Kemoterapi Minim Efek Samping

Doktersehat.com – Penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini hampir merujuk secara eksklusif kepada obat sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker.Pengobatan kanker dewasa ini hampir selalu melibatkan operasi, penyinaran dan atau kemoterapi. Tujuan kemoterapi pada penyembuhan kanker adalah menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel onkogen (kanker) pada tubuh pasien. Prinsip kerja obat-obatan kemoterapi adalah menyerang fase tertentu atau seluruh fase pada pembelahan mitosis pada sel-sel yang bereplikasi atau berkembang dengan cepat, yang diharapkan adalah sel onkogen yang bereplikasi. Obat kemoterami hampir tidak menimbulkan dampak pada sel yang sedang dalam masa beristirahat (tidak melakukan pembelahan), namun terkadang sel-sel rambut dan sel-sel yang sedang aktif membelah lainnya dapat terkena dampak obat ini apabila siklus mitosisnya berada dalam target obat-obatan kemoterapi yang sedang digunakan

Riset kedokteran untuk kanker kini sampai pada teknik kemoterapi lokal dan partikel nano. Dengan teknologi ini, dosis obat kemoterapi diperkecil secara drastis. Pengobatan pun lebih efektif dan efek samping diminimalkan. Konkretnya, penampilan pasien terjaga; rambut tidak rontok; mual, nyeri, dan demam pun sangat ringan.

Kemoterapi yang umum dikenal, yakni kemoterapi sistemik, ditakuti pasien. Betapa tidak, obat yang ditujukan untuk membasmi sel kanker diinfuskan ke pembuluh darah dan langsung menyebar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tidak hanya sel kanker yang terbasmi, sel sehat pun ikut rusak.Karena itu, kemoterapi sistemik sering kali menimbulkan berbagai efek samping yang serius berupa kerusakan organ vital, seperti jantung, hati, dan ginjal, serta rambut rontok. Nyeri, mual, dan muntah juga menambah penderitaan pasien.

Beberapa tahun lalu, RS Kanker Fuda Guangzhou, China, mengembangkan terobosan berupa terapi intervensi vaskular. Dengan teknik ini, menurut Feng Mu, dokter ahli bedah jantung yang juga Deputi Presiden RS Fuda, obat kemoterapi diinjeksikan langsung ke jaringan tumor/kanker lewat pembuluh arteri yang memasok darah ke daerah itu.

”Sebagaimana sel tubuh lain, sel kanker dipasok nutrisi lewat pembuluh darah. Pembuluh darah ini yang dijadikan jalan masuk obat kemoterapi oleh dokter,” kata Mu.

Dalam hal ini, obat diinjeksikan lewat kateter yang dimasukkan ke pembuluh darah di pangkal paha. Bisa juga kateter masuk lewat pembuluh arteri di lengan. Kemudian, dengan bantuan fluoroskopi untuk memantau pergerakan, kateter diarahkan menuju pembuluh arteri yang ke tumor. Dengan demikian, obat bisa mencapai daerah tumor dalam jumlah besar dan waktu singkat.

Dua teknik
Ada dua teknik pada terapi intervensi vaskular. Selain kemoterapi lokal yang biasa disebut infusi zat kimia lewat arteri (transarterial chemical infusion/TACI), ada pula kemoembolisasi lewat arteri (transarterial chemoembolization/TACE). Dalam TACE, dilakukan embolisasi pembuluh darah dengan partikel zat antitumor berukuran 20-500 mikrometer lewat kateter. Diameter pembuluh darah kapiler umumnya berukuran 10-30 mikrometer.

Di Indonesia, terapi intervensi vaskular telah diterapkan. Pionirnya adalah Suwandi dan Terawan Agus Putranto, dokter ahli radiologi dari RSPAD Gatot Soebroto. Saat ini Terawan telah mendidik sejumlah dokter lain untuk melaksanakan TACI.

Teknik TACI digunakan pada hampir semua jenis kanker. Adapun TACE efektif untuk kanker hati (hepatoma). Menurut Xianghao Piao, dokter ahli radiologi dari RS Fuda yang telah 20 tahun meneliti terapi endovaskular di sejumlah negara, ”TACE berisiko dan bisa menimbulkan komplikasi berat, yaitu bisa menyumbat pembuluh yang memasok darah ke organ tubuh.”

Pada kanker hati teknik TACE efektif karena hati memiliki dua pembuluh darah, yaitu arteri hepatik dan pembuluh portal. Jika arteri hepatik yang memasok darah ke tumor disumbat, jaringan hati tidak akan mengalami nekrosis (menyusut). ”Namun, jika teknik ini diterapkan di lambung, tidak hanya tumor yang menyusut, jaringan lambung pun ikut rusak karena pasokan darah terhambat. Demikian juga jika diterapkan pada kanker paru atau ginjal,” ujar Piao.

Pada teknik TACI, meski sudah lebih baik dari kemoterapi sistemik, masih memiliki kelemahan, yaitu kadar obat pada jaringan tumor tidak bisa dipertahankan dalam waktu lama karena segera beredar ke seluruh tubuh bersama aliran darah.

Terapi nano
Untuk mempertahankan obat lebih lama di jaringan kanker, tim yang dipimpin Piao menyatukan 4-5 jenis obat kemoterapi yang dengan metode khusus dijadikan partikel halus berukuran 100-150 nanometer. Terapi ini disebut intervensi kanker pada pembuluhmikro (cancer microvessel intervention/CMI).Ukuran partikel nano sangat kecil sehingga tidak menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah normal.

Menurut Mu, terobosan ini berdasarkan teori bahwa partikel nano mampu menembus dinding pembuluh darah tumor yang berlubang-lubang halus sehingga obat bisa menyebar ke jaringan tumor. Partikel nano meningkatkan tekanan osmotik dalam jaringan tumor, sebaliknya pembuluh darah kapiler menjadi rusak sehingga obat terjebak di jaringan tumor, tidak terbawa aliran darah. Akibat gempuran obat dan tidak mendapat pasokan darah, jaringan tumor akhirnya mati.

Teknik CMI semakin menurunkan dosis obat kemoterapi. Menurut Piao, dengan teknik TACI, dosis obat kemoterapi yang digunakan diturunkan menjadi 1/3 sampai 1/5 dosis kemoterapi sistemik. Dengan teknik CMI atau kemoterapi dengan partikel nano, dosis obat hanya perlu 1/30 sampai 1/50 dosis kemoterapi sistemik.

Selain lebih hemat karena dosis obat jauh lebih sedikit, efek samping juga menjadi sangat minimal. Keuntungan lain, waktu pasien untuk terapi dan waktu pemulihan lebih singkat, setelah kemoterapi bisa pulang atau berkegiatan. Efek samping yang terjadi sangat ringan, seperti suhu tubuh naik sedikit, juga mual dan nyeri ringan.

Selain untuk mematikan tumor, seperti pada kanker paru, kemoterapi dengan partikel nano juga digunakan untuk mengecilkan tumor sebelum operasi. Seperti yang dijalani oleh Ny Desi (65), penderita kanker payudara. Juga Ny Stanny (54), penderita kanker saluran empedu (cholangiocarcinoma). Keduanya berasal dari Jakarta. Teknik itu mampu mengecilkan tumor sebelum dioperasi dengan operasi krio (pembekuan).

Ditanya sejauh mana teknik terobosan ini digunakan di dunia, menurut Piao, negara lain juga mengembangkan partikel nano untuk pengobatan kanker, tetapi mereka masih skala laboratorium. Baru RS Fuda yang menerapkan pada manusia.

Terkait tingkat keberhasilannya, Piao yang bergabung dengan RS Fuda sejak tahun 2010 menyatakan, setidaknya ada sekitar 1.000 pasien mendapat terapi nano dikombinasikan dengan terapi lain. Karena itu, sulit menghitung angka keberhasilan khusus untuk terapi nano.

Sumber : health.kompas.com