Apakah Virus Menjadi Penyebab Kanker Darah? Simak Penjelasannya

Doktersehat-kanker-darah

DokterSehat.Com РKanker darah atau leukemia adalah suatu keganasan pada organ pembuat sel-sel darah dalam hal ini adalah sumsum tulang belakang sehingga terjadi kegagalan dalam proses produksi sel-sel darah yang normal.

Jumlah sel darah yang ada dan beredar dalam tubuh mungkin normal atau berlebihan namun bentuk dan kemampuannya tidak sama dengan sel darah yang normal.

Pada kondisi normal, sel-sel darah putih akan berkembang secara teratur di saat tubuh membutuhkannya untuk memberantas infeksi yang muncul. Namun lain halnya dengan pengidap kanker darah

Sumsum tulang akan memproduksi sel-sel darah putih yang abnormal, tidak dapat berfungsi dengan baik dan secara berlebihan. Jumlahnya yang berlebihan akan mengakibatkan penumpukan dalam sumsum tulang sehingga sel-sel darah yang sehat akan berkurang.

baca juga: Awas, Inilah 5 Tanda Gejala Kanker Ovarium

Kanker darah juga dapat dibagi berdasarkan sel darah putih yang mengalami produksi abnormal. Kanker darah yang melibatkan produksi abnormal dari sel darah putih mieloid dinamakan leukemia mielositik. Sedangkan, kanker darah yang melibatkan produksi abnormal dari sel darah putih limfosit dinamakan leukemia limfositik.

Penyebab Kanker Darah

Penyebab pasti dari kegagalan memproduksi sel darah yang normal ini belum diketahui dengan jelas namun diduga disebabkan oleh virus. Selain itu, mutasi DNA dalam sel darah putih menyebebakan perubahan tindakan setiap sel. Perubahan lain dalam sel darah putih akibat faktor gen dan lingkungan juga dipercaya turut berperan memicu leukemia.

Gejala Kanker Darah

Gejala yang terjadi pada kanker darah dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis leukemia. Gejala klinis yang dapat terlihat pada pasien kanker darah adalah rasa lelah, pucat, nafsu makan yang turun atau hilang, nyeri tulang dan sendi, pembesaran pada kelenjar, hati atau limpa.

Selain itu, ciri-ciri kanker darah lainnya ialah manifestasi dari perdarahan seperti bintik-bintik atau mudahnya timbul lebam atau kebiruan pada kulit yang terkena benturan, mimisan atau perdarahan dari gusi.

Pengobatan Kanker Darah

Penderita dengan kanker sebaiknya diobati secara teratur ke rumah sakit bagian penyakit dalam sub bagian hematologi. Apabila leukimia ini cepat terdeteksi dan dengan pengobatan modern hal itu dapat memperpanjang angka harapan hidup penderita.

Apabila penderita sedemikian pucat hingga kadar hemoglobin dalam darah sangat rendah maka harus diberikan transfusi darah.

Pengobatan yang diberikan dapat berupa obat-obatan yang bertujuan untuk memberantas sel-sel leukimia atau pada stadium yang sudah lanjut dapat juga dilakukan operasi penggantian sumsum tulang.

Penderita kanker darah harus dijaga sehingga tidak terkena infeksi yang lain karena kanker yang menyerang sel darah itu membuat pertahanan tubuh penderita menjadi rendah dan rentan untuk tekena infeksi.

Berikut ini adalah metode pengobatan yang umumnya dianjurkan untuk menangani kanker darah, di antaranya:

  • Kemoterapi

Kemoterapi adalah pilihan terapi paling umum untuk kasus leukimia. Pengobatan kemoterapi menggunakan bahan-bahan kimia untuk membunuh sel-sel kanker darah.

  • Transplantasi sel induk atau stem cell

Terapi ini mengganti sumsum tulang yang sudah rusak dengan yang sehat. Sel-sel induk yang digunakan bisa berasal dari tubuh Anda sendiri atau tubuh orang lain sebagai pendonor. Kemoterapi atau radioterapi biasanya akan dilakukan sebagai langkah persiapan sebelum menjalani prosedur transplantasi ini.

baca juga: Inilah Beberapa Kebiasaan Penyebab Kanker Serviks

  • Radioterapi

Teknik pengobatan ini menggunakan sinar X untuk menghancurkan dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Radioterapi dapat dilakukan hanya pada area tertentu yang terserang kanker, ataupun pada seluruh tubuh tergantung dari kondisi Anda.

Sementara itu, bagi penderita kanker darah kronis, pengamatan secara seksama harus dilakukan guna melihat perkembangan penyakit. Pengamatan ini juga dapat dilakukan jika seseorang sudah terbukti mengidap leukemia limfatik kronis, namun tidak mengalami gejala yang menunjukkan penyakit tersebut.