Mengenal Lebih Jauh Apa Itu Kanker Nasofaring

Doktersehat-kanker-nasofaring
Photo Credit: Flickr.com/Erica

DokterSehat.Com – Kanker hidung atau juga disebut kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala berupa benjolan pada tenggorokan, penglihatan kabur, hingga kesulitan membuka mulut.

Untuk mendiagnosis kanker nasofaring secara dini sangatlah sulit, karena tumor ini baru menimbulkan gejala pada stadium-stadium akhir. Gejala-gejala pada stadium awal penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit lainnya.

Selain itu, letak dari tumor tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di dasar tengkorak, sukar sekali dilihat jika bukan dengan ahlinya. Presentase untuk bertahan hidup dalam 5 tahun juga terlihat mencolok, hal ini dilihat dari stadium I (76%), stadium II (50%), stadium III (38%) dan stadium lanjut atau IV (16,4%).

Penyebab Kanker Nasofaring

Penyebab kanker nasofaring masih belum dapat diketahui dengan pasti dan merupakan multifaktor, seperti virus Epstein-Barr (VEB), genetik, diet, lingkungan, dan kebiasaan merokok. Virus Epstein-Bar ini juga terdapat pada penyakit lain yang bukan kanker.

Tapi sudah hampir dipastikan bahwa penyebab dari kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar antivirus untuk virus Epstein Barr didapatkan cukup tinggi.

Penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki walaupun alasannya belum dapat dibuktikan hingga saat ini. Hal lain yang memengaruhi adalah faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet, masakan yang terlalu panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan seperti orang Eskimo yang mengawetkan ikannya dengan menggunakan nitrosamine.

Tentang faktor keturunan sudah banyak diteliti tetapi hingga sekarang belum dapat ditarik kesimpulan. Satu hal lagi yang penting diketahui adalah bahwa penyakit ini sering kali menyerang masyarakat dengan golongan sosial yang rendah, hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan dan lingkungan hidup di sekitar orang-orang tersebut.

Faktor risiko timbulnya kanker nasofaring

  • Bahan makanan yang menggunakan bahan pengawet, baik yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diasap.
  • Makanan panas atau bersifat merangsang selaput lendir, seperti alkohol, asap rokok, asap minyak tanah, asap kayu bakar, atau asap obat nyamuk.
  • Udara yang penuh asap di lingkungan kerja atau di rumah.

Kanker nasofaring adalah kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung, di belakang langit-langit rongga mulut, dan sangat mudah menyebar ke mata, telinga, kelenjar leher, dan otak.

Gejala Kanker Nasofaring

Infeksi primer virus Epstein Barr muncul pada tahun-tahun pertama kehidupan dan tanpa gejala. Setelah terinfeksi, virus bertahan seumur hidup tanpa menimbulkan gejala berarti, atau muncul pada gejala kanker nasofaring apabila ditunjang oleh faktor-faktor yang memengaruhi.

Kanker nasofaring pada stadium dini sering kali sulit diketahui karena letaknya yang tersembunyi di belakang rongga hidung atau di belakang atas langit-langit rongga mulut. Oleh sebab itu kebanyakan kanker nasofaring diketahui saat stadium sudah lanjut.

Gejala dini, di antaranya:

  • Pada telinga berupa suara berdengung dan terasa penuh pada satu sisi tanpa disertai rasa sakit sampai dengan pendengaran berkurang.
  • Pada hidung berupa mimisan sedikit dan berulang, ingus bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus, dan pilek di satu sisi.

Gejala berlanjut, di antaranya:

  • Leher: kelenjar getah bening leher membesar.
  • Mata: juling, penglihatan ganda, kelopak mata menutup pada sisi yang terkena.
  • Kepala: nyeri dan sakit kepala.

Gejala klinis karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:

  • Gejala nasofaring, gejala ini dapat berupa perdarahan melalui hidung yang ringan hingga berat, atau sumbatan pada hidung.
  • Gejala telinga, ini merupakan gejala dini yang timbul karena asal tumor dekat sekali dengan muara tuba eustachius, sehingga pembesaran sedikit pada tumor akan menyebabkan tersumbatnya saluran ini dan menimbulkan gejala pada telinga seperti, telinga nyeri, telinga berdenging, dan rasa tidak nyaman.
  • Gejala mata, pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di otak, salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda.
  • Gejala di leher, gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker nasofaring berupa pembesaran atau benjolan di leher.

Nasofaringoskopi atau nasoendoskopi adalah prosedur di mana dokter melihat bagian dalam nasofaring menggunakan metode endoskopi dan alat khusus bernama nasofaringoskop.

Nasofaringoskop adalah alat berupa selang kecil yang dilengkapi dengan kamera. Alat tersebut kemudian dimasukkan ke dalam nasofaring melalui hidung. Kamera yang ada pada nasofaringoskop akan menghasilkan gambar pada monitor, sehingga memudahkan dokter dalam mengamati kondisi nasofaring.

Selain itu, diagnosis lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker nasofaring dengan melakukan biopsi nasofaring. Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan dari mulut. Tiga bentuk tersering dari karsinoma nasofaring adalah karsinoma sel squamosa, karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma tidak berdiferensiasi.

Pengobatan Kanker Nasofaring

Terdapat berbagai cara mengobati kanker nasofaring antara lain: radioterapi, operasi dan kemoterapi. Radioterapi merupakan terapi paling efektif, setiap pasien yang pada waktu diagnosis belum menunjukkan metastasis multipel harus terlebih dulu menerima radioterapi, atau radioterapi plus kemoterapi.

Bila lesi relatif terbatas, tanpa penyebaran ke klavikula ke bawah, metastasis ke kelenjar limfe servikal kurang dari 8 cm, dapat dilakukan radioterapi radikal. Bila terdapat satu metastasis jauh atau kelenjar limfe servikal lebih besar dari 8 cm dapat dilakukan radioterapi paliatif.

Karena umumnya kanker nasofaring adalah karsinoma sel skuamosa diferensiasi buruk atau tidak berdiferensiasi, derajat keganasan tinggi, cepat pertumbuhannya, maka sering kali lebih peka terhadap kemoterapi dibandingkan karsinoma sefaloservikal lain.

Dengan kemoterapi obat tunggal angka remisi sekitar 30%, dengan kemoterapi kombinasi dapat mencapai 66%. Regimen kemoterapi kombinasi yang sering digunakan adalah PF, yaitu cisplatin ditambah fluorourasil, 21-28 hari sebagai satu kuur. Ditambah kalsium folinat untuk meningkatkan efek terapi.

Operasi bukan pilihan pertama pada karsinoma nasofaring, metode ini umumnya hanya digunakan terhadap lesi yang tersisa pasca kemoterapi atau radioterapi.

Mencegah Kanker Nasofaring

  • Ciptakan lingkungan hidup dan kerja yang sehat.
  • Kurangi makanan yang diawetkan atau menggunakan zat pengawet.
  • Hindari polusi udara, seperti zat-zat dari gas kimia, asap industri, dan sebagainya.
  • Ubahlah gaya hidup Anda dengan gaya hidup sehat, berpikir positif, cukup istirahat, berolahraga secara teratur.

Kanker nasofaring biasanya diobati dengan radioterapi. Ada dua jenis radioterapi, radioterapi eksternal menggunakan mesin di luar tubuh. Radioterapi internal menggunakan zat radioaktif yang terbungkus dalam jarum, biji, kawat, ataupun kateter yang ditempatkan langsung di dalam organ yang terkena kanker. Jenis radioterapi yang digunakan bergantung pada jenis dan stadium kanker nasofaringnya.

Intensity-modulated radiation therapy (IMRT) adalah radioterapi 3 dimensi yang pengoperasiannya menggunakan komputer teknologi tinggi. Berbeda dengan radioterapi biasa, penggunaan IMRT dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, karena tidak terlalu menyebabkan xerostomia (mulut kering) pasca pengobatan.

Radioterapi eksternal terhadap kelenjar tiroid (pituitary) dapat mengubah cara mereka bekerja. Dokter mungkin akan melakukan tes kelenjar tiroid sebelum dan sesudah terapi untuk memastikan mereka berfungsi baik.

Sebelum radioterapi, pasien juga disarankan untuk memeriksa kesehatan gigi dan gusinya serta menuntaskan perbaikan gigi/ gusi sebelum radioterapi dilakukan. Kesehatan gigi dan gusi amat penting dijaga untuk mencegah rasa sakit yang tidak perlu, yang biasanya muncul pasca radioterapi.

Pada kasus kanker nasofaring yang tidak berespons terhadap radioterapi, operasi pembedahan dapat dilakukan. Dokter mungkin merasa perlu untuk mengangkat kelenjar getah bening serta jaringan lain di leher yang terkena tumor. Kemoterapi biasanya dilakukan bila kanker nasofaring sudah bermetastase ke organ lain.