Kanker Esofagus: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan

kanker-esofagus-doktersehat

DokterSehat.Com– Sakit tenggorokan akibat infeksi virus atau bakteri mungkin umum terjadi, yang menyebabkan penderitanya merasakan sakit saat minum atau menelan. Namun, bagaimana jika itu tanda kanker esofagus atau kanker kerongkongan? Tentu penyakit ini termasuk yang patut diwaspadai bagi kesehatan Anda! Selengkapnya simak penjelasan tentang kanker kerongkongan hingga pencegahannya di bawah ini.

Apa Itu Kanker Esofagus?

Kanker esofagus adalah penyakit kompleks yang berkembang ketika kanker terbentuk di kerongkongan atau esofagus. Kerongkongan adalah tabung berotot dan berongga yang berfungsi sebagai penghubung makanan dari tenggorokan ke perut.

Kanker ini mulai berkembang pada bagian lapisan dalam dinding kerongkongan (mukosa) dan dapat menyebar ke seluruh lapisan esofagus lainnya, dan bahkan menyebar ke bagian tubuh lainnya (metastasis), seperti hati, lambung, paru-paru, dan bagian tubuh lainnya. Kanker esofagus dapat diderita oleh semua orang, namun kebanyakan dialami kaum pria daripada kaum wanita.

Kanker esofagus termasuk dalam jajaran penyakit penyebab kematian ke-6 di dunia. Kebiasaan merokok, minum alkohol, masalah gizi, dan kenaikan berat badan (obesitas), diduga menjadi faktor penyebabnya.

Nah, sekarang  sudah tahu apa itu kanker esofagus, simak pula jenis, penyebab kanker esofagus hingga pencegahannya di bawah ini.

Jenis Kanker Esofagus

Terdapat beberapa jenis kanker esofagus, dua jenis utama dari kanker ini berkembang berdasarkan dua jenis sel yang melapisi kerongkongan, di antaranya:

1. Karsinoma Sel Skuamosa

Kanker yang dimulai pada sel skuamosa disebut karsinoma sel skuamosa, yang dapat terjadi di sepanjang kerongkongan, tetapi paling sering di kerongkongan bagian leher dan di dua pertiga atas rongga dada.

2. Adenokarsinoma

Sementara kanker yang tumbuh pada sel kelenjar – sel yang memproduksi lendir –  dinamai adenokarsinoma. Jenis kanker ini sering terjadi di kerongkongan bagian bawah.

Sebelum adenokarsinoma berkembang, sel kelenjar harus mengganti area sel skuamosa, yang terjadi pada kerongkongan Barrett (sel yang melapisi kerongkongan luka). Kondisi ini terjadi di kerongkongan bagian bawah, tempat adenokarsinoma mulai berkembang.

3. Jenis Kanker Langka Lainnya

Selain kedua jenis kanker tersebut, jenis kanker lainnya juga dapat berkembang di kerongkongan, seperti melanoma, sarkoma, dan limfoma. Tetapi, beberapa jenis kanker ini jarang terjadi.

Penyebab Kanker Esofagus

Belum diketahui secara persis apa yang menyebabkan kanker kerongkongan. Tetapi, beberapa faktor risiko diduga menjadi penyebab kanker esofagus. Para ilmuwan meyakini  bahwa beberapa faktor risiko, seperti merokok atau minum alkohol, dapat merusak DNA dalam sel di lapisan kerongkongan, sehingga menyebabkan kanker esofagus.

Kondisi lainnya yang terjadi pada lapisan esofagus, seperti iritasi jangka panjang pada refluks, esofagus Barrett, achalasia, Plummer-Vinson syndrome, atau jaringan parut akibat menelan alkali, juga menjadi penyebab kelainan atau mutasi pada DNA.

Mutasi DNA menyebabkan sel abnormal berkembang lebih cepat daripada sel normal. Kondisi ini juga dapat menghambat sel-sel abnormal mati, yang pada akhirnya menumpuk dan menjadi tumor pada kerongkongan.

Faktor Risiko Kanker Esofagus

Meski penyebab kanker esofagus secara persis belum diketahui, terdapat berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kerongkongan, di antaranya:

1. Jenis Kelamin

Pria mungkin 3 hingga 4 kali lebih terkena kanker kerongkongan dibandingkan wanita.

2. Usia

Mereka yang berusia antara usia 45 dan 70 memiliki risiko tertinggi terhadap kanker kerongkongan.

3. Konsumsi Tembakau atau Merokok

Menggunakan berbagai produk tembakau, seperti rokok, cerutu, dan tembakau kunyah meningkatkan risiko kanker esofagus, terutama karsinoma sel skuamosa.

4. Alkohol

Sering minum minuman beralkohol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko karsinoma sel skuamosa, terutama jika minum sambil menggunakan tembakau, seperti merokok.

5. Esofagus Barrett

Adalah kondisi yang dapat berkembang penderita penyakit refluks gastroesofageal kronis (GERD) atau radang kerongkongan yang disebut esophagitis, bahkan ketika tidak menimbulkan gejala mulas kronis. Kerusakan lapisan kerongkongan menyebabkan sel-sel skuamosa pada lapisan kerongkongan menjadi jaringan kelenjar.

Penderita esofagus Barrett lebih mungkin mengembangkan adenocarcinoma dari esofagus, tetapi risiko kanker esofagus masih cukup rendah.

6. Pola Makan

Kurang mengonsumsi buah, sayuran, atau vitamin dan mineral tertentu dapat meningkatkan risiko kanker esofagus.

7. Obesitas

Adalah kelebihan berat badan (obesitas) dan terlalu banyak lemak tubuh dapat meningkatkan risiko terkena adenokarsinoma esofagus.

8. Air Alkali

Jika anak-anak secara tidak sengaja menelan alkali, kemungkinan memiliki peningkatan risiko karsinoma sel skuamosa. Air alkali terdapat dalam beberapa produk pembersih, seperti pembersih saluran air.

9. Achalasia

Adalah kondisi di mana cincin otot bawah esofagus tidak rileks saat menelan makanan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko karsinoma sel skuamosa.

Baca juga: Striktur Esofagus: Penyebab, Gejala, Pencegahan, dan Cara Mengatasi

Gejala Kanker Esofagus

Diagnosis kanker esofagus biasanya ditemukan berdasarkan munculnya gejala. Tetapi,  sebagian besar kanker ini tidak menimbulkan gejala sampai mencapai stadium lanjut. Berikut gejala kanker esofagus yang patut dikenali:

1. Kesulitan Menelan

Gejala kanker esofagus yang pertama adalah perasaan seperti makanan tersangkut di tenggorokan, dada, atau bahkan tersedak. Sulit menelan atau dalam bahasa medis disebut disfagia ini awalnya biasanya ringan, kemudian memburuk seiring waktu seiring pembukaan kerongkongan semakin kecil.

Guna membantu menelan makanan melalui kerongkongan, tubuh membuat lebih banyak air liur. Kondisi ini menyebabkan beberapa orang terganggu karena produksi lendir atau air liur yang banyak dan kental.

2. Nyeri Dada

Penderita kanker ini terkadang merasa sakit di bagian tengah dada. Sementara beberapa  orang lainnya merasakan tekanan atau sensasi terbakar di dada. Gejala kanker esofagus ini kebanyakan disebabkan oleh kondisi selain kanker, seperti mulas, sehingga jarang tampak  sebagai gejala bahwa seseorang menderita kanker.

Jika ukuran kanker cukup besar dan menghalangi makanan ke kerongkongan, menelan makanan akan terasa menyakitkan. Kondisi ini dapat berlangsung beberapa detik setelah menelan, ketika makanan atau cairan sampai pada tumor dan sulit dilewati.

3. Berat Badan Turun

Sekitar setengah dari penderita kanker esofagus mengalami penurunan berat badan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kondisi ini terjadi karena kesulitan menelan yang membuat penderitanya tidak bisa makan dengan lancar. Faktor-faktor lain seperti nafsu makan menurun dan peningkatan metabolisme dari kanker.

Selain yang telah dijelaskan di atas, berikut gejala kanker esofagus lainnya yang juga patut  diwaspadai:

  • Batuk kronis
  • Suara serak
  • Cegukan
  • Muntah
  • Sakit tulang
  • Pendarahan di kerongkongan.

Mengalami salah satu atau lebih dari gejala kanker esofagus di atas tidak berarti Anda menderita kanker esofagus. Tetapi, beberapa gejala di atas mungkin disebabkan kondisi lain.

Jika menderita kesulitan menelan, segera periksakan ke dokter untuk mencari tahu penyebab dan pengobatannya.

Baca juga: Varises Esofagus: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Komplikasi Kanker Esofagus

Kanker kerongkongan dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Namun, jika gejala kanker esofagus segera mendapatkan penanganan, komplikasi yang terkait dengan kanker kerongkongan ini dapat diatasi. Berikut komplikasi yang paling umum dari kanker kerongkongan:

1. Fistula Trakeo-Esofagus

Fistula adalah lubang yang terbentuk di antara tenggorokan dan kerongkongan. Lubang-lubang ini memungkinkan makanan dan minuman keluar dari tenggorokan dan pada akhirnya masuk ke paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala tersedak dan batuk saat menelan.

Fistula tracheo-esofagus dapat diatasi dengan pembedahan atau menempatkan stent, tabung kecil yang menutupi fistula di kerongkongan untuk menghalangi makanan keluar dari tenggorokan.

2. Anemia

Jika kanker menyebabkan pendarahan hebat, mungkin dapat menyebabkan anemia. Gejala anemia termasuk pucat dan kelelahan. Anemia pada pada penderita kanker esofagus dapat diatasi dengan transfusi sel darah merah. Selain pendarahan, kemoterapi juga dapat menyebabkan anemia.

3. Penurunan Berat Badan

Kemungkinan berat badan turun jika tumor pada kerongkongan tumbuh terlalu besar, kondisi ini dapat menghambat makanan dari kerongkongan ke perut. Kanker esofagus juga dapat mengganggu metabolisme, yang memicu penurunan berat badan secara signifikan.

4. Pneumonia

Jika tumor menghalangi esofagus dan menyebabkan makanan dan cairan dari ke tenggorokan ke perut terhambat, kondisi ini juga dapat menyebabkan aspirasi pneumonia — infeksi paru-paru yang disebabkan karena menghirup benda asing.

5. Metastasis

Katika kanker esofagus pada tahap stadium lanjut, tumor dapat menyebar atau bermetastasis ke bagian tubuh lainnya. Awalnya, kanker esofagus menyebar ke kelenjar getah bening dan organ-organ di sekitar esofagus, dan pada akhirnya ke seluruh tubuh, seperti hati, paru-paru, dan bahkan otak.

Diagnosis Kanker Esofagus

Biasanya dokter akan memeriksa orang yang memiliki gejala kanker esofagus dan bertanya secara lengkap. Dokter dapat merujuk orang tersebut ke spesialis. Dokter akan menganjurkan tes diagnostik berikut:

1. Endoskopi

Dokter memasukan tabung panjang (fleksibel) dan tipis melalui mulut ke kerongkongan, dan menuju perut. Endoskopi dilengkapi lampu dan kamera di ujungnya, sehingga dokter dapat melihat gambar pada layar dan menentukan apakah ada tumor atau kelainan.

2. Biopsi

Jika endoskopi menunjukkan hasil yang tidak biasa, Dokter dapat mengambil sampel jaringan. Ahli patologi kemudian memeriksa sampel menggunakan mikroskop, dan kemudian menentukan apakah ada sel kanker atau tidak.

3. Tes Barium Swallow

Prosedur ini mengharuskan pasien minum cairan yang mengandung barium. Barium akan muncul pada rontgen. Teknisi akan mengambil beberapa gambar x-ray secara berkala dan akan mengeluarkan berbagai penghalang yang menyebabkan tumor.

4. Ultrasonografi Endoskopi

Prosedur ini biasanya dilakukan bersamaan dengan endoskopi bagian atas. Saat USG, gelombang suara dapat memberikan gambaran dinding esofagus dan kelenjar getah bening.

Selama ultrasonografi endoskopi, pemeriksaan endoskopi dengan ultrasonografi terpasang yang menghasilkan gelombang suara dimasukkan ke dalam kerongkongan melalui mulut.

USG digunakan untuk mengetahui apakah tumor tumbuh di dinding kerongkongan, ukuran tumor, dan apakah kanker menyebar ke kelenjar getah bening. USG juga digunakan untuk membantu mendapatkan sampel jaringan dari kelenjar getah bening.

5. CT Scan

CT scan lakukan mendapatkan gambar bagian dalam tubuh menggunakan sinar-x yang diambil dari sudut berbeda. Komputer dapat menggabungkan gambar-gambar tersebut menjadi gambar 3 dimensi lengkap yang menunjukkan adanya kelainan atau tumor.

CT scan juga dapat mengukur ukuran tumor. Sebelum pemindaian untuk menghasilkan gambar yang detail, biasanya zat warna khusus diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah.

6. MRI

Magnetic Resonance Imaging (MRI) dilakukan menggunakan medan magnet untuk menghasilkan gambar tubuh yang detail. MRI dapat digunakan untuk mengukur ukuran tumor. MRI juga menggunakan zat warna khusus menghasilkan gambar yang lebih jelas.

7. PET

Positron emission tomography (PET) scan adalah pemindaian yang biasanya dikombinasikan dengan pemindaian CT scan, yang disebut PET-CT. Pemindaian PET adalah prosedur untuk menghasilkan gambar organ dan jaringan dalam tubuh.

Ketika melakukan PET, sedikit zat gula radioaktif disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Zat gula ini diserap sel-sel yang menggunakan energi paling banyak.

Kanker cenderung menggunakan energi secara aktif, sehingga menyerap lebih banyak zat radioaktif. Pemindaian kemudian mendeteksi zat tersebut untuk menghasilkan gambar organ bagian dalam tubuh.

Stadium Kanker Kerongkongan

Kanker kerongkongan berkembang dalam lima tahap atau stadium, semakin tinggi stadium, semakin tinggi tingkat keparahan kankernya.

Stadium 1

Tumor kanker kerongkongan stadium 1 berukuran kecil, sekitar 7 sentimeter atau kurang, dan terbatas pada kerongkongan.

Stadium 2

Tumor kanker kerongkongan stadium 2 tumbuh lebih besar dalam kerongkongan. Pada stadium ini, tidak ada bukti penyebaran kanker ke kelenjar getah bening atau bagian yang lainnya.

Stadium 3

Tumor kanker kerongkongan stadium 3 telah tumbuh di luar kerongkongan dan dapat menyebab ke jaringan atau organ di dekatnya. Kanker mungkin tidak akan menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

Stadium 4

Tumor kanker kerongkongan stadium 4 dapat memiliki ukuran berapa pun dan tumbuh di luar kerongkongan. Penyakit ini mungkin telah menjalar ke kelenjar getah bening atau bagian tubuh yang jauh seperti hati atau rongga perut.

Pengobatan Kanker Esofagus

Cara mengobati kanker esofagus tergantung pada beberapa faktor, termasuk stadium dan luasnya kanker. Ahli kanker esofagus mungkin akan merekomendasikan pilihan perawatan berdasarkan diagnosis dan kebutuhan kondisi kesehatan Anda. Perawatan untuk kanker esofagus di antaranya:

1. Imunoterapi

Cara mengobati kanker esofagus yang pertama menggunakan obat imunoterapi, yang dirancang agar sistem kekebalan tubuh mendeteksi dan menyerang sel kanker.

Checkpoint inhibitors dapat menghalangi reseptor protein spesifik pada permukaan sel kanker atau sel imun. Menghalangi reseptor-reseptor dapat mencegah sel-sel kanker mengirimkan sinyal yang memungkinkan sel sembunyi dari sistem kekebalan tubuh.

Checkpoint inhibitors dan perawatan imunoterapi lainnya dapat digunakan pada tumor esofagus dengan perawatan lainnya, seperti pembedahan atau kemoterapi.

Tetapi, imunoterapi tidak dianjurkan untuk semua pasien dan respons terhadap pengobatan dapat bervariasi.

2. Terapi Target

Obat terapi yang ditargetkan bisa dianjurkan pada penderita kanker esofagus tertentu untuk mengincar protein spesifik yang dapat membantu kanker berkembang.

Terapi target ini sebagai alternatif untuk pembedahan atau sebaga cara mengobati kanker esofagus lanjut yang belum merespons perawatan lainnya.

3. Gastroenterologi

Prosedur gastroenterologi umumnya untuk kanker esofagus, di antaranya:

  • Ultrasonografi Endoskopi (EUS)

EUS dapat memungkinkan dokter melihat gambar esofagus berkualitas tinggi dan memberikan perawatan langsung ke tumor.

  • Reseksi Mukosa Endoskopik (EMR)

Prosedur ini bertujuan untuk menghilangkan kanker stadium sangat dini di kerongkongan. EMR dapat digunakan selama proses diagnosis, dalam beberapa kasus. Saat melakukan prosedur EMR, tabung tipis (endoskop) dimasukkan ke dalam tenggorokan. Endoskop memiliki instrumen yang disematkan pada ujungnya untuk mengangkat tumor.

  • Cryotherapy

Cara mengobati kanker esofagus yang satu ini menggunakan nitrogen cair untuk membekukan dan membunuh sel kanker. Ini adalah cara untuk mengecilkan tumor. Prosedur ini juga dapat membantu penderita kanker esofagus bisa menelan makanan dengan baik.

  • Balon Dilatasi

Adalah alat yang digunakan untuk menghilangkan penyumbatan pada kerongkongan.

  • Menyematkan Stent

Dokter mungkin akan menyematkan stent di kerongkongan untuk membantu pasien menelan dengan baik. Stent dimasukkan melalui mulut dan tidak memerlukan operasi.

  • Terapi Photodynamic (PDT)

Adalah terapi yang dapat digunakan untuk mengobati kanker esofagus stadium I, atau untuk meringankan gejala kanker yang terkait dengan obstruksi esofagus.

4. Terapi Radiasi

Ketika kanker esofagus telah lanjut, dokter mungkin menyarankan untuk terapi radiasi, yang sering dilakukan bersamaan dengan kemoterapi. Jika terapi ini dapat membantu mengecilkan tumor, mungkin dapat dilakukan operasi.

Efek samping terapi radiasi mungkin akan mengalami kesulitan menelan, selama perawatan kanker. Stent juga dapat disematkan pada kerongkongan sebelum terapi radiasi, dan selang makanan sementara digunakan untuk membantu pasien mendapatkan nutrisi selama perawatan.

5. Pembedahan

Adalah prosedur yang dapat mengobati adenokarsinoma tahap awal. Ahli onkologi bedah akan melakukan operasi untuk mengobati kanker esofagus stadium I dan stadium II.

Sementara untuk kanker esofagus stadium lanjut, biasanya akan digabungkan dengan bentuk-bentuk pengobatan lain, seperti terapi radiasi dan kemoterapi. Cara mengobati kanker esofagus ini bertujuan untuk mengecilkan tumor sebelum mempertimbangkan pembedahan.

Jika kanker di kerongkongan, kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat selama pembedahan untuk tes keberadaan kanker.

6. Radiologi Intervensi

Perawatan kanker esofagus membutuhkan akurasi dan presisi. Jadi, radiologi intervensi dapat menghasilkan gambar tumor di kerongkongan dan melakukan prosedur intervensi yang dipandu gambar secara real time.

Pencegahan Kanker Esofagus

Anda dapat melakukan beberapa cara mencegah kanker esofagus atau untuk mengurangi risiko kanker kerongkongan, di antaranya:

1. Berhenti Merokok

Cara mencegah kanker esofagus yang pertama adalah berhenti merokok, jika Anda perokok atau menggunakan produk tembakau. Konsultasikanlah dengan dokter tentang bagaimana cara behenti dari kecanduam merokok. Obat atau konseling mungkin dapat membantu Anda berhenti merokok.

2. Hindari Alkohol

Jika minum minuman beralkohol, cobalah dalam jumlah sedang. Orang dewasa yang sehat, batasi hingga satu gelas sehari untuk wanita dari segala usia dan pria berusia lebih dari 65 tahun, sementara pria berusia 65 tahun ke bawah harus membatasi dua gelas alkohol sehari.

3. Makan Buah dan Sayuran

Mengonsumsil berbagai buah dan sayuran berwarna ke dalam menu makan sehari-hari Anda adalah salah satu cara mencegah kanker esofagus yang enak dan mudah. Seperti yang kita ketahui, buah dan sayuran memiliki nutrisi yang baik untuk tubuh.

4. Pertahankan Berat Badan yang Ideal

Kelebihan berat badan tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes, tetapi juga berisiko terkena kanker esofagus.

Mungkin Anda bisa menjalani program diet dan olahraga yang dapat membantu mempertahankan berat badan yang sehat, dan mengurangi risiko kanker.

Jika Anda sudah mengikuti beberapa cara mencegah kanker esofagus tersebut, pertahankanlah, agar tubuh Anda tetap sehat dan terhindar dari kanker atau penyakit lainnya.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Jati Satriyo

 

Sumber:

  1. What Is Cancer of the Esophagus?. https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/about/what-is-cancer-of-the-esophagus.html. (Diaksess 10 Oktober 2019)
  2. Esophageal Cancer. https://www.cancer.net/cancer-types/esophageal-cancer/introduction. (Diaksess 10 Oktober 2019)
  3. Felman, Adam. 2019. What to know about esophageal cancer. https://www.medicalnewstoday.com/articles/172602.php. (Diaksess 10 Oktober 2019)
  4. Esophageal cancer. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/esophageal-cancer/symptoms-causes/syc-20356084. (Diaksess 10 Oktober 2019)
  5. Rodriguez, Diana. 2016. Esophageal Cancer Complications. https://www.everydayhealth.com/esophageal-cancer/esophageal-cancer-complications.aspx. (Diaksess 10 Oktober 2019)
  6. Esophageal cancer treatments. https://www.cancercenter.com/cancer-types/esophageal-cancer/treatments. (Diaksess 10 Oktober 2019)
  7. Rodriguez, Diana. 2019. Preventing Esophageal Cancer Through Lifestyle Choices. https://www.everydayhealth.com/esophageal-cancer/prevention.aspx. (Diaksess 10 Oktober 2019)