Terbit: 5 Juni 2018
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Menurunnya daya ingat, berkurangnya kemampuan berpikir dan memahami sesuatu disertai munculnya gangguan mental adalah beberapa gejala yang menandakan seseorang terkena demensia.

Doktersehat-kebiasaan-buruk-yang-memicu-demensia

Awalnya memori jangka pendek yang terganggu, kemudian disusul jangka menengah dan panjang tergantung tingkat keparahannya.

Sebuah penelitian menyebutkan jika Anda memiliki riwayat keluarga yang menderita demensia, maka Anda berisiko untuk mengalami demensia juga. Namun terdapat beberapa hal yang masih bisa dicegah untuk mengurangi hal itu.

Berikut ini adalah beberapa kebiasaan yang membuat risiko demensia semakin besar, di antaranya:

  1. Melupakan nutrisi untuk otak

Pada umumnya, hampir semua orang tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat tubuhnya lebih sehat. Akan tetapi, ketika ditanya apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan otaknya, tidak semua orang bisa menjawabnya.

“Otak membutuhkan lemak sehat, protein tanpa lemak, vitamin dan mineral untuk berfungsi dengan baik,” kata Howard Fillit, MD, dari Alzheimer’s Drug Discovery Foundation (ADDF).

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa, orang yang sering mengonsumsi lemak jenuh cenderung mengalami demensia. Oleh karena itu, ganti mentega dengan lemak sehat, seperti minyak zaitun, dan batasi asupan daging merah.

Nutrisi terbaik yang bisa Anda berikan pada otak adalah pola makan yang penuh dengan buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian.

  1. Mengabaikan penyakit kronis

Hipertensi dan diabetes yang tidak diobati adalah dua faktor risiko demensia terbesar. Menurut Dr. Fillit, penderita diabetes memiliki risiko 73 % lebih tinggi mengalami demensia. Selain itu, memiliki hipertensi di usia paruh baya juga meningkatkan risiko demensia, Alzheimer dan penyakit vaskular.

  1. Minum alkohol secara berlebihan

Minum alkohol terlalu banyak dapat membuat hilangnya memori. Beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi antara penggunaan alkohol berkepanjangan dan masalah kognitif. Selain demensia, konsumsi alkohol berlebihan juga menimbulkan masalah kesehatan lain seperti tekanan darah tinggi, stroke, dan penyakit hati.

  1. Merokok

Menurut Dr Fillit, dalam satu batang rokok terdapat lebih dari 4.700 senyawa kimia berbahaya. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang yang merokok berisiko tinggi mengembangkan semua jenis demensia. Kabar baiknya adalah jika Anda menghentikan kebiasaan ini, maka risiko demensia Anda akan mengalami penurunan.

  1. Sering menyendiri

Para periset di Brigham and Women’s Hospital menerbitkan sebuah studi yang menemukan hubungan antara perasaan kesepian, isolasi sosial dengan peningkatan beta-amyloid, protein di otak yang terkait dengan Alzheimer.

“Ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang mengungkapkan, bahwa orang yang kesepian memiliki dua kali lipat risiko Alzheimer daripada rekan mereka yang melakukan interaksi sosial,” kata Dr. Fillit. Bergabunglah dengan komunitas atau berpartisipasilah dalam acara-acara sosial untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan.

  1. Otak tidak aktif

Sama pentingnya seperti olahraga fisik, melatih pikiran adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan. Menghabiskan banyak waktu untuk bersantai cenderung membuat otak Anda tidak aktif, dan hal ini pada akhirnya akan meningkatkan risiko demensia.

“Mainkan permainan yang memerlukan pemikiran strategis seperti catur atau ikuti kelas secara online,” kata Heather Snyder, senior director of medical and scientific operations di Alzheimer Association.

Faktor Risiko Demensia

Menurut sifatnya, faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya demensia dibagi menjadi dua, yaitu faktor yang berada di luar kendali dan faktor yang bisa dikendalikan.

Faktor-faktor risiko demensia yang di luar kendali dan tidak bisa diubah meliputi pertambahan usia, riwayat kesehatan keluarga, serta masalah kesehatan seperti gangguan kognitif ringan dan sindrom Down.

Sedangkan faktor-faktor risiko demensia yang dapat dikendalikan atau dihindari meliputi kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, depresi, sleep apnea, diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, hipertensi, dan aterosklerosis (penumpukan lemak pada dinding arteri).

Mendiagnosis seseorang mengalami demensia atau tidak bukanlah perkara yang mudah karena banyak gejala yang mengindikasikan penyakit sejenis. Selain menanyakan riwayat penyakit dan kesehatan pasien serta keluarga, hal lain yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan fisik dan sejumlah tes lainnya.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi