Terbit: 31 Januari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Salah satu gejala infeksi saluran kemih adalah seringnya buang air kecil atau anyang-anyangan. Selain itu, saat buang air kecil juga selalu tidak tuntas dan menyebabkan rasa nyeri di perut bagian bawah meski efeknya kadang hanya sementara.

penyebab jerawat di vagina

Infeksi saluran kemih bisa terjadi kapan saja dan sering tidak disadari oleh banyak orang. Kalau Anda ingin aktivitas ini berjalan dengan lancar dan tidak terus pergi ke kamar kecil, coba hindari atau kurangi kebiasaan buruk berikut ini.

1. Sering menahan kencing
Salah satu kebiasaan buruk yang banyak dilakukan adalah sering menahan kencing. Saat Anda merasa ingin berkemih, segera pergi ke kamar mandi. Kalau Anda terus menahannya, saluran kemih akan dijadikan tempat bakteri berkembang biak sehingga peluang terjadi infeksi cukup besar.

2. Kurang minum
Saat buang air kecil adalah saat terbaik membuang bakteri melalui saluran kemih. Kalau Anda tidak minum cukup air setiap hari, kencing yang dihasilkan akan sedikit. Dampaknya, bakteri akan mudah menyebar dan menyebabkan infeksi yang membuat Anda kerap buang air kecil dan nyeri yang kadang mengganggu di area perut bawah.

3. Salah saat membasuh vagina
Membasuh vagina yang benar adalah dari depan ke belakang. Kalau membasuh dari belakang ke depan, bakteri yang ada di anus akan berpindah ke area vagina. Dampaknya, infeksi di saluran kemih akan terjadi sehingga Anda akan merasakan rasa sakit saat buang air kecil.

4. Sering berendam
Beberapa produk sabun untuk berendam di bak mandi mengandung bahan kimia yang cukup berbahaya. Kalau Anda berendam setiap hari, zat berbahaya itu bisa masuk ke saluran kemih dan menimbulkan infeksi.

5. Menggunakan pakaian dalam yang kotor
Pakaian dalam akan mudah kotor dan lembap kalau digunakan di hari yang panas. Agar bakteri tidak menyebar dan akhirnya masuk ke saluran kemih, ganti pakaian setiap hari khususnya setelah mandi dan sebelum tidur.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi