Dalam realitanya, rokok elektrik juga memiliki kandungan yang bisa membahayakan tubuh. Hal ini berarti, jika kita rutin mengisapnya, dampaknya bagi kesehatan bisa sangat buruk.

Berikut adalah berbagai dampak buruk hobi mengisap vape.

  1. Kecanduan

Sebagaimana rokok konvensional, vape juga bisa membuat penggunanya kecanduan. Memang, dengan beralih ke vape, kita bisa menurunkan atau menghilangkan kecanduan pada rokok konvensional, namun hal ini justru membuat kita kesulitan untuk berhenti menggunakan vape.

Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan nikotin di dalam vape yang sebenarnya termasuk dalam zat aditif. Mengingat nikotin juga bisa memberikan dampak kesehatan yang buruk, sebaiknya memang kita menghindarinya.

  1. Keracunan

Sebenarnya, kasus keracunan akibat penggunaan vape masih jarang terjadi, namun data yang dikeluarkan Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut jumlah kasus keracunan akibat vape cenderung meningkat pada 2014 dibandingkan dengan data pada 2010 silam.

Gejala keracunan ini biasanya berada pada mata, kulit, dan saluran pencernaan. Sayangnya, korbannya paling sering adalah anak-anak dan balita.

  1. Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh

Konsumsi vape secara teratur telah terbukti mampu menurunkan sistem imun tubuh dengan drastis. Hal ini tentu akan membuat kita lebih mudah jatuh sakit.

  1. Memicu Kerusakan Otak

Kandungan nikotin di dalam vape bisa membuat kadar hormon dopamine di dalam otak meningkat dengan drastis. Sayangnya, hal ini bisa memicu kerusakan otak dalam jangka panjang.

  1. Masalah pada Paru-Paru

Nikotin yang ada di dalam vape bisa menyebabkan peradangan pada paru-paru. Bahkan, telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa paparan bahan kimia dari vape bisa meningkatkan risiko kanker paru dengan signifikan.

 

Sumber:

  1. Hidayat, Agung. 2019. Jumlah pengguna rokok elektrik diprediksi bertambah satu juta orang tahun ini. industri.kontan.co.id/news/jumlah-pengguna-rokok-elektrik-diprediksi-bertambah-satu-juta-orang-tahun-ini. (Diakses pada 15 September 2019).

DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi