Terbit: 8 Juni 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Kelumpuhan adalah salah satu masalah kesehatan yang harus Anda waspadai. Ketahui lebih lanjut mengenai kelumpuhan mulai dari ciri-ciri, penyebab, diagnosis, hingga pengobatan dan pencegahannya berikut ini.

Kelumpuhan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan

Apa Itu Kelumpuhan?

Kelumpuhan adalah suatu kondisi ketika seseorang tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Adanya masalah pada otot maupun sistem saraf menjadi alasan mengapa seseorang mengalami kondisi yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah paralisis tersebut.

Lumpuh yang dialami oleh seseorang dapat terjadi di sebagian atau bahkan seluruh anggota tubuh, pun sifatnya yang bisa sementara (temporer) atau permanen. Anggota tubuh yang mengalami paralisis akan terasa sangat lemah dan pada kondisi yang parah, anggota tubuh tidak dapat digerakkan sama sekali.

Jenis-Jenis Kelumpuhan

Paralisis terbagi menjadi beberapa jenis yang mana hal ini didasari oleh area tubuh yang mengalami kondisi tersebut. Jenis-jenis kelumpuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Diplegia, adalah jenis paralisis yang menyerang seluruh sisi wajah dan lengan.
  • Hemiplegia, adalah jenis paralisis yang menyerang lengan dan salah satu sisi tungkai.
  • Monoplegia, adalah jenis paralisis yang menyerang salah satu sisi lengan atau tungkai.
  • Paraplegia, adalah jenis paralisis yang menyerang kedua tungkai.
  • Quadriplegia, adalah jenis paralisis yang menyerang kedua lengan dan tungkai. Pada beberapa kasus, lumpuh juga bisa terjadi di usus, saluran kemih, leher, dan otot sistem pernapasan.

Ciri dan Gejala Kelumpuhan

Ciri-ciri seseorang mengalami lumpuh adalah ketika mengalami kesulitan dalam menggerakkan anggota tubuh atau anggota tubuh tersebut bahkan tidak bisa digerakkan sama sekali. Kelumpuhan ini bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) atau perlahan-lahan (kronis.) Paralisis yang dirasakan juga ada kalanya bisa hilang-timbul.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

Sementara itu, kondisi ini juga biasanya diiringi oleh beberapa gejala lainnya seperti:

  • Kesemutan
  • Kebas
  • Kram
  • Nyeri otot

Kapan Saya Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri  ke dokter apabila mengalami gejala-gejala di atas secara akut maupun kronis. Penanganan medis sedini mungkin akan memperbesar peluang kesembuhan kondisi sekaligus mencegah agar kondisi tidak bertambah buruk.

Penyebab Kelumpuhan

Lumpuh sejatinya merupakan komplikasi dari suatu penyakit, yakni penyakit-penyakit yang berkaitan dengan otot, saraf, tulang, dan jaringan penghubung ketiganya. Beberapa jenis penyakit sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Cedera Otak

Penyebab lumpuh yang pertama adalah cedera otak. Hal ini dikarenakan benturan pada otak menyebabkan organ vital tersebut mengalami gangguan fungsi. Padahal, otak berperan penting dalam mengoordinir pergerakan tubuh.

Ketika bagian otak yang berfungsi mengoordinir pergerakan otot mengalami kerusakan, maka kelumpuhan pun tidak dapat dihindari.

2. Polio

Paralisis juga bisa menjadi pertanda dari penyakit polio. Kelumpuhan pada kasus polio terjadi pada lengan dan tungkai.

Penderita polio akan mengalami paralisis kronis, yakni terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun pasca ia terserang penyakit ini. Pada kasus yang parah, lumpuh akibat polio juga terjadi di sistem pernapasan.

3. Bell’s Palsy

Bell’s Palsy adalah kondisi yang memicu terjadinya kelumpuhan, tepatnya di salah satu sisi wajah. Paralisis pada kasus ini umumnya terjadi secara tiba-tiba dan hanya menyerang wajah.

4. Cerebral Palsy

Cerebral palsy merupakan kondisi abnormal yang terjadi sejak lahir. Kondisi ini disebabkan oleh gangguan tumbuh kembang otak saat bayi masih berada di dalam kandungan. Seseorang yang mengalami cerebral palsy akan mengalami lumpuh di sejumlah anggota tubuh seperti lengan dan tungkai.

5. Stroke

Paralisis yang terjadi secara tiba-tiba juga bisa disebabkan oleh penyakit kardiovaskular yakni stroke. Stroke terjadi ketika aliran darah menuju otak mengalami hambatan. Padahal, otak membutuhkan suplai darah agar bisa menjalankan fungsinya dalam mengoordinir pergerakan otot-otot tubuh.

6. Sindrom Guillian-Barre

Sindrom Guillian-Barre juga menjadi penyebab kelumpuhan. Penderita sindrom ini pada awalnya akan mengalami lumpuh pada tungkai untuk selanjutnya menjalar hingga ke area lengan dan juga wajah dalam kurun waktu beberapa hari hingga minggu.

7. Multiple Sclerosis

Tadi sudah dijelaskan jika gejala paralisis bisa hilang dan timbul. Jika ini yang Anda alami, maka kemungkinan penyebab terjadinya kelumpuhan tersebut adalah karena penyakit multiple sclerosis.

8. Amyothropic Lateral Sclerosis (ALS)

Amyothropic lateral sclerosis (ALS) adalah masalah kesehatan yang menyerang saraf otak dan juga tulang belakang. Kondisi ini lantas menyebabkan penderitanya mengalami lumpuh pada tungkai, lengan, dan wajah yang mana prosesnya bertahap.

Pada kasus tertentu, penderita ALS juga akan mengalami kelumpuhan pada otot-otot dari sistem pernapasannya.

9. Cedera Saraf  Tulang Belakang

Sara tulang belakang yang mengalami cedera juga bisa menjadi penyebab seseorang mengalami lumpuh pada anggota tubuhnya. Paralisis pada kasus ini utamanya terjadi tungkai, tungkai dan lengan, atau bahkan otot pada area dada.

Lumpuh yang dipicu oleh cedera saraf tulang belakang biasanya terjadi secara tiba-tiba, namun ada juga yang terjadi secara perlahan. Ini semua tergantung dari seberapa parah cedera yang dialami oleh saraf tulang belakang.

10Myasthenia Gravis

Penyebab umum kelumpuhan yang terakhir adalah myasthenia gravis. Sama halnya seperti multiple sclerosis, gejala paralisis pada kasus ini hilang-timbul. Lumpuh akibat myasthenia gravis terjadi pada tungkai, lengan, dan wajah.

Diagnosis Kelumpuhan

Dalam mendiagnosis paralisis, dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan. Tahapan pemeriksaan meliputi:

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait dengan keluhan yang dirasakan, seperti:

  • Apa saja yang dirasakan saat ini?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah memiliki riwayat cedera otak?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap fisik pasien guna mencari tahu lebih lanjut mengenai kelumpuhan yang menyerang salah satu anggota tubuh. Ini juga untuk memudahkan dokter dalam memastikan penyebab dari masalah kesehatan tersebut.

3. Pemeriksaan Penunjang

Sementara untuk memastikan seberapa parah lumpuh yang menyerang pasien, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang melalui:

  • Elektromiografi (EMG)
  • Rontgen
  • CT Scan
  • MRI
  • Pungsi lumbal

Pengobatan Kelumpuhan

Pengobatan paralisis disesuaikan dengan penyebab dari kondisi tersebut. Sebagai contoh, apabila seseorang mengalami kelumpuhan akibat penyakit stroke, maka tindakan medis yang dilakukan adalah menyembuhkan stroke tersebut.

Berikut adalah beberapa metode pengobatan untuk menyembuhkan lumpuh:

  • Fisioterapi, adalah terapi yang tujuannya adalah untuk mengembalikan keseimbangan tubuh sekaligus kekuatan serta fleksibilitas otot.
  • Terapi Okupasi, adalah terapi yang tujuannya untuk membantu pasien agar dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara normal.
  • Alat Bantu, juga bertujuan untuk membantu pasien dalam beraktivitas sehari-hari. Alat bantu bisa berupa kursi roda atau tongkat berjalan
  • Obat-obatan, adalah metode pengobatan yang tujuannya untuk meringankan gejala-gejala yang dialami pasien. Obat yang biasa diberikan seperti obat kortikosteroid, antidepresan, dan antikejang
  • Operasi, pada kasus yang sudah terbilang parah atau apabila lumpih disebabkan oleh kerusakan saraf, tindakan operasi mungkin perlu dilakukan guna menyembuhkan paralisis

Komplikasi Kelumpuhan

Kondisi ini tak lepas dari yang namanya komplikasi. Sejumlah komplikasi yang mungkin dialami penderita paralisis antara lain:

  • Disfungsi seksual
  • Gangguan bicara
  • Kesulitan menelan makanan
  • Depresi
  • Inkontinensia urine
  • Ulkus dekubitus
  • Gagal napas

Pencegahan Kelumpuhan

Kondisi ini tentu saja bisa dicegah, selama bukan disebabkan oleh faktor yang tidak bisa diubah seperti cacat lahir. Cara mencegah terjadinya kelumpuhan pada anggota tubuh antara lain:

  • Berhati-hati dalam melakukan aktivitas (berkendara, naik-turun tangga, dsb.).
  • Olahraga secara teratur.
  • Makan makanan bergizi.
  • Melakukan medical check-up secara rutin.

 

  1. Anonim. Paralysis. https://medlineplus.gov/paralysis.html#:~:text=Paralysis%20is%20the%20loss%20of,or%20it%20can%20be%20widespread. (Diakses pada 8 Juni 2020)
  2. Anonim. Type of Paralysis. https://www.webmd.com/brain/paralysis-types (Diakses pada 8 Juni 2020)
  3. Eske, J 2020. Paralysis: Types, causes, treatment, and support. https://www.medicalnewstoday.com/articles/paralysis (Diakses pada 8 Juni 2020)
  4. Stopler, MC. Paralysis: Symptoms and Signs. https://www.medicinenet.com/paralysis/symptoms.htm (Diakses pada 8 Juni 2020)
  5. Stubblefield, H. 2018. Paralysis. https://www.healthline.com/health/paralysis (Diakses pada 8 Juni 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi