Terbit: 20 Mei 2020 | Diperbarui: 5 Juni 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Kekerasan seksual bisa terjadi pada semua orang, baik pria maupun wanita dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa kondisi yang membuat seseorang melakukan tindakan ini umumnya disebabkan karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Simak penjelasan lengkap mengenai jenis, dampak, hingga penanganannya.

Kekerasan Seksual: Jenis, Dampak, Penanganan, dan Pencegahan

Apa Itu Kekerasan Seksual?

Kekerasan seksual didefinisikan sebagai tindakan seksual apa pun yang dilakukan oleh satu (atau lebih) orang atas orang lain tanpa persetujuan.

Pada beberapa kasus, korban tidak dapat memberikan persetujuan untuk melakukan hubungan seks karena tidak sadar atau tidak mampu. Tindakan seksual ini merujuk pada penetrasi di lubang tubuh tubuh (mulut, vagina, atau anus) tanpa persetujuan.

Perbedaan Kekerasan Seksual dan Pelecehan Seksual

Meski terdengar sama, definisi kekerasan seksual dan pelecehan seksual di Indonesia tidaklah sama. Menurut naskah akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual oleh KOMNAS Perempuan, terdapat perbedaan di antaranya keduanya.

Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, dan/atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender dan/atau sebab lain, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan terhadap secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.

Pelecehan seksual adalah tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun nonfisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban.

Tindakan yang dimaksud termasuk juga siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, dan gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Pelecehan seksual sendiri adalah salah satu jenis dari kekerasan seksual.

Jenis Kekerasan Seksual

Selain pelecehan seksual, menurut Komnas Perempuan terdapat berbagai jenis kekerasan seksual lainnya, antara lain:

  • Perkosaan
  • Intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan
  • Eksploitasi seksual
  • Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual
  • Prostitusi paksa
  • Perbudakan seksual
  • Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung
  • Pemaksaan kehamilan
  • Pemaksaan aborsi
  • Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi
  • Penyiksaan seksual
  • Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual
  • Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan
  • Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama

Kekerasan Seksual pada Anak

Jenis kekerasan lainnya yang harus dipahami adalah kekerasan yang terjadi pada anak. Kekerasan seksual pada anak dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan biasanya pelaku kekerasan adalah orang-orang terdekatnya.

Orang dewasa yang melakukan kekerasan seksual pada anak, dalam beberapa kasus, memiliki ketertarikan seksual kepada anak-anak. Namun ketertarikan seksual tidak membuatnya untuk melakukan pelecehan. Sering kali, pelaku melakukan pelecehan pada anak untuk mendapatkan kontrol atas tubuh orang lain.

Sebagian besar korban pelecehan seksual berada di bawah usia 18 tahun. Anak-anak yang mengalami pelecehan tidak selalu melaporkannya segera. Hal ini mungkin didasari atas ancaman yang diberikan pelaku kepadanya.

Jika orang tua bingung apakah anak mendapatkan kekerasan atau tidak, berikut ini adalah tanda-tanda yang mungkin menjadi alasan untuk khawatir, antara lain:

  • Celana dalam yang sobek atau bernoda
  • Munculnya infeksi saluran kemih
  • Mimpi buruk dan kecemasan waktu tidur
  • Mengompol melewati usia yang sesuai
  • Cepat marah
  • Menarik diri dari lingkungan
  • Pengetahuan seksual yang tidak sesuai dengan usia

Dampak Kekerasan Seksual yang Bisa Dirasakan

Kondisi ini dapat memiliki efek psikologis, emosional, dan fisik pada korban. Efek ini tidak selalu mudah untuk dihadapi, tetapi dengan bantuan dan dukungan yang tepat, efeknya dapat dikelola dengan baik. Oleh karena itu, mempelajari dampaknya dapat membantu menemukan bentuk terbaik untuk memulai proses penyembuhan.

Berikut adalah berbagai dampak yang bisa terjadi pada seseorang yang mengalami kondisi ini, di antaranya:

  • Tindakan yang membahayakan diri sendiri. Kondisi ini bisa mengakibatkan seseorang melukai dirinya sendiri.
  • Infeksi menular seksual (IMS). Hal ini bisa terjadi akibat infeksi bakteri atau virus yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak vagina, anal, atau oral.
  • Serangan Panik. Ini adalah perasaan tiba-tiba akan rasa takut dan kecemasan hebat yang terjadi dalam situasi di mana mungkin tidak ada bahaya langsung.
  • Gangguan makan. Kondisi ini juga dapat memengaruhi korban dalam banyak hal, termasuk persepsi tubuh dan kemampuan untuk mengontrol.
  • Gangguan tidur. Gejala gangguan tidur dapat berupa kesulitan tidur, tidur pada waktu yang tidak biasa, dan tidur lebih lama atau lebih pendek dari biasanya.
  • Bunuh diri. Ini adalah dampak yang paling membahayakan. Pelecehan seksual yang dialami korban bisa menjadi trauma yang berkepanjangan sehingga bisa membuatnya mengambil tindakan ini.
  • Menurunnya tingkat percaya diri. Seseorang yang mengalami kondisi ini bisa membuatnya merasa ‘tidak layak’ atau ‘kotor’.
  • Mengisolasi diri. Perasaan malu yang dialami korban bisa membuatnya mengisolasi diri dari keluarga dan teman.

Berbagai Faktor yang Membuat Seseorang Melakukan Kekerasan Seksual

Kombinasi faktor individu hingga hubungan sosial berkontribusi membuat seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual. Meski begitu berbagai faktor ini bukanlah penyebab langsung karena tidak semua teridentifikasi berisiko menjadi pelaku.

Berikut adalah beberapa faktor yang bisa dikenali, antara lain:

Faktor Individu

  • Menggunakan narkoba atau pecandu alkohol
  • Pernah melakukan tindak kejahatan
  • Kurang empati
  • Agresivitas yang tinggi
  • Inisiasi seksual dini
  • Fantasi seksual koersif
  • Paparan seksual yang terlalu eksplisit
  • Permusuhan terhadap wanita
  • Hipermaskulinitas
  • Mengalami tindakan kekerasan seksual sebelumnya

Faktor Hubungan

  • Kekerasan fisik dan konflik di lingkungan keluarga
  • Sejarah masa anak-anak dari pelecehan fisik, seksual, atau emosional
  • Lingkungan keluarga yang tidak mendukung secara emosional
  • Hubungan orangtua-anak yang buruk, khususnya dengan ayah
  • Bersama dengan teman sebaya yang agresif secara seksual, hipermaskulin, dan nakal
  • Keterlibatan dalam hubungan intim yang kasar

Faktor Komunitas

  • Kemiskinan
  • Kurangnya peluang kerja
  • Kurangnya dukungan dari sistem peradilan
  • Toleransi terhadap tindakan pelecehan seksual
  • Sanksi masyarakat yang lemah terhadap pelaku

Faktor Sosial

  • Norma sosial yang mendukung kekerasan seksual
  • Norma sosial yang mendukung superioritas pria dan hak seksual
  • Norma sosial yang mempertahankan inferioritas dan kepatuhan seksual perempuan
  • Hukum dan kebijakan yang lemah terkait dengan kekerasan seksual dan kesetaraan gender
  • Tingkat kejahatan yang tinggi dan bentuk kekerasan lainnya

Cara Memberikan Dukungan pada Korban Kekerasan Seksual

Jika keluarga atau teman mengalami kondisi ini, berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Jangan menghakimi dan jangan menyalahkannya. Serangan seksual tidak pernah menjadi kesalahan korban.
  • Dengarkan ceritanya, tetapi jangan meminta detail kejadian yang dialaminya. Jangan bertanya mengapa korban tidak menghentikan tindakan tersebut, karena hal itu bisa membuatnya seolah Anda menyalahkannya.
  • Tawarkan dukungan praktis, seperti pergi bersama.
  • Hormati keputusannya. Misalnya, apakah korban ingin melaporkan kekerasan yang dialaminya pada polisi atau tidak.
  • Jangan katakan pada korban untuk melupakan kondisi yang dialaminya. Butuh waktu bagi korban untuk menghadapi perasaan dan emosinya.

Pencegahan Kekerasan Seksual

Setelah mengetahui berbagai faktor yang membuat seseorang berisiko menjadi pelaku kekerasan, hal itu dapat juga berguna untuk mengidentifikasi berbagai peluang untuk tindakan pencegahan.

Meski mencegah kekerasan seksual adalah sesuatu yang kompleks karena melibatkan banyak sektor, tujuan pencegahan adalah agar tindakan ini tidak terjadi lagi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Mendukung norma sosial yang memberikan perlindungan terhadap korban.
  • Memberikan peluang untuk bisa berdaya secara ekonomi.
  • Menciptakan lingkungan yang aman dengan meningkatkan keamanan.
  • Memberikan perawatan untuk anak-anak dan keluarga yang berisiko untuk mencegah perilaku bermasalah termasuk kekerasan seksual.

 

  1. Anonim. What is sexual assault?. https://au.reachout.com/articles/what-is-sexual-assault. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  2. Anonim. Effects of Sexual Violence. https://www.rainn.org/effects-sexual-violence. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  3. Anonim. Violence Prevention. https://www.cdc.gov/violenceprevention/sexualviolence/prevention.html. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  4. Anonim. Violence Prevention. https://www.cdc.gov/violenceprevention/sexualviolence/riskprotectivefactors.html. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  5. Anonim. Help after rape and sexual assault. https://www.nhs.uk/live-well/sexual-health/help-after-rape-and-sexual-assault/. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  6. Anonim. Sexual Assault / Abuse. https://www.goodtherapy.org/learn-about-therapy/issues/sexual-abuse. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  7. Komnas Perempuan. 15 Bentuk Kekerasan Seksual. https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/Modul%20dan%20Pedoman/Kekerasan%20Seksual/15%20BTK%20KEKERASAN%20SEKSUAL.pdf. (Diakses pada 20 Mei 2020).
  8. Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia FHUI. http://mappifhui.org/wp-content/uploads/2018/10/MaPPI-FHUI-kekerasan-seksual.pdf. (Diakses pada 20 Mei 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi