Terbit: 22 Februari 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Salah satu bahan makanan yang paling sering kita konsumsi adalah kecap manis. Hal ini disebabkan oleh cukup banyak menu masakan yang dibuat dengan menggunakan bahan ini. Bahkan, terkadang kita masih menambahkan kecap di makanan kita. Sebagai contoh, banyak orang yang menambahkan kecap saat makan bakso, soto, atau bahkan dijadikan campuran sambal. Sebenarnya, apakah kebiasaan mengonsumsi kecap ini bisa membahayakan kesehatan?

Kecap Manis Bisa Sebabkan Hipertensi?

Di dalam kecap terdapat kandungan natrium yang cukup tinggi

Pakar kesehatan menyebut kecap sebagai bahan makanan yang dibuat dari fermentasi kedelai. Hanya saja, terdapat bahan-bahan tambahan lainnya, baik itu rempah-rempah atau bahkan tambahan natrium. Bahan-bahan inilah yang membuat kecap ini memiliki rasa yang lebih gurih dan manis. Sayangnya, keberadaan natrium di dalam kecap yang cukup tinggi inilah yang dikhawatirkan bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan.

Bisa menyebabkan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan

Meskipun memiliki rasa manis, kecap tinggi natrium, kandungan yang biasa ditemukan di dalam garam. Sebenarnya, natrium dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan. Sayangnya, jika kita mengonsumsi natrium dengan berlebihan, maka risiko untuk mengalami peningkatan tekanan darah pun meningkat. Jika kita termasuk sering mengonsumsi kecap manis, dikhawatirkan tekanan darah akan terus melonjak dan akhirnya memicu datangnya hipertensi.

Pakar kesehatan menyebut asupan natrium maksimal harian adalah sekitar 1.500 hingga 2.300 mg setiap hari. Jika kita mengonsumsi kecap manis sebanyak satu sendok makan saja, maka kita sudah memenuhi sekitar 38 persen dari batasan asupan natrium harian tersebut. Jika kita mengonsumsinya terlalu sering atau terlalu banyak, asupan natrium bisa berlebihan dan risiko terkena hipertensi pun akan terus naik.

Dampak lain dari kebiasaan sering mengonsumsi kecap manis

Selain bisa menyebabkan hipertensi, pakar kesehatan menyebut kebiasaan mengonsumsi kecap manis juga bisa memicu dampak kesehatan lainnya.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Berikut adalah dampak-dampak tersebut.

  1. Bisa meningkatkan risiko kanker

Pakar kesehatan menyebut kecap manis memiliki kandungan chloropropanols. Kandungan ini muncul saat proses pengolahan kecap. Masalahnya adalah kandungan ini berpotensi menjadi zat beracun jika masuk ke dalam tubuh kita. Dalam dunia medis, zat ini juga dikenal dengan nama lain 3-MCPD. Uni Eropa bahkan sampai membuat peraturan untuk membatasi jumlah zat ini di dalam kecap, tepatnya hanya 0,02 miligram untuk setiap kilogram kecap. Sayangnya, kita tidak tahu seberapa banyak kandungan ini di dalam kecap yang kita konsumsi.

Jika kita mengonsumsi kecap dalam jumlah yang banyak atau terlalu sering, dikhawatirkan zat 3-MCPD yang amsuk ke dalam tubuh juga semakin banyak sehingga akan meningkatkan risiko terkena kanker.

  1. Memiliki kandungan bernama zat amin

Pakar kesehatan menyebut produk saus kedelai termasuk kecap manis cenderung memiliki bahan kimia alami bernama zat amin. Kandungan ini juga mengandung senyawa seperti histamine atau tyramine yang sayangnya bisa menyebabkan efek buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi dengan berlebihan atau terlalu sering.

Beberapa gejala dari kebanyakan mengonsumsi zat amin in iadalah mengalami sakit kepala, gatal-gatal, ruam-ruam, gangguan lambung, kepala pusing, hingga tubuh yang berkeringat dengan berlebihan.

  1. Tinggi kandungan MSG

Di dalam kecap manis terdapat kandungan MSG yang tinggi. Masalahnya adalah kandungan ini bisa menyebabkan gangguan saraf dan neurologis.

  1. Mengganggu proses penyerapan mineral dari makanan

Mengonsumsi kecap dengan berlebihan juga akan membuat proses pencernaan terganggu. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan fitat yang bisa menghambat proses penyerapan mineral dari makanan yang kita konsumsi.

Melihat fakta-fakta ini, sebaiknya memang kita membatasi asupan kecap agar tidak berlebihan.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi