Terbit: 10 Juni 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kelenjar adrenal adalah kelenjar kecil di kedua ginjal memiliki fungsi untuk menghasilkan hormon untuk tubuh. Jika kelenjar ini tidak menghasilkan hormon yang cukup, kemungkinan menyebabkan masalah kesehatan! Lebih lanjut simak tentang fungsi, gangguan, hingga pengobatannya.    

Mengenal Kelenjar Adrenal dan Fungsinya untuk Tubuh

Apa Itu Kelenjar Adrenal?

Kelenjar adrenal adalah kelenjar berukuran kecil berbentuk segitiga yang terletak di atas kedua ginjal. Ini menghasilkan hormon yang membantu mengatur metabolisme, sistem kekebalan tubuh, tekanan darah, respons terhadap stres, dan fungsi penting lainnya.

Kelenjar adrenal terdiri dari dua bagian, yakni korteks dan medula. Masing-masing bagian ini bertanggung jawab untuk memproduksi hormon yang berbeda.

Ketika kelenjar ini tidak menghasilkan hormon yang cukup, ini dapat menyebabkan insufisiensi adrenal (penyakit Addison). Kelenjar dapat mengembangkan nodul yang bisa jinak atau ganas. Hal ini berpotensi menghasilkan hormon tertentu dalam jumlah berlebihan yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Anatomi Kelenjar Adrenal

Kelenjar adrenal adalah bagian dari sistem endokrin, ini terdiri dari sistem kelenjar yang melepaskan hormon. Hormon-hormon beredar melalui aliran darah ke jaringan dan organ tertentu.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Kelenjar adrenal terdiri dari dua bagian utama, termasuk:

  • Korteks adrenal. Ini adalah bagian luar dari kelenjar dan melepaskan hormon, termasuk androgen (hormon seks pria) dan kortisol. Hormon yang berasal dari bagian luar kelenjar membantu mengendalikan sistem kekebalan dan metabolisme.
  • Medula adrenal. Ini adalah area bagian dalam kelenjar yang menghasilkan hormon norepinefrin dan epinefrin. Pelepasan hormon yang berasal dari korteks bagian dalam mengontrol respons stres tubuh dan biasanya sebagai respons melawan atau lari.

Fungsi Kelenjar Adrenal

Berikut ini beberapa fungsi dari kelenjar adrenal: 

1. Korteks Adrenal

Korteks adrenal menghasilkan dua kelompok utama hormon kortikosteroid – glukokortikoid dan mineralkortikoid. Pelepasan glukokortikoid terjadi karena hipotalamus dan kelenjar pituitari. Mineralkortikoid dimediasi oleh sinyal yang dipicu oleh ginjal.

Ketika hipotalamus menghasilkan corticotrophin-releasing hormone (CRH), yang merangsang kelenjar pituitari untuk melepaskan adrenal corticotrophic hormone (ACTH). Hormon-hormon ini kemudian memberi sinyal ke kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortikosteroid.

Berikut glukokortikoid yang dilepaskan oleh korteks adrenal:

  • Hidrokortison. Kebanyakan orang mengenalinya sebagai kortisol, yang mengontrol bagaimana tubuh mengubah lemak, protein, dan karbohidrat menjadi energi. Ini juga membantu mengatur tekanan darah dan fungsi kardiovaskular
  • Kortikosteron. Hormon ini bekerja dengan hidrokortison untuk mengontrol respons imun dan menekan reaksi inflamasi.

Mineralkortikoid prinsipnya adalah aldosteron, yang berfungsi menjaga keseimbangan garam dan air yang tepat sambil membantu mengontrol tekanan darah.

Ada golongan hormon ketiga yang dilepaskan oleh korteks adrenal, yaitu steroid seks atau hormon seks. Korteks adrenal melepaskan sedikit hormon seks pria dan wanita. Namun, dampaknya sering kali dibayangi oleh kadar hormon yang lebih tinggi (seperti estrogen dan testosteron) yang berasal dari ovarium atau testis.

2. Medula Adrenal

Medula adrenal tidak melakukan fungsi vital apa pun. Itu artinya, tubuh tidak membutuhkannya. Tapi ini tidak berarti medula adrenal tidak berguna.

Pelepasan hormon-hormon medula adrenal terjadi setelah sistem saraf simpatik terangsang, yang terjadi saat mengalami stres. Dengan demikian, medula adrenal membantu mengatasi stres fisik dan emosional.

Respons fight-or-flight (melawan atau lari)—proses yang muncul oleh sistem saraf simpatik ketika tubuh menghadapi situasi (stres) yang mengancam. Hormon-hormon medula adrenal berperan terhadap respons ini.

Hormon yang disekresikan oleh medula adrenal, termasuk:

  • Epinefrin: Sebagian besar orang mengenal epinefrin dengan nama lain adrenalin. Hormon ini merespons stres secara cepat dengan meningkatkan detak jantung dan mengalirkan darah ke otot dan otak. Ini juga meningkatkan kadar gula darah dengan membantu mengubah glikogen menjadi glukosa di hati. Glikogen adalah bentuk penyimpanan glukosa di hati.
  • Norepinefrin: Hormon ini juga dikenal sebagai noradrenalin, hormon yang bekerja dengan epinefrin dalam merespons stres. Namun, ini dapat menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Hal ini mengakibatkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Baca Juga: Mengenali Fungsi Kelenjar Paratiroid dan Gangguan yang Bisa Terjadi

Gangguan Kelenjar Adrenal

Ketika kelenjar ini menghasilkan terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon, penyakit dapat terjadi. Jika ada gangguan di kelenjar pituitari, yang memberi sinyal ke kelenjar kapan harus membuat hormon tertentu seperti kortisol dan aldosteron, fungsi kelenjar adrenal juga bisa terganggu.

Berbagai jenis gangguan adrenal meliputi:

  • Penyakit Addison. Ini berkembang ketika kelenjar ini tidak dapat menyuplai kortisol dan aldosteron secara memadai untuk tubuh.
  • Hiperplasia adrenal kongenital. Merupakan kelompok penyakit bawaan di mana tubuh tidak dapat membuat enzim penting dalam jumlah yang cukup, biasanya kortisol dan aldosteron.
  • Sindrom Cushing. Penyakit yang terjadi baik karena tubuh memproduksi kortisol secara berlebihan atau dari penggunaan kortikosteroid yang berlebihan seperti prednison.
  • Pheochromocytoma. Ini adalah jenis tumor langka yang terdeteksi di kelenjar, yang dapat mengeluarkan banyak hormon tertentu yang merupakan hasil dari kelenjar (katekolamin).

Gejala Gangguan Kelenjar Adrenal

Gejalanya cenderung tampak samar pada awalnya. Seiring waktu, kondisi biasanya memburuk dan menjadi lebih sering. Jika mengalami salah satu dari masalah kesehatan ini secara berulang, segera konsultasikan dengan dokter.

Tanda dan gejala gangguan kelenjar adrenal yang mungkin terjadi, termasuk:

  • Pusing.
  • Kelelahan yang berlebihan.
  • Berkeringat
  • Mual atau muntah.
  • Keinginan makan makanan yang asin.
  • Gula darah rendah.
  • Tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Haid tidak teratur.
  • Bercak hitam di kulit.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Penambahan atau penurunan berat badan.

Baca Juga: Mengenal Kelenjar Endokrin, Sistem Utama untuk Perkembangan Tubuh

Pengobatan Gangguan Kelenjar Adrenal

Ada berbagai perawatan untuk gangguan kelenjar adrenal. Ini tergantung pada diagnosis spesifik setiap orang, termasuk:

  • Obat untuk mengontrol kelebihan produksi hormon.
  • Terapi penggantian hormon untuk menggantikan kortisol atau aldosteron tubuh yang kurang.
  • Operasi untuk mengangkat satu atau kedua kelenjar adrenal, atau untuk mengangkat tumor dalam kasus pheochromocytoma.

 

  1. Anonim. Tanpa Tahun. Adrenal Glands. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/adrenal-glands (Diakses pada 10 Juni 2021)
  2. Berry, Jennifer. 2019. Adrenal glands: Functions and related disorders. https://www.medicalnewstoday.com/articles/adrenal-gland#hormones (Diakses pada 10 Juni 2021)
  3. Cherry, Kendra. What Are Adrenal Glands?. https://www.verywellmind.com/what-are-the-adrenal-glands-2794816 (Diakses pada 10 Juni 2021)
  4. Sargis, Robert M. 2015. An Overview of the Adrenal Glands. https://www.endocrineweb.com/endocrinology/overview-adrenal-glands (Diakses pada 10 Juni 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi