Terbit: 26 Januari 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Kehamilan palsu atau dalam istilah medis disebut pseudocyesis adalah kondisi dimana wanita merasa hamil, tapi sebenarnya tidak hamil. Wanita yang mengalami kondisi ini akan merasakan gejala seperti yang dialami ibu hamil, termasuk tidak haid, perut semakin besar, mual, pusing dan payudara membesar. Tapi jika diperiksa secara medis, misalnya tes urine, ternyata tidak hamil.

Kehamilan Palsu: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Kasus pseudocyesis sekitar 1 dari setiap 250 kehamilan di tahun 1940. Bahkan jumlahnya telah menurun antara 1 dan 6 kasus untuk setiap 22.000 kelahiran. Usia rata-rata wanita yang mengalami kehamilan palsu adalah 33 dan bahkan di usia 79 tahun.

Penyebab Kehamilan Palsu

Penyebab pseudocyesis belum diketahui secara pasti hingga saat ini, tetapi ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab, di antaranya:

  • Kondisi Kesehatan

Kehamilan palsu mungkin hasil dari gejala fisik dari kondisi lain seperti kanker ovarium atau hipofisis. Kondisi ini dapat menjadi penyebab peningkatan kadar hormon, perut membesar, dan terlambat menstruasi.

Riwayat depresi, masalah medis sebelumnya seperti sulit untuk hamil, dan beberapa kali keguguran juga dapat menjadi pemicunya.

  • Gangguan Psikologis

Pelecehan seksual bahkan mungkin juga menjadi pemicu, karena pelecehan dapat membuat wanita lebih rentan terhadap berbagai masalah psikologis.

Tetapi sebagian besar, pseudocyesis bukanlah suatu kondisi dengan penyebab yang mudah diketahui. Bagi sebagian orang ini adalah indikasi dari psikosis, tetapi pada yang lain bisa jadi hanya hasil dari keinginan yang sangat kuat untuk hamil.

Sementara wanita lainnya memiliki gangguan disosiatif atau kepribadian ganda, yang berarti sebagian ke kondisi mental lain sementara sebagian pemikirannya tetap rasional.

Faktor Risiko Kehamilan Palsu

Wanita yang memiliki risiko pseudocyesis, di antaranya:

  • Infertilitas.
  • Wanita yang belum hamil di usia 40 tahun ke atas.
  • Wanita yang memiliki riwayat abortus ataupun beberapa kali keguguran sebelumnya.
  • Wanita dengan kondisi emosi yang tidak stabil, terutama yang berhubungan dengan kehamilan.

Gejala Kehamilan Palsu

Sejumlah pakar medis berkeyakinan, bahwa pseudocyesis akut dapat meningkatkan hormon estrogen dan prolactin yang dapat memengaruhi perubahan fisik seperti wanita hamil.

Wanita yang mengalami kondisi ini ditandai dengan berbagai tanda kehamilan palsu sebagaimana wanita hamil, di antaranya:

  • Perut buncit, biasanya disebabkan oleh gas, lemak, feses, air seni.
  • Gangguan siklus menstruasi
  • Perasaan adanya gerakan janin
  • Perubahan pada payudara, seperti ukuran, tekstur (lembut), puting, dan produksi ASI
  • Mual dan muntah
  • Berat badan bertambah
  • Sakit seperti persalinan
  • Nafsu makan meningkat
  • Pembesaran rahim
  • Serviks Lunak

Tanda-tanda kehamilan palsu ini dapat berlangsung selama beberapa minggu, sembilan bulan, atau bahkan selama beberapa tahun.

Apa perbedaan kehamilan palsu dan kehamilan sungguhan?

Wanita yang mengalami pseudocyesis memiliki tanda-tanda fisik dan gejala kehamilan, dan percaya bahwa ia sedang hamil.

Pseudocyesis tidak memiliki tiga tanda yang dimiliki kehamilan sungguhan, seperti tidak memiliki detak jantung janin, tidak ada janin yang terlihat saat USG (Ultrasonography), dan tidak ada kelahiran bayi.

Baca Juga: 8 Tanda Bahaya Kehamilan yang Wajib Diketahui Calon Ibu

Kehamilan palsu pada pria, benarkah?

Kondisi ini juga dapat dialami oleh pria atau disebut sympathetic pregnancy. Biasanya kondisi ini terjadi pada para suami yang sangat dekat dengan istrinya dan mempunyai simpati yang berlebihan sehingga mengalami ciri kehamilan palsu yang mirip dengan kehamilan sungguhan:

  • Morning sickness
  • Emosi yang tidak menentu
  • Ngidam
  • Gangguan pencernaan
  • Perubahan nafsu makan
  • Berat badan naik
  • Diare
  • Sembelit
  • Sakit kepala
  • Sakit gigi
  • Mual
  • Pembesaran payudara
  • Pengerasan puting
  • Insomnia

Dalam beberapa kasus ekstrem, ciri kehamilan palsu pada pria seperti perut buncit, mirip dengan wanita hamil 7 bulan.

Diagnosis Kehamilan Palsu

Cara menentukan apakah wanita mengalaminya atau tidak, dokter akan mengevaluasi gejala kehamilan palsu dengan tes berikut.

  • USG. Pseudocyesis tidak terlihat adanya janin dan tidak ada detak jantung ketika dilakukan USG. Namun, terkadang dokter akan menemukan beberapa perubahan fisik yang terjadi, seperti rahim yang membesar dan serviks yang melunak. Dokter juga melakukan pemeriksaan panggul.
  • Tes urine. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kehamilan. Biasanya akan selalu negatif dalam pseudocyesis.
  • Tes darah. Pengambilan sampel darah untuk diperiksa di laboratorium, guna mendeteksi penyakit tertentu.
  • Kondisi medis tertentu mirip dengan gejala kehamilan, termasuk kehamilan ektopik, obesitas, dan kanker. Kondisi ini mungkin harus memerlukan tes.

Perawatan Kehamilan Palsu

Ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan untuk merawat kehamilan palsu. Jika kondisi disebabkan oleh beberapa alasan fisik atau fisiologis, maka harus diobati terlebih dahulu penyakit yang mendasarinya. Misalnya, ketika mengalami kista ovarium, rencana perawatan akan mencakup pengobatan, perubahan gaya hidup, dan bahkan mungkin diperlukan tindakan medis.

Jika pseudocyesis disebabkan oleh alasan mental atau psikologis, maka harus dirawat dengan bantuan seorang psikiater.

Perlu pendekatan yang lebih intensif untuk wanita yang mengalami pseudocyesis ini, baik dari segi medis (oleh dokter) maupun dari segi kejiwaannya (oleh psikiater) dan biasanya dilakukan seiring bersamaan.  

 

  1. Arora, Mahak. 2018. False Pregnancy: Reasons, Signs & Diagnosis. https://parenting.firstcry.com/articles/false-pregnancy-pseudocyesis-what-exactly-it-is/. (Diakses 26 Desember 2019).
  2. False Pregnancy (Pseudocyesis). https://www.webmd.com/baby/false-pregnancy-pseudocyesis#1. (Diakses 26 Desember 2019).
  3. Timmons, Jessica. 2016. False (Phantom) Pregnancy: Causes, Symptoms, and Treatments. https://www.healthline.com/health/pregnancy/phantom-pregnancy. (Diakses 26 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi