Terbit: 16 April 2020 | Diperbarui: 20 Mei 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Kanker anus adalah jenis kanker yang berkembang di anus. Meski jarang terjadi, kanker ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Di Amerika Serikat misalnya, kanker anal ini diderita sekitar 8000 orang dan bahkan menyebabkan 1.080 orang meninggal. Apa penyebabnya? Simak selengkapnya tentang gejala hingga pengobatannya di bawah ini.

Kanker Anus: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan, dll

Apa Itu Kanker Anus?

Kanker anus adalah perkembangan sel-sel kanker yang membentuk tumor jinak atau ganas pada jaringan anus yang kemudian menjadi kanker. Anus adalah tabung pendek di ujung rektum yang merupakan saluran untuk membuang tinja.

Dua ring seperti otot, disebut otot sphincter yang berfungsi untuk membuka dan menutup anus, anus membuka agar kotoran keluar dari tubuh. Anal kanal, bagian pembukaan antara dubur dan anal panjangnya sekitar 1 ½ inci.

Terkadang kanker dubur tidak menimbulkan ciri-ciri kanker anus sama sekali. Tetapi perdarahan (biasanya sedikit) seringkali merupakan tanda pertama penyakit ini. Awalnya, kebanyakan orang menganggap pendarahan disebabkan oleh wasir.

Setelah mengenal apa itu kanker anus, berikut ini akan dijelaskan tentang gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, komplikasi hingga pencegahannya.

Gejala Kanker Anus

Gejala yang paling sering muncul karena penyakit ini adalah pendarahan. Gatal pada dubur juga bisa menjadi ciri-ciri kanker anus, kebanyakan orang awalnya mengaitkan perdarahan dan gatal-gatal dengan wasir hemoroid. Ini biasanya dapat dapat menghambat diagnosis kanker anus.

Tanda dan gejala kanker anus lainnya mungkin termasuk:

  • Pendarahan. Gejala paling umum dari kanker ini adalah pendarahan dari bagian dubur. Ini mungkin menyebabkan BAB berdarah.
  • Rasa sakit. Timbulnya rasa sakit di sekitar area anal. Bersama dengan perdarahan, kondisi ini mungkin diperparah ketika sembelit.
  • Gatal yang parah. Ciri-ciri kanker anus lainnya menimbulkan rasa gatal yang parah (pruritus) di sekitar anus.
  • Benjolan. Kanker menimbulkan benjolan yang mungkin dirasakan di sekitar anus.
  • Anus keluar lendir. Lendir yang berasal dari anus (keputihan) bisa menjadi tanda kanker dubur.
  • Ketidakmampuan mengendalikan BAB. Kanker mungkin menyebabkan penderitanya kesulitan mengendalikan usus (inkontinensia tinja). Kondisi ini mengakibatkan lebih sering BAB.

Terkadang penderita kanker ini mungkin tidak memiliki ciri-ciri kanker anus sama sekali. Sekitar 20 dari 100 orang (20%) yang didiagnosis dengan kanker ini tidak memiliki gejala apa pun.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera berkonsultasi dengan dokter tentang tanda dan gejala kanker anus yang mengganggu aktivitas, terutama jika memiliki faktor yang meningkatkan risiko kanker dubur. Begitupun jika mengalami gejala yang tidak biasa dan gejala tidak kunjung hilang meski sudah diobati.

Penyebab Kanker Anus

Kanker anus berkembang ketika sel-sel kanker tumbuh tidak terkendali dan membentuk tumor pada anus. Penumpukan sel abnormal kemudian membentuk massa (tumor). Sel-sel kanker ini akan menyerang jaringan di dekatnya dan akan terpisah dari tumor awal untuk menyebar ke bagian tubuh lainnya (bermetastasis).

Kanker ini sangat terkait dengan infeksi menular seksual (IMS) yang disebut human papillomavirus (HPV). Faktanya bahwa HPV terdeteksi pada sebagian besar kanker anus. Bahkan HPV dianggap sebagai penyebab paling umum dari kanker ini.

Faktor Risiko Kanker Anus

Sejumlah faktor telah diketahui dapat meningkatkan risiko kanker dubur, termasuk:

  • Lansia. Sebagian besar kasus kanker anus terjadi pada orang di atas usia 50 tahun.
  • Seks anal. Kerap melakukan seks anal meningkatkan risiko kanker dubur.
  • Sering berganti pasangan seksual. Orang yang memiliki banyak pasangan seksual memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker dubur.
  • Riwayat kanker. Orang yang pernah menderita kanker serviks, vulva atau vagina memiliki risiko tinggi kanker dubur.
  • Merokok. Baik perokok aktif maupun pasif juga dapat meningkatkan risiko kanker dubur.
  • Human papillomavirus (HPV). Infeksi HPV meningkatkan risiko kanker dubur dan serviks.
  • Obat-obatan. Menggunakan obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh (obat imunosupresif), termasuk pernah menerima transplantasi organ.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah. HIV yang merupakan virus penyebab AIDS dapat menekan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko kanker dubur.

Baca Juga: Kanker: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan

Diagnosis Kanker Anus

Guna mendiagnosis kanker dubur, dokter akan menanyakan pada pasien tentang gejala kanker anus dan riwayat kesehatan medis. Jika diyakini kemungkinan adanya kanker, dokter akan merujuk pasien ke ahli bedah kolorektal, dokter spesialis dalam kondisi usus. Dokter spesialis tersebut dapat melakukan sejumlah tes berikut:

1. Pemeriksaan Dubur

Sepanjang pemeriksaan dubur secara digital, dokter memasukkan jari (menggunakan sarung tangan bedah) yang telah dilumasi ke dalam dubur. Dokter dapat merasakan sesuatu yang tidak biasa, seperti pertumbuhan gumpalan atau hal lain yang tampak tidak biasa.

2. Pemeriksaan Anus dan Rektum secara Visual

Dokter mungkin akan menggunakan tabung pendek (yang disematkan lampu) untuk memeriksa saluran dubur dan rektum untuk kondisi yang tidak biasa.

 3. Ultrasonografi (USG) Lubang Anus

Demi mendapatkan gambar saluran anal, dokter memasukkan probe, mirip dengan termometer tebal ke dalam saluran anal dan dubur. Probe memancarkan gelombang suara berenergi tinggi (gelombang ultrasonik), yang memantul ke jaringan dan organ dalam tubuh untuk menghasilkan gambar.

Setelah mendapatkan gambar, dokter akan mengevaluasinya untuk mencari sesuatu yang abnormal.

4. Mengambil Sampel Jaringan

Jika ditemukan area yang tidak biasa, dokter dapat mengambil sedikit sampel jaringan yang terkena kanker (biopsi) dan mengirimkan sampel ke laboratorium untuk dianalisis. Pemeriksaan dilakukan di bawah mikroskop, untuk menentukan apakah sel itu kanker.

Stadium Kanker Anus

Tahapan-tahapan yang digunakan untuk menentukan keparahan kanker anus, di antaranya:

Stadium I

Tahap di mana tumor mulai berkembang, yang berukuran 2 Sentimeter atau lebih kecil.

Stadium II

Tumor pada anus berkembang lebih besar atau berukuran lebih dari 2 Sentimeter.

Stadium III

Tahap ini menggambarkan bahwa tumor telah tumbuh dengan ukuran lebih besar dan telah menyebar ke kelenjar getah bening di dekat dubur. Tetapi belum menyebar ke bagian tubuh lainnya.

atau dekat dengan organ, seperti vagina, saluran kencing, dan kandung kemih.

Stadium IV

Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ di dekatnya dan telah menyebar (metastasis) ke bagian tubuh lainnya. Tahap ini juga disebut stadium lanjut.

Jenis Kanker Anus

Ada berbagai jenis kanker anus, masing-masingnya ditentukan oleh jenis tumor yang telah berkembang. Tumor bisa jinak atau ganas. Jika tidak diobati, tumor ganas dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Jenis tumor ini termasuk:

1. Tumor Jinak

Tumor yang jinak adalah tumor yang bukan kanker. Tumor dalam anus termasuk polip, daging tumbuh, tumor sel granular, dan kutil kelamin (kondiloma).

2. Kondisi Prakanker

Kondisi ini merujuk pada tumor jinak yang berubah menjadi ganas seiring waktu, yang sering terjadi pada anal intraepithelial neoplasia (AIN) dan anal squamous intraepithelial neoplasia (ASIL).

3. Karsinoma Sel Skuamosa

Kanker sel skuamosa adalah jenis kanker anus yang paling umum. Tumor ganas yang berkembang di anus ini disebabkan oleh sel skuamosa abnormal (sel yang melapisi sebagian besar saluran anus).

4. Penyakit Bowen

Kondisi ini juga dikenal sebagai karsinoma sel skuamosa in situ, yang ditandai oleh sel-sel abnormal pada jaringan permukaan anus yang belum menjalar ke lapisan yang lebih dalam.

5. Karsinoma Sel Basal

Ini adalah jenis kanker kulit yang biasanya terjadi pada kulit yang terpapar sinar matahari. Oleh sebab itu, karsinoma sel basal adalah bentuk kanker dubur yang sangat langka.

6. Adenokarsinoma

Ini adalah sebagai bentuk kanker langka yang muncul pada kelenjar di sekitar anus. Titik di mana saluran anus bertemu rektum yang disebut zona transisi. Ini memiliki sel skuamosa dan sel kelenjar. Sel-sel kelenjar akan menghasilkan lendir, yang membantu tinja keluar dari anus dengan lancar.

Pengobatan Kanker

Pengobatan kanker dubur tergantung pada stadium kanker, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan hal penting yang harus didahulukan.

Beberapa perawatan untuk mengobati kanker anus di antaranya:

1. Kemoterapi

Kemoterapi adalah perawatan kanker yang menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikan pembelahan sel. Bila kemoterapi dikonsumsi melalui mulut atau menyuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, obat memasuki aliran darah dan dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh (sistemik kemoterapi).

Bila kemoterapi ditempatkan langsung ke dalam tulang belakang, organ, atau rongga badan seperti bagian perut, obat terutama memengaruhi sel kanker di tempat-tempat (daerah kemoterapi). Cara kemoterapi diberikan tergantung pada jenis dan stadium kanker yang sedang dirawat.

2. Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah perawatan kanker yang menggunakan sinar berenergi tinggi, seperti sinar-X atau proton, untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi, di antaranya:

  • Eksternal terapi radiasi yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi terhadap kanker.
  • Internal terapi radiasi menggunakan zat radioaktif dalam jarum, kawat, atau kateter yang ditempatkan secara langsung ke dalam atau dekat dengan kanker.

Metode terapi radiasi ini dapat diberikan tergantung pada jenis dan stadium kanker.

3. Imunoterapi

Imunoterapi adalah pengobatan yang menggunakan sistem kekebalan tubuh pasien untuk melawan kanker. Perawatan ini biasanya diperuntukkan untuk penderita kanker dubur lanjut.

Sistem kekebalan tubuh pasien yang melawan penyakit mungkin tidak menyerang kanker karena sel-sel kanker menghasilkan protein yang membuatnya tidak terdeteksi oleh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Imunoterapi berfungsi untuk menghambat proses tersebut.

4. Operasi

Berdasarkan stadium kanker, dokter biasanya menggunakan prosedur berbeda untuk menghilangkan kanker dubur, di antaranya:

  • Lokal resection: Prosedur ini untuk mengangkat tumor dari anus bersama dengan beberapa jaringan yang sehat di sekelilingnya. Lokal resection dapat digunakan jika tumor berukuran kecil dan belum tersebar.
  • Abdominoperineal resection: Merupakan operasi anus, rektum, dan bagian dari usus sigmoid dibuang melalui pembedahan di bagian perut. Dokter memotong ujung usus dan menyambungkannya di bagian samping perut (stoma), yang dilakukan di permukaan bagian perut untuk memudahkan kotoran keluar dan ditampung dalam kantong di luar tubuh (kolostomi).

Perawatan Kanker Anus di Rumah

Salah satu atau beberapa perawatan di atas dapat menimbulkan efek samping, untuk itu pasien memerlukan pengobatan lanjutan. Salah satunya perawatan alternatif, namun hanya meringankan efek samping. Perawatan alternatif hanya dapat melengkapi perawatan dari dokter dan memberikan kenyamanan tambahan.

Berikut beberapa pilihan pengobatan alternatif untuk meringankan efek samping dari perawatan kanker anus:

  • Kelelahan. Tubuh yang terasa lelah setelah perawatan akan kembali bertenaga jika melakukan olahraga ringan, seperti tai chi.
  • Kecemasan. Kondisi ini dapat diatasi dengan pijatan, hipnosis, meditasi, terapi musik, latihan atau teknik relaksasi.
  • Nyeri. Tubuh terasa nyeri setelah operasi dapat diatasi dengan pijat, akupunktur, terapi musik, dan hipnosis.
  • Mual. Beberapa pengobatan mungkin mengakibatkan perasaan mual. Sebalai solusinya, akupunktur, hipnosis atau terapi musik bisa meredakan.
  • Masalah tidur. Mungkin kecemasan membuat pasien terjaga dan kesulitan untuk tidur. Tentu ini harus segera diatasi, misalnya dengan yoga atau melakukan teknik relaksasi.

Meskipun pengobatan lanjutan tersebut aman, sebaiknya pasien berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan bahwa pengobatan alternatif tidak akan mengganggu perawatan kanker.

Komplikasi Kanker Anus

Meski kanker anus jarang menyebar (bermetastasis) ke bagian tubuh lainnya yang lebih jauh, sebagian kecil tumor dapat menyebar. Tetapi, jika itu terjadi akan sangat sulit untuk diobati.

Kanker dubur yang bermetastasis paling sering menyebar ke organ vital lainnya, seperti hati dan paru-paru.

Pencegahan Kanker Anus

Sampai saat ini belum ada cara pasti untuk mencegah kanker anus. Tetapi, melakukan beberapa hal berikut mungkin dapat  mengurangi risiko kanker:

1. Melakukan Seks yang Aman

Berhubungan intim dengan aman dapat membantu mencegah HPV dan HIV (virus yang ditularkan melalui seksual) yang dapat meningkatkan risiko kanker dubur. Sebaiknya menggunakan kondom jika ingin melakukan seks anal.

2. Mendapatkan Vaksin untuk HPV

Vaksin berguna untuk melindungi dari infeksi HPV. Vaksin ini disarankan untuk remaja, termasuk anak laki-laki dan perempuan, tetapi juga dapat diberikan kepada orang dewasa.

Jika memiliki risiko tinggi terkena kanker dubur karena faktor lain, seperti riwayat keluarga atau usia, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter tentang kekhawatiran Anda.

3. Berhenti Merokok

Seperti disebutkan sebelumnya, merokok dapat meningkatkan risiko kanker dubur. Jadi, segera berhenti merokok (jika perokok). Sementara bagi Anda perokok pasif, hindari lingkungan yang terpapar asap rokok.

 

  1. Anonim. 2019. Anak cancer. Symptoms. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/anal-cancer/symptoms. (Diakses pada 16 April 2020)
  2. Anonim. 2017. About Anal Cancer. https://www.cancer.org/cancer/anal-cancer/about/what-is-anal-cancer.html. (Diakses pada 16 April 2020)
  3. Brazier, Yvette. 2019. What you need to know about anal cancer. https://www.medicalnewstoday.com/articles/156549#symptoms-and-signs. (Diakses pada 16 April 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2019. Anal Cancer. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anal-cancer/symptoms-causes/syc-20354140. (Diakses pada 16 April 2020)
  5. Stubblefield, Heaven. 2018. Anal Cancer. https://www.healthline.com/health/anal-cancer#diagnosis. (Diakses pada 16 April 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi