Terbit: 23 November 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Pemprov Sumatera utara telah membentuk tim demi menyelidiki kasus kelainan pada bayi yang ada di Kabupaten Mandailing Natal yang disebut-sebut terpapar bahan kimia berbahaya seperti merkuri akibat pertambangan ilegal yang ada di daerah tersebut.

Kasus Kelahiran Bayi Cacat Akibat Dugaan Paparan Merkuri di Sumut

Kelainan Bayi Akibat Paparan Merkuri di Sumatera Utara

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Alwi Mujahit Hasibuan menyebut Gubernur Edi Rahmayadi sudah membentuk tim khusus demi menyelidiki apakah ada kaitan antara tambang ilegal dengan kecacatan pada bayi-bayi yang muncul di Kabupaten Mandailing Natal.

“Setahu kita, sepertinya hal ini memang terkait dengan tambang ilegal tersebut,” ucap Alwi.

Sebagai informasi, dalam dua tahun belakangan, setidaknya enam bayi yang terlahir di Kabupaten Mandailing Natal mengalami kelainan dan kecacatan yang sangat tidak biasa seperti terlahir tanpa tempurung kepala, otak yang berada di luar tempurung kepala, terlahir dengan mata satu, usus yang berada di bagian luar perut, tidak adanya tulang rusuk, hingga tidak adanya kulit pada perut sehingga organ dalam pun tidak terlindungi.

Kasus terbaru adalah bayi yang terlahir dengan kondisi otak ada di luar tempurung kepala. Hanya saja, pada 18 November 2019, bayi ini meninggal dunia.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

“Total ada enam bayi yang lahir dengan kelainan di wilayah tersebut,” ucap Alwi.

Dinkes Sumatera Utara bersama dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) menyebut mereka sudah melakukan pemeriksaan pada jumlah merkuri pada air yang dipakai untuk kebutuhan masyarakat di Mandailing Natal. Hanya saja, hasilnya memang belum keluar.

“Kami mengecek kandungan merkuri pada air yang dipakai masyarakat karena dugaan paling kuat pemicu dari kelahiran bayi-bayi dengan kondisi tidak normal tersebut adalah bahan kimia ini. Tak hanya bisa menyebabkan kecacatan lahir, merkuri memang bisa memberikan dampak kesehatan lain yang lebih besar, termasuk dalam hal membuat risiko kanker meningkat,” lanjut Alwi.

Sebelumnya, Bupati Mandailing Natal, Dahlan Nasution telah mengirim surat ke Gubernur Edi Rahmayadi yang isinya meminta bantuan pengusutan kasus kelahiran lima bayi di daerahnya yang terlahir dalam kondisi cacat dalam dua tahun belakangan. Dahlan yakin hal ini terkait dengan pertambangan ilegal yang menggunakan bahan kimia merkuri. Dahlan juga berencana untuk menutup pertambangan tersebut jika memang terbukti menjadi pemicu kasus ini.

Posisi pertambangan ini memang dekat dengan perumahan warga sehingga dianggap bisa mencemari air yang dikonsumsi oleh warga sekitar dan menyebabkan dampak kesehatan yang tidak bisa disepelekan.

Mengenal Bahaya Paparan Merkuri bagi Kesehatan

Merkuri juga kita kenal sebagai air raksa. Sejenis logam ini bisa ditemukan di berbagai macam benda seperti batuan atau biji tambang. Bahkan, di dalam tanah, air, dan udara juga terdapat kandungan ini meskipun jumlahnya biasanya rendah. Masalahnya adalah, akibat proses pertambangan, merkuri bisa mencemari lingkungan di sekitarnya.

Selain itu, banyak produk kecantikan yang ternyata juga mengandung merkuri demi membuat kulit menjadi lebih cerah. Masalahnya adalah hal ini bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

Pakar kesehatan menyebut dampak dari merkuri jika sering terpapar pada kulit adalah penipisan lapisan kulit, menyebabkan gangguan saluran pencernaan, sistem saraf, serta ginjal. Dampak lainnya adalah merusak organ-organ penting tubuh seperti otak, jantung, ginjal, hingga sistem pernapasan.

Merkuri juga bisa menyebabkan dampak kesehatan bagi anak-anak, bayi, dan ibu hamil. Jika sampai ibu hamil sering terpapar bahan kimia ini, maka risiko untuk mengalami gangguan kehamilan atau kecacatan lahir pada bayi yang dikandungnya akan semakin meningkat.

 

Sumber:

  1. Anonim, 2019. Mercury and health. who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/mercury-and-health (Diakses pada 23 November 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi