Kekurangan Yodium: Penyakit, Diagnosis, Cara Mengatasi

kekurangan-yodium-doktersehat

DokterSehat.Com – Yodium adalah zat yang sangat diperlukan oleh tubuh. Pasalnya, yodium yang termasuk ke dalam golongan mineral ini memiliki fungsi penting bagi tubuh. Namun, apa jadinya jika tubuh kekurangan yodium? Tentunya tubuh berpotensi mengalami sejumlah masalah kesehatan. Lantas, apa fungsi yodium? Apa akibat kekurangan yodium? Bagaimana cara mengatasi kekurangan yodium yang efektif?

Apa Itu Yodium?

Yodium adalah senyawa kimia yang masuk ke dalam kategori mineral non logam. Yodium (iodine) adalah zat yang memiliki fungsi utama untuk menghasilkan hormon tiroid, di mana medium tempat produksi hormon ini dikenal sebagai kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid letaknya ada di bagian bawah leher, persisnya di rongga pernapasan (laring).

Yodium adalah zat yang tidak diproduksi secara alami oleh tubuh, melainkan dari sejumlah jenis makanan dan bahan makanan yang mengandung yodium. Garam adalah salah satu sumber yodium yang paling populer. Kendati demikian, sumber yodium sendiri tak hanya garam, melainkan juga:

  • Ikan (tuna, salmon, cod)
  • Cumi-cumi, udang, kerang, kepiting
  • Kuning telur
  • Susu
  • Kacang kedelai
  • Daun bayam

Fungsi Yodium

Kekurangan yodium akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan tubuh. Fakta ini tak lepas dari peran yodium itu sendiri sebagai penghasil hormon tiroid, di mana hormon tiroid sendiri bertugas untuk menunjang kelancaran fungsi tubuh.

Guna meningkatkan kesadaran Anda akan pentingnya yodium sehingga terpacu untuk menghindari kondisi kekurangan yodium, berikut adalah 2 (dua) fungsi utama yodium yang perlu diketahui.

1. Mengoptimalkan Fungsi Otak

Fungsi yodium adalah untuk membantu produksi hormon tiroid di dalam kelenjar tiroid. Dengan adanya jumlah hormon tiroid yang mencukupi, hal ini tentu membawa dampak positif bagi tubuh, salah satunya mengoptimalkan fungsi otak, pun sistem saraf khususnya bagi janin dan usia anak-anak.

2. Mengendalikan Kinerja Organ Tubuh

Kekurangan yodium juga berpotensi mendegradasi kinerja organ tubuh. Pasalnya, hormon tiroid bertugas untuk memaksimalkan fungsi organ tubuh, pun mengatur metabolisme tubuh agar bisa berjalan lancar.

Akibat Kekurangan Yodium, Apa Saja?

Tubuh—dalam hal ini usus—akan menyerap yodium untuk kemudian disimpan di dalam kelenjar tiroid. Di sini, yodium yang sudah berbentuk konsentrat akan membantu kelenjar tiroid untuk memproduksi 2 (dua) jenis hormon tiroid, yakni triodotironin (T3) dan tiroksin (T4). Nah, keduanya berkaitan dengan sejumlah aktivitas, seperti pertumbuhan jaringan saraf, hormon seks, dan mengatur metabolisme tubuh.

Manakala tubuh kekurangan yodium, hormon tiroid T4 akan mengalami penurunan volume, menyebabkan tubuh harus mengaktifkan thyroid-stimulating hormone (TSH) guna menjaga keseimbangan kadar tiroid. Sayangnya, TSH ini akan memaksa kelenjar tiroid untuk bekerja ekstra sehingga menimbulkan masalah bagi tubuh.

Akibat kekurangan yodium, Anda mungkin akan mengalami sejumlah penyakit kekurangan yodium berikut ini:

1. Gondok

Gondok adalah penyakit kekurangan yodium yang paling umum dialami mereka yang kekurangan yodium.

Penyakit gondok ditandai oleh gejala khas berupa pembengkakan pada area laring akibat kelenjar tiroid yang membesar. Pembesaran kelenjar tiroid tersebut dikarenakan kurangnya kadar yodium di dalamnya, sehingga secara otomatis membuat kelenjar tersebut membesar dan tampak benjolan-benjolan (nodular).

Gondok juga bisa disertai oleh gejala-gejala lainnya, seperti:

  • Sesak napas
  • Sakit tenggorokan
  • Sulit menelan
  • Batuk

2. Kretinisme

Sementara itu, penyakit kekurangan yodium lainnya adalah kretinisme. Penyakit kekurangan yodium kretinisme umumnya terjadi pada janin yang masih berada di dalam kandungan.

Kretinisme lantas terbagi lagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:

  • Kretinisme Neurologis

Kretinisme neurologis adalah jenis kretinisme yang terjadi akibat kurangnya asupan yodium pada wanita yang tengah mengandung janin. Ciri-ciri kretinisme neurologis dapat diidentifikasi ketika anak sudah lahir, yaitu:

  • Anak tidak dapat berjalan dengan normal
  • Anak mungkin mengidap tuli
  • Anak mengalami keterbelakangan mental
  • Kretinisme Miksedema

Kalau kretinisme terjadi pada ibu hamil di usia kehamilan yang masih tergolong muda, maka kretinisme miksedema ini menyerang ibu hamil di usia kehamilan yang sudah hampir menuju waktu kelahiran (fase neonatal). Ciri-ciri kretinisme miksedema pada anak meliputi:

  • Gondok
  • Tinggi badan anak kurang dari ideal
  • Anak mengalami hiptiroidisme
  • Anak mengalami keterbelakangan menta

3. Hipotiroidisme

Fungsi yodium adalah untuk membantu kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid T3 dan T4. Akibat kekurangan yodium sudah pasti berujung pada hipotiroidisme, yakni kondisi di mana kadar hormon tiroid di dalam tubuh tidak mencukupi, padahal hormon tiroid ini memiliki tugas penting bagi kelancaran sistem organ tubuh.

Hipotiroidisme ditandai oleh sejumlah gejala, seperti:

  • Tubuh terasa lelah sepanjang hari
  • Nyeri sendi
  • Kulit kering
  • Gangguan kognitif
  • Gangguan menstruasi
  • Sembelit
  • Pelemahan detak jantung
  • Tidak kuat berada di tempat bersuhu dingin

Khusus usia anak-anak, penyakit kekurangan yodium hipotiroidisme dapat dikenali melalui sejumlah ciri atau tanda seperti:

  • Pertumbuhan tinggi badan terhambat
  • Pertumbuhan gigi terhambat
  • Keterlambatan masa pubertas
  • Gangguan mental

Sedangkan pada anak bayi, hipotiroidisme dapat dikenali dengan gejala berikut ini:

  • Pembengkakan pada wajah
  • Kulit menguning
  • Lidah yang besar
  • Sering tersedak

Segera lakukan penanganan medis manakala Anda atau si kecil mengalami hipotiroidisme. Pasalnya, penyakit akibat kekurangan yodium yang satu ini jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan sejumlah komplikasi serius, seperti penyakit jantung dan infertilisasi (utamanya pada wanita).

Diagnosis Kekurangan Yodium

Mendeteksi kekurangan yodium, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, menjadi sangat penting mengingat akibat kekurangan yodium yang ditimbulkan bisa sangat berbahaya.

Guna memastikan apakah pasien mengalami penyakit kekurangan yodium, dokter akan menegakkan serangkaian prosedur diagnosis, yakni:

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan pada pasien terkait keluhan yang dialami, seperti:

  • Apa yang dirasakan oleh tubuh?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Sudah berapa kali kondisi ini berlangsung?
  • Apakah ada riwayat keluarga yang mengalami penyakit ini?
  • Obat apa saja yang sudah dikonsumsi?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien dengan merujuk pada gejala-gejala umum daripada kekurangan yodium. Seperti adanya pembengkakan kelenjar tiroid yang dapat terlihat dari leher yang membesar.

3. Pemeriksaan Penunjang

Terakhir, dokter akan menegakkan prosedur pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis kekurangan yodium pada pasien. Prosedur pemeriksaan penunjang ini lantas terbagi menjadi:

  • Pemindaian Tiroid

Dokter akan menyuntikkan iodin radioaktif untuk mengidentifikasi respon tiroid. Setelaj itu, dokter akan melakukan pemindaian dengan ultrasonografi. Namun, prosedur in baru bisa dilakukan apabila sudah dipastikan ada peningkatan kadar hormon TSH

  • Pemeriksaan Fungsi Tiroid

Pada prosedur ini, dokter akan menganalisis kadar hormon T3, T4, dan TSH yang ada di dalam darah. Apabila pasien mengalami kekurangan yodium, umumnya kadar T3 mengalami kenaikan, T4 mengalami penurunan, dan TSH berada di angka normal. Akan tetapi, baik T3 dan T4 sama-sama terdefisiensi apabila pasien sudah berada dalam kondisi kekurangan yodium kronis.

  • Biopsi

Dokter akan mengambil sampel jaringan dari kelenjar tiroid, untuk kemudian dianalisis di laboratorium. Penggunaan ultrasonografi lazim dilakukan guna mempermudah dokter menentukan titik pengambilan sampel jaringan

  • Tes Urine

Dari pemeriksaan urine pun dokter dapat mengetahui apakah pasien mengidap kekurangan yodium atau tidak. Dokter akan meminta pasien untuk memberikan sampel urine dalam waktu 1 x 24 jam.

Pengobatan Kekurangan Yodium

Pengobatan kekurangan yodium dilakukan guna mengatasi komplikasi dan morbiditas yang ditimbulakan dari masalah kesehatan ini. Beberapa cara mengatasi kekurangan yodium meliputi:

  • Levotiroksin, yakni hormon T4 buatan yang difungsikan sebagai pengganti hormon T4 alami yang mengalami degradasi. Levotiroksin akan lebih efektif jika diberikan pada ibu hamil dan anak-anak ketimbang orang dewasa. Namun, penggunaannya harus dalam pengawasan penuh dari dokter guna menghindari terjadinya peningkatan kadar T3 dan T4 secara berlebih (tirotoksikosis)
  • Yodium Radioaktif, berfungsi untuk mengempiskan gondok yang terjadi akibat pembesaran kelenjar tiroid. Penggunaan yodium radioaktif diklaim mampu mengempiskan gondok sebesar 40 – 60 persen. Kendati begitu, cara mengatasi kekurangan yodium dengan memberikan yodium radioaktif dapat menyebabkan hipotiroidisme permanen
  • Kalium Iodida, adalah garam khusus yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit kekurangan yodium. Kalium Iodida ini masuk ke dalam kategori agen anti-tiroid. Kalium Iodida tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet, obat cair, intramuscular, hingga suplemen
  • Tiroidektomi, yakni prosedur operasi pembedahan untuk mengobati gondok yang sudah terlanjur membesar. Umumnya, cara mengatasi kekurangan yodium yang satu ini ditegakkan apabila gondok sudah menyebar sampai ke mediastinum anterior

Pencegahan Kekurangan Yodium

Cara mencegah kekurangan yodium adalah dengan mencukupi kebutuhan yodium harian Anda dan keluarga. Idealnya, angka kebutuhan yodium harian adalah sebagai berikut:

  • Bayi (0,11 – 0,13 mg/hari)
  • Anak-anak 1 – 11 tahun (0,09 – 0,12 mg/hari)
  • Dewasa (0,15 mg/hari)
  • Ibu hamil (0,22 mg/hari)
  • Ibu menyusui (0,29 mg/hari)