Terbit: 18 Agustus 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Sesuatu yang berlebihan lebih sering memberikan efek buruk pada tubuh. Video pornografi memberikan hiburan kalau dilihat sesekali saja. Namun, kalau dilihat secara berlebihan dan menyebabkan pria atau wanita terobsesi dengan apa yang ada di dalamnya, kehidupan seks bisa menjadi sangat berbahaya.

7 Kebiasaan Buruk yang Muncul Akibat Menyaksikan Video Pornografi

Meski terlihat sangat nyata, video pornografi sebenarnya kumpulan banyak adegan yang disatukan dan diedit. Setiap adegan memiliki skenario sehingga bisa disesuaikan dengan fantasi dari penikmat. Nah, dari beberapa aksi yang dilakukan pada video pornografi ini ada beberapa yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata.

Berikut tujuh kebiasaan bruk yang muncul akibat menyaksikan video pornografi. Jangan tiru atau bahkan dicoba meski sesekali saja.

  1. Berhubungan seks tanpa konsens

Kalau Anda melihat video pornografi, seks selalu dilakukan begitu saja tanpa komunikasi yang intens. Seks selalu dimulai langsung dengan adegan pemaksaan yang dilakukan pria kepada wanita. Fantasi seks seperti ini memang disukai oleh banyak orang, tapi tidak diwujudkan di dunia nyata.

Seks harus didahului dengan konsens atau kesepakatan bersama. Kalau pasangan tidak melakukan kesepakatan atau cenderung memaksa, pemerkosaanlah yang akan terjadi meski dilakukan antara suami dan istri.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

  1. Berhubungan seks dengan banyak pasangan

Seks di video pornografi terlihat sangat mudah dilakukan dan bisa dilakukan kapan saja dengan orang selain pasangan. Aksi gonta-ganti pasangan sering diperlihatkan sehingga banyak orang menirunya.

Seks seharusnya dilakukan dengan pasangan jangka panjang atau pasangan yang didapatkan dari pernikahan. Berganti-ganti pasangan berisiko sebabkan penularan penyakit seks.

  1. Berhubungan seks vaginal dan anal tanpa kondom

Sebagian besar video pornografi yang beredar di pasaran tidak menggunakan kondom saat aksi penetrasi dilakukan. Kondisi ini membuat banyak orang menganggap kalau kondom tidak perlu digunakan asal melalukan coitus interruptus. Seks bagaimana pun jenisnya tetap berisiko sebabkan penularan penyakit.

  1. Seks oral tidak butuh kondom

Seks oral selalu dilakukan polosan. Banyak orang menganggap seks oral tidak menyebabkan apa-apa. Padahal seks oral juga menyebabkan gangguan pada tubuh seperti penalaran HIV, hepatitis, hingga penyakit lain seperti klamidia dan HPV.

Kalau Anda melakukan seks oral dengan pasangan yang sudah tahu kondisi kesehatannya, mungkin tidak masalah. Namun, kalau melakukan casual sex, lebih baik tetap menggunakan kondom.

  1. Tidak membutuhkan pelumas

Seks memang tidak membutuhkan pelumas kalau wanita sudah siap secara seksual. Kalau wanita tidak siap secara seksual sehingga organ reproduksinya tidak menghasilkan pelumas yang banyak, seks harus dilakukan dengan pelumas.

Pelumas digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada vagina. Kalau pria memaksakan diri untuk melalukan seks tanpa pelumas, kemungkinan wanita alami rasa sakit hingga perdarahan bisa terjadi.

  1. Seks harus lama dan menggunakan banyak gaya

Seks yang terjadi di video pornografi selalu lama dan menggunakan banyak sekali gaya. Kondisi ini menyebabkan pria terobsesi melakukan seks sangat lama padahal hal ini tidak perlu dilakukan. Seks tidak perlu sampai 30 menit lebih hingga berjam-jam.

Nikmati saja seks dengan baik. Asal pria mengalami ejakulasi tidak kurang dari 3-5 menit saja mereka sudah dipastikan tidak alami ejakulasi dini.

  1. Menggunakan ludah untuk pelumas

Pelumas sangat penting untuk seks, tapi jangan gunakan pelumas darurat berupa cairan ludah atau saliva. Cairan ludah mengandung banyak bakteri dan kemungkinan menyebabkan gangguan pada vagina cukup besar. Lakukan pemanasan intens agar wanita siap secara seksual daripada menggunakan cara-cara instan.

Inilah beberapa kebiasaan buruk yang muncul akibat sering menyaksikan video pornografi. Semoga tidak mengenai kita semua.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi