Terbit: 13 Mei 2020 | Diperbarui: 14 Mei 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter


Kateter urine adalah peralatan medis untuk pasien yang memiliki masalah pada saluran kemih atau kandung kemih. Oleh perawat, alat ini dipasang, dilepas, dan dibersihkan secara rutin untuk menghindari infeksi. Selengkapnya simak untuk mendapatkan informasi tentang definisi kateter untuk urine, jenis, siapa yang memerlukan kateter, cara memasang, cara membersihkan, hingga penjelasan tentang komplikasi di bawah ini.

kateter-urine-doktersehat

Apa Itu Kateter Urine?

Kateter adalah selang fleksibel sebagai saluran urine dari kandung kemih dan ditampung ke kantong urine. Alat medis ini tersedia dalam berbagai ukuran dan jenis. Kateter dapat terbuat dari karet, plastik PVC (polyvinyl chloride), dan silikon.

Kateter urine umumnya diperlukan ketika pasien tidak dapat mengosongkan kandung kemih. Jika kandung kemih tidak dikosongkan, urine dapat menumpuk dan menyebabkan tekanan pada ginjal. Tekanan tersebut dapat mengakibatkan gagal ginjal, yang bisa berbahaya dan mengakibatkan kerusakan permanen pada ginjal.

Biasanya, kateter adalah alat yang digunakan sampai pasien mampu buang air kecil sendiri. Sedangkan pada lanjut usia (lansia), mereka yang mengalami cedera permanen, atau penyakit parah mungkin perlu menggunakan kateter dalam waktu yang lebih lama atau bahkan permanen.

Jenis Kateter Urine

Terdapat tiga jenis kateter utama, yakni indwelling catheters, kateter eksternal, dan kateter jangka pendek. Berikut penjelasannya:

1. Indwelling Catheters (Kateter Suprapubik)

Indwelling catheters atau kateter tetap adalah kateter yang berada di kandung kemih. Kateter ini juga dikenal sebagai kateter Foley. Jenis ini dapat bermanfaat untuk jangka waktu pendek dan panjang.

Petugas medis atau perawat biasanya memasukkan kateter urine yang tetap dalam kandung kemih melalui uretra. Terkadang, perawat akan memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui lubang kecil di perut. Jenis kateter ini dikenal sebagai kateter suprapubik.

Balon kecil di ujung kateter dipompa dengan air untuk mencegah tabung keluar dari tubuh. Balon ini kemudian bisa mengempis saat kateter harus dilepas.

2. Kateter Eksternal (Kateter Kondom)

Kateter kondom adalah kateter yang diletakkan di luar tubuh. Biasanya digunakan untuk pria yang tidak memiliki masalah retensi urine tetapi memiliki cacat fungsional atau mental yang serius, seperti demensia.

Alat yang terlihat seperti kondom ini menutupi kepala penis. Sebuah selang tipis mengarah dari kondom ke kantong urine.

Kateter jenis ini biasanya lebih nyaman dan memiliki risiko infeksi yang lebih rendah daripada indwelling catheters. Kateter kondom biasanya perlu diganti setiap hari, tetapi beberapa merek dirancang untuk penggunaan yang lebih lama.

3. Kateter Jangka Pendek (Kateter Intermiten)

Seseorang mungkin hanya membutuhkan pemasangan kateter dalam jangka pendek setelah operasi sampai kandung kemih kosong. Setelah kandung kemih kosong, kateter harus dilepas. Perawat menyebutnya sebagai kateter masuk dan keluar.

Sementara penggunaan kateter urine di lingkungan rumah, pasien dilatih untuk menggunakan kateter sendiri atau dengan bantuan pengasuh. Cara ini dapat dilakukan melalui uretra atau melalui lubang yang dibuat di perut bagian bawah untuk kateterisasi.

Kondisi Medis yang Memerlukan Kateter Urine

Kateter adalah selang tipis yang dirancang khusus untuk keperluan medis. Dokter dapat menganjurkan pasien menggunakan kateter jika mengalami kondisi medis berikut ini:

  • Retensi urine atau kesulitan buang air kecil.
  • Inkontinensia urine atau sulit mengontrol buang air kecil sehingga urine keluar tanpa disadari.
  • Tidak dapat mengontrol kapan buang air kecil.

Alasan mengapa pasien mungkin tidak bisa buang air kecil sendiri termasuk:

  • Aliran urine tersumbat karena kandung kemih atau batu ginjal, pembekuan darah dalam urine, atau pembesaran kelenjar prostat yang parah.
  • Operasi pada kelenjar prostat.
  • Operasi di area genital, seperti perbaikan patah tulang pinggul atau histerektomi.
  • Cedera tulang belakang.
  • Spina bifida (cacat lahir atau kelainan pada perkembangan tulang belakang).
  • Cedera pada saraf kandung kemih.
  • Tumor dalam saluran kemih atau organ reproduksi.
  • Kondisi yang mengganggu fungsi mental, misalnya demensia.
  • Penggunaan obat-obatan yang merusak kemampuan otot kandung kemih untuk memeras yang menyebabkan urine tetap tersangkut di kandung kemih.

Baca Juga: Kateterisasi Jantung: Fungsi, Persiapan, Prosedur, dan Risiko

Cara Pemasangan Kateter Urine

Kateter adalah alat medis yang dapat dipasang oleh perawat atau tenaga medis berdasarkan anjuran dari dokter. Pemasangan selang kateter dimasukan melalui uretra hingga mencapai kandung kemih. Kemudian disematkan kantong untuk menampung urine.

Berikut prosedur pemasangan kateter urine yang benar:

  • Kencing terlebih dahulu. Pasien terlebih dahulu kencing atau mengosongkan kandung kemih.
  • Anestesi. Pasien berbaring dan mendapatkan anestesi atau bius lokal untuk mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan selama memasang kateter.
  • Selang dilumuri pelumas. Selang kateter terlebih dahulu dilapisi pelumas untuk memudahkan selang masuk lubang uretra.
  • Memasukkan selang. Selang kateter steril dimasukkan ke lubang uretra sampai ke kandung kemih sekitar 5 sentimeter.
  • Selang kateter siap digunakan. Setelah pemasangan kateter, pasien akan mudah mengosongkan kandung kemih dan bahkan tidak perlu menggunakan otot. Kateter urine memungkinkan untuk mengosongkan kandung kemih dan mengalir ke kantong urine.

Cara Membersihkan Kateter Urine

Tersedia kateter sekali pakai dan kateter yang dapat digunakan kembali. Kateter yang dapat digunakan kembali harus selalu dibersihkan untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih (ISK), sedangkan pemasangan kateter sekali pakai tersedia dalam kemasan steril, jadi hanya tubuh yang perlu dibersihkan sebelum memasukkan kateter.

Merawat dan membersihkan kateter urine jangka panjang bertujuan untuk menghindari risiko ISK dan juga dapat menyebabkan masalah lain, seperti penyumbatan.

Berikut ini beberapa langkah untuk membersihkan kateter urine:

  • Cuci di mana area yang dipasangi kateter. Cuci kulit di area di mana kateter memasuki tubuh dengan sabun dan air setiap hari.
  • Mencuci tangan. Cuci tangan dengan sabun dan air hangat sebelum dan sesudah menyentuh peralatan kateter.
  • Tetap terhidrasi. Pastikan tetap terhidrasi dengan baik, yakni minum yang cukup sehingga urine tetap berwarna pucat. Ini untuk membantu mencegah infeksi.
  • Hindari sembelit. Tetap terhidrasi dan mengonsumsi makanan berserat tinggi (seperti buah dan sayuran) untuk menghindari sembelit.
  • Hindari lekukan pada kateter. Hindari kerutan atau lekukan di kateter dan pastikan posisi kantong urine selalu berada di bawah kandung kemih. Ini untuk memastikan aliran urine tidak tersumbat.
  • Rutin mengosongkan kantong urine. Kantong urine dikosongkan setidaknya setiap delapan jam dan kapan pun kantong penuh.
  • Membersihkan kantong urine. Gunakanlah botol plastik yang berisi campuran cuka dan air atau pemutih dan air untuk membersihkan kantong urine.

Baca Juga: Infeksi Saluran Kemih: Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Komplikasi Kateter Urine

Indwelling urinary adalah penyebab utama perawatan terhadap infeksi saluran kemih (ISK). Oleh karena itu,  sangat penting membersihkan kateter secara rutin untuk mencegah infeksi.

Tanda dan gejala infeksi saluran kemih meliputi:

  • Demam
  • Meriang
  • Sakit kepala
  • Urine keruh karena nanah
  • Sensasi terbakar pada uretra atau daerah genital
  • Bocornya urine keluar dari kateter
  • Darah dalam urine
  • Urine berbau busuk
  • Nyeri punggung bawah dan pegal-pegal

Komplikasi lain dari penggunaan kateter adalah:

  • Reaksi alergi terhadap bahan yang digunakan dalam kateter, seperti lateks
  • Batu kandung kemih
  • Darah dalam urine
  • Cedera pada uretra
  • Kerusakan ginjal (dengan kateter yang menetap dalam waktu lama)
  • Septikemia, atau infeksi saluran kemih, ginjal, atau darah

 

  1. Anonim. 2020. Urinary catheter. https://www.nhs.uk/conditions/urinary-catheters/. (Diakses pada 13 Mei 2020)
  2. Anonim. 2019. Urinary catheters. https://medlineplus.gov/ency/article/003981.htm. (Diakses pada 13 Mei 2020)
  3. Anonim. Tanpa tahun. What is a catheter used for?. http://www.poiesismedical.com/what-is-a-catheter-used-for/. http://www.poiesismedical.com/what-is-a-catheter-used-for/. (Diakses pada 13 Mei 2020)
  4. Cafasso, Jacquelyn. Urinary Catheters. https://www.healthline.com/health/urinary-catheters. (Diakses pada 13 Mei 2020)
  5. Lillis, Charlotte. 2019. Uses and types of urinary catheter. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324187. (Diakses pada 13 Mei 2020)
  6. Yates, Ann. 2017. Urinary catheters 5: teaching patients how to use a catheter valve. https://www.nursingtimes.net/clinical-archive/continence/urinary-catheters-5-teaching-patients-how-to-use-a-catheter-valve-10-04-2017/. (Diakses pada 13 Mei 2020)



DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi