Terbit: 24 Maret 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Kejang demam adalah kejang pada anak yang disebabkan oleh lonjakan suhu tubuh dan sering kali disebabkan oleh infeksi. Kondisi ini bisa terjadi pada anak kecil dengan perkembangan normal tanpa riwayat gejala neurologis. Usia anak 6 bulan sampai 5 tahun adalah yang paling mungkin mengalami kondisi ini. Peningkatan risiko biasanya memuncak selama tahun kedua kehidupan. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Kejang Demam: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Kejang Demam?

Kejang demam adalah kondisi ketika seorang anak mengalami kejang yang dipicu oleh demam. Selain demam, kondisi ini dapat disertai pula dengan gejala seperti pilek, flu, atau infeksi telinga. Dalam beberapa kasus, seorang anak mungkin tidak demam pada saat kejang tetapi akan berkembang menjadi demam beberapa jam kemudian.

Selain kejang-kejang, kondisi ini bisa membuat anak kehilangan kesadaran, tangan dan kaki gemetar tak terkendali. Selain itu dapat pula terjadi mata berputar, tungkai terasa kaku, berkedut hanya pada sebagian tubuh seperti lengan atau kaki.

Kejang-kejang yang dialami seorang anak selama demam biasanya berada pada kisaran 39° hingga 40° Celcius dan terjadi dengan sangat cepat. Perlu diketahui juga, terdapat dua jenis kejang dengan demam yaitu kejang sederhana dan kejang kompleks. Kejang kompleks bertahan lebih lama, sedangkan kejang sederhana lebih sering terjadi.

Gejala Kejang Demam

Gejala yang bisa terlihat adalah bergetar di seluruh tubuh dan kehilangan kesadaran. Terkadang, seorang anak akan mengalami kekakuan dan kedutan hanya di satu area tubuh. Gejala lainnya adalah:

  • Demam lebih dari 38° Celcius.
  • Sentakan pada lengan dan kaki.

Sementara gejala untuk kejang sederhana biasanya berlangsung beberapa detik hingga 15 menit, tidak kambuh dalam 24 jam dan tidak spesifik untuk satu bagian tubuh. Sedangkan kejang kompleks bisa berlangsung lebih dari 15 menit, terjadi lebih dari sekali dalam 24 jam, atau terbatas pada satu sisi tubuh.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera temui dokter setelah kejang dengan demam pertama terjadi, bahkan jika hanya terjadi beberapa detik. Segera bawa anak Anda ke rumah sakit jika kejang berlangsung lebih dari lima menit atau disertai dengan:

  • Muntah
  • Leher yang kaku
  • Masalah pernapasan
  • Rasa kantuk yang ekstrem

Penyebab Kejang Demam

Biasanya, suhu tubuh yang tinggi adalah penyebab utama kondisi ini. Akan tetapi, demam ringan ternyata juga dapat memicu kondisi ini. Berikut adalah beberapa hal lain yang bisa memicu, di antaranya:

  • Infeksi

Demam yang memicu kejang biasanya disebabkan oleh infeksi virus. Pada kasus yang jarang terjadi, kejang bisa disebabkan oleh infeksi bakteri. Influenza dan virus yang menyebabkan roseola—yang sering disertai demam tinggi, tampaknya paling sering dikaitkan dengan kondisi ini.

  • Kejang Pasca Imunisasi

Risiko kejang dengan demam dapat meningkat setelah anak mendapatkan imunisasi. Ini termasuk vaksinasi difteri, tetanus, dan pertusis atau campak-gondong-rubella. Biasanya seorang anak dapat mengalami demam ringan setelah vaksinasi. Namun perlu dipahami bahwa kenaikan suhu tubuh lah yang menyebabkan kejang bukan vaksinasinya.

Faktor Risiko

Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko kejang dengan demam meliputi:

  • Anak-Anak

Kebanyakan kondisi ini terjadi pada anak-anak antara 6 bulan dan 5 tahun, dengan risiko terbesar antara 12 dan 18 bulan.

  • Riwayat Keluarga

Beberapa anak mewarisi kecenderungan untuk mengalami kondisi ini. Selain itu, para peneliti telah menghubungkan beberapa gen dengan kerentanan terhadap kejang dengan demam.

Diagnosis Kejang Demam

Dokter akan dengan cermat meninjau riwayat medis dan riwayat perkembangan anak untuk mengecualikan faktor risiko lain untuk epilepsi. Pada anak-anak yang berkembang secara normal, mengidentifikasi penyebab demam anak adalah langkah pertama setelah kejang dengan demam.

Kejang Sederhana

Seorang anak yang mendapatkan vaksinasi dan mengalami kondisi ini, tes lanjutan tidak diperlukan. Dokter dapat dapat mendiagnosis berdasarkan riwayat. Sementara pada anak yang mendapatkan imunisasi tertunda atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu, dokter dapat merekomendasikan tes berikut untuk mencari infeksi yang parah:

  • Tes darah
  • Tes urine
  • Spinal tap (lumbar puncture) diperlukan untuk mengetahui apakah anak memiliki infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis

Kejang Kompleks

Mendiagnosis kejang jenis ini, dokter mungkin merekomendasikan electroencephalogram (EEG), tes untuk mengukur aktivitas otak. Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan MRI untuk memeriksa otak jika anak memiliki:

  • Kepala yang besar
  • Evaluasi neurologis yang abnormal
  • Tanda dan gejala peningkatan tekanan di tengkorak
  • Kejang dengan demam yang berlangsung sangat lama

Pengobatan Kejang Demam

Pengobatan harus segera dilakukan saat anak mulai mengalami kejang awal. Semakin lama anak mengalami kejang, asupan oksigen ke otaknya akan berkurang, kondisi yang bisa menyebabkan penurunan kemampuan mental di saat dewasa. Sebelum bantuan datang, lakukan beberapa langkah ini jika anak masih juga mengalami kejang, antara lain:

  • Baringkan anak dipermukaan yang rata
  • Singkirkan benda-benda keras yang ada di sekitarnya
  • Kendurkan pakaian ketat yang dikenakannya

Sementara untuk menurunkan demam anak, biasanya Anda disarankan untuk mengonsumsi paracetamol. Selain itu, kompres dengan waslap atau spons bersuhu ruangan untuk mendinginkannya.

Dokter juga mungkin meresepkan obat antikejang untuk diberikan kepada anak di rumah. Hal tersebut dilakukan jika anak mengalami kejang kompleks. Satu dosis gel diazepam dimasukkan ke rektal anak biasanya akan menghentikan kejang-kejang.

Komplikasi Kejang Demam

Banyak orang tua khawatir bahwa jika anak mereka mengalami satu atau beberapa kali kondisi ini, sang anak akan mengalami epilepsi ketika mereka bertambah besar. Epilepsi adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami kejang berulang tanpa demam.

Meskipun benar bahwa anak-anak yang memiliki riwayat kondisi ini memiliki peningkatan risiko epilepsi, namun harus ditekankan bahwa risikonya masih sangat kecil.

Diperkirakan anak-anak dengan riwayat kejang sederhana memiliki peluang 1 banding 50 untuk mengembangkan epilepsi di kemudian hari. Sedangkan anak-anak dengan riwayat kejang kompleks memiliki peluang 1 banding 20 untuk mengalami epilepsi di kemudian hari.

Sementara anak yang belum pernah mengalami kondisi ini memiliki kemungkinan 1-2 banding 100 untuk mengembangkan epilepsi.

Pencegahan Kejang Demam

Jika seorang anak mengalami demam, kebanyakan orang tua akan menggunakan obat penurun demam seperti paracetamol atau ibuprofen untuk membuat anak lebih nyaman. Namun, sebuah studi mengatakan bahwa obat tersebut tidak mengurangi risiko untuk terjadinya kondisi ini.

Sebagian besar anak-anak yang rentan terhadap hal ini dapat diobati dengan obat-obatan seperti diazepam. Obat ini dapat menurunkan risiko kejang, meskipun kadang-kadang dapat menyebabkan kantuk, kurangnya koordinasi, atau hiperaktif. Setiap anak memiliki efek samping yang berbeda-beda.

 

 

  1. Febrile seizure. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522. (Diakses pada 24 Maret 2020).
  2. Febrile Seizures Fact Sheet. https://www.ninds.nih.gov/disorders/patient-caregiver-education/fact-sheets/febrile-seizures-fact-sheet. (Diakses pada 24 Maret 2020).
  3. What Are Febrile (Fever) Seizures?. https://www.webmd.com/children/febrile-seizures#1. (Diakses pada 24 Maret 2020).
  4. Wells, Diana K. 2017. What Is a Febrile Seizure?. https://www.healthline.com/health/febrile-seizure. (Diakses pada 24 Maret 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi