Kasus Sales Cantik Dimutilasi Suaminya, Dipicu Oleh Gangguan Psikologis?

nindya-korban-mutilasi-doktersehat
Photo Credit: detik

DokterSehat.Com– Sales cantik berinisial SA alias Nindya dibunuh dan dimutilasi oleh suaminya sendiri, MK. Beberapa bagian tubuhnya bahkan disebar di Curug Cigentis, Karawang. Apa penyebabnya?

Photo Credit: detik

Nindya dikabarkan dibunuh suaminya pada 4 Desember 2017 lalu. Sang suami mengaku melakukannya karena sudah tidak tahan dengan istrinya yang terus-menerus merengek meminta mobil yang belum bisa dipenuhi olehnya. Pertengkaran hebat pun terjadi dan membuat MK nekat menghabisi nyawa Nindya. Setelahnya, mayat Nindya dimutilasi, dibakar, dan kemudian bagian tubuhnya dibuang ke beberapa tempat. MK juga berusaha untuk menghilangkan jejak dengan cara membakar catatan kependudukan Nindya baik itu berupa akta kelahiran, KTP, buku nikah, dan surat-surat lainnya.

Banyak orang yang terheran-heran dengan kasus mutilasi. Logikanya, membunuh seseorang saja adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, bagaimana bisa seseorang sampai tega memutilasi seseorang, apalagi jika korbannya adalah keluarga atau orang terkasihnya sendiri. Psikolog Rika Indatri, MPsi dari Persona Consulting menyebutkan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan pembunuhan atau bahkan mutilasi.

Banyak pelaku pembunuhan dan mutilasi yang ternyata mengalami depresi dan putus asa, khususnya karena kesulitan menyelesaikan masalahnya. Dalam kasus ini, seringnya ejekan atau rengekan dari istri yang meminta mobil memang bisa jadi mengusik harga diri MK dan membuatnya putus asa. Selain itu, penumpukan masalah lain juga bisa menjadi pemicunya sehingga membuat pelaku sampai di batas kesabaran dan akhirnya melakukan tindakan keji ini.

Yang menjadi masalah adalah, saat rasa putus asa dan depresi ini sudah mencapai puncaknya, seseorang bisa melakukan hal-hal yang sudah di luar logika berpikir. Ia pun tidak lagi mampu melakukan tindakan yang benar dan akhirnya melakukan pembunuhan. Setelahnya, mutilasi biasanya dilakukan karena pelaku bingung dan ingin menghilangkan jejak. Cara inilah yang dianggap bisa menjadi solusinya.

Satu hal yang pasti, pelaku pembunuhan dan mutilasi memang harus diperiksa kondisi kejiwaannya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.