Terbit: 10 Februari 2020 | Diperbarui: 15 Mei 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Apakah Anda pernah mengalami jerawat batu? Jerawat batu adalah jenis jerawat parah akibat penyumbatan pori-pori yang menyebabkan peradangan yang serius pada kulit. Ketahui apa itu jerawat batu, penyebab, gejala, cara mengatasi, dll.

Jerawat Batu: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Apa Itu Jerawat Batu?

Jerawat batu adalah jenis jerawat paling parah yang diakibatkan oleh sel-sel kulit mati yang menyumbat pori-pori lalu menyebabkan peradangan dan infeksi serius di dalam kulit. Faktor lain penyebab jerawat ini juga karena adanya perubahan hormon pada masa pubertas.

Jerawat batu memiliki ciri utama benjolan merah lembut dengan rasa gatal, sakit, hingga bernanah yang dapat terjadi di segala jenis kulit, tapi lebih sering terjadi pada orang berjenis kulit berminyak karena kulit mati, bakteri, dan minyak lebih mudah terjebak di pori-pori kulit.

Jenis jerawat ini dapat dialami oleh siapa saja namun paling umum menyerang anak remaja, dewasa muda, wanita, dan orang-orang yang mengalami ketidakseimbangan hormon. Berdasarkan data, 80% penderita cystic acne berusia antara 11 dan 30 tahun.

Jerawat batu berbeda dengan jerawat biasa. Jerawat ini bisa sangat menyakitkan dan tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Apabila pori-pori pecah, jerawat ini mungkin akan menyebar menjadi lebih banyak jerawat baru dan bertahan selama bertahun-tahun apabila tidak diobati.

Beberapa kasus jerawat batu juga sulit diatasi dan harus diobati di dokter kulit. Berdasarkan laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), alasan utama orang berkonsultasi ke dokter kulit adalah untuk mengatasi jerawat batu.

Gejala Jerawat Batu

Jerawat menimbulkan gejala yang mudah terlihat terutama di kulit wajah. Sementara gejala jerawat batu yang paling parah adalah timbulnya benjolan dan nodul bersama papula dan pustula inflamasi atau jerawat bernanah.

Gejala lainnya meliputi:

  • Benjolan besar merata tanpa mata putih jerawat.
  • Benjolan jerawat lembut dan menyakitkan saat disentuh.
  • Benjolan besar kemerahan berisi nanah.
  • Setelah jerawat matang, nanah akan keluar.
  • Nanah yang keluar mungkin akan menyebar ke jaringan kulit di sekitarnya.

Jerawat ini paling umum terjadi di bagian kulit wajah, namun dapat juga berkembang di dada, leher, punggung, lengan, dan belakang telinga.

Kondisi jangka panjang juga meningkatkan risiko timbulnya jaringan parut atau bekas luka pada kulit, seperti:

  • Bekas luka berupa lubang-lubang kecil yang dalam.
  • Bekas luka merah atau noda hitam.
  • Bekas kulit berlubang lebih besar.

Selain itu, pertumbuhan jerawat parah juga menimbulkan tekanan psikologis dan emosional akibat kerusakan kulit serius yang memengaruhi penampilan seseorang. Sebagian besar kasus jerawat batu disarankan untuk diobati ke dokter kulit.

Penyebab Jerawat Batu

Penyebab jerawat batu pada setiap orang tidak dapat dipastikan, namun berikut ini adalah penyebab yang paling umum:

1. Penyumbatan Pori-Pori

Penyumbatan pori-pori terjadi akibat produksi sebum dan pertumbuhan sel-sel kulit yang berlebihan. Sebum sebenarnya berfungsi untuk membantu melindungi folikel rambut dan kulit, namun produksi yang abnormal malah akan menyumbat pori-pori.

Selain itu, jenis kulit berminyak juga meningkatkan risiko penyumbatan pori-pori akibat minyak, bakteri, dan sel-sel kulit mati yang terjebak di dalam kulit dan memicu timbulnya peradangan jerawat biasa hingga jerawat batu.

2. Perubahan Hormon

Hormon androgen adalah hormon utama yang meningkat di usia remaja. Hormon ini berpengaruh pada kulit, meningkatkan produksi sebum dan sel-sel kulit, hingga menyebabkan penyumbatan pori-pori dan memicu jerawat.

Perubahan hormon tidak hanya terjadi pada remaja, namun juga wanita hamil, gejala menopause, siklus menstruasi, atau sindrom ovarium polikistik. Gejala jerawat umum terjadi pada orang yang mengalami perubahan hormon.

Faktor Risiko Jerawat Batu

Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko Anda mengalami jerawat batu, yaitu:

  • Faktor genetik.
  • Penggunaan kosmetik, pembersih, atau perawatan kecantikan lainnya yang tidak sesuai dengan jenis kulit wajah.
  • Pengaruh tingkat kelembapan kulit.
  • Efek samping beberapa obat dan bahan kimia seperti kortikosteroid, litium, fenitoin, dan isoniazid.
  • Penggunaan jenis kontrasepsi yang dominan kandungan hormon progesteron.

Beberapa faktor tersebut diduga memicu timbulnya jerawat batu, terutama akibat riwayat keluarga.

Komplikasi Jerawat Batu

Komplikasi yang mungkin terjadi dari kondisi jerawat ini adalah timbulnya jaringan parut atau bekas luka yang sulit untuk diatasi.

Selain itu, komplikasi lainnya juga mungkin terjadi akibat efek samping obat-obatan seperti kulit ruam atau kerusakan kulit nekrolisis epidermal toksik. Nekrolisis epidermal toksik adalah kerusakan kulit yang jarang terjadi namun sangat mengancam jiwa.

Kapan Harus ke Dokter Kulit?

Mengingat jerawat batu adalah jenis jerawat dengan gejala yang paling parah, sebagian besar kasus jerawat batu hanya dapat diatasi dengan pengobatan dan perawatan langsung ke dokter kulit. Bila dibiarkan, jerawat ini dapat bertahan dalam durasi yang lama dan kadang dapat pula meninggalkan bekas luka yang sulit dihilangkan.

Jerawat ini juga sulit dihilangkan dengan perawatan biasa di rumah, jadi sedini mungkin harus dikonsultasikan ke dokter kulit untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah penyebaran jerawat ke jaringan kulit sekitarnya. Perawatan kulit ini juga membutuhkan waktu yang cukup panjang dan berkelanjutan sampai semua jerawat sembuh.

Selain menyembuhkan jerawat batu dengan perawatan medis, dokter kulit juga akan melakukan perawatan untuk mencegah jerawat kambuh lagi.

Cara Mengatasi Jerawat Batu Secara Medis

Terlepas pada pilihan obat yang Anda gunakan, rata-rata durasi pengobatan jerawat batu adalah sekitar 8 minggu. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi cara mengatasi jerawat batu secara medis, meliputi:

1. Isotretinoin

Isotretinoin adalah obat jerawat batu dengan kandungan vitamin A yang dianggap paling efektif, namun Anda baru disarankan untuk menggunakan obat ini sebagai pilihan terakhir setelah antibiotik lainnya dirasa tidak ampuh untuk menyembuhkan jerawat.

Obat ini memiliki risiko efek samping serius seperti gangguan suasana hati, sakit kepala jangka panjang, mimisan, radang kulit, kerusakan hati, nyeri otot dan sendi, darah pada urine, serta kelahiran prematur bila dikonsumsi oleh wanita hamil.

2. Antibiotik Oral

Antibiotik oral dapat digunakan untuk mengatasi jerawat parah dengan cara meredakan peradangan kulit dan mengurangi bakteri di dalam kulit, namun tidak dapat mengatasi kondisi minyak berlebih dan sel-sel kulit mati.

Antibiotik ini hanya digunakan sebagai obat sementara untuk mencegah resistensi bakteri. Antibiotik oral mungkin memiliki efek samping seperti sakit perut, diare, mual dan muntah, serta sensitivitas matahari.

3. Spironolakton

Spironolakton adalah obat resep untuk mengatasi edema dan tekanan darah tinggi. Obat ini juga digunakan untuk mengatur level hormon androgen berlebih yang memicu timbulnya jerawat.

Dosis umum obat spironolakton adalah 50-100 miligram, namun obat ini hanya efektif untuk jerawat di bagian garis rahang atau wajah bagian bawah. Obat ini juga memiliki risiko serius seperti cacat lahir bila dikonsumsi wanita hamil, nyeri payudara, kelelahan, hiperkalemia, dan siklus menstruasi tidak teratur.

4. Retinoid Topikal

Retinoid topikal atau salep retinoid adalah obat kulit yang mengandung vitamin A untuk mengatasi jerawat parah. Salep ini bekerja dengan cara mencabut folikel rambut untuk mencegah dan mengatasi jerawat parah. Folikel rambut adalah jaringan kulit dimana bulu-bulu tumbuh.

Obat topikal retinoid yang ampuh harus mengandung avage, avita, differin, retin-A, dan tazorac. Umumnya, salep atau krim retinoid diresepkan bersama antibiotik topikal agar kandungannya bekerja lebih efektif.

5. Benzoil Peroksida

Benzoil peroksida adalah obat untuk mengatasi jerawat batu mulai dari gejala ringan hingga parah. Cara kerja benzoil peroksida adalah dengan membunuh bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes).

Obat ini memiliki formula berbasis air dan alkohol untuk memberikan efek mengeringkan minyak wajah, jadi lebih cocok untuk jenis kulit berminyak. Selain untuk obat jerawat, benzoil peroksida juga tersedia dalam sediaan cairan pembersih, lotion, krim, dan gel.

6. Suntikan Steroid

Cara mengatasi jerawat batu juga dapat dilakukan dengan suntikan langsung obat kortikosteroid berupa triamcinolone ke bagian kulit yang berjerawat parah. Formula dalam suntikan ini juga dapat membantu mengatasi peradangan dan risiko jaringan parut.

Itulah berbagai cara menghilangkan jerawat batu secara medis. Konsultasikan pada dokter kulit Anda tentang cara kerja dan efektivitas perawatan yang Anda pilih.

Baca Juga: 13 Cara Menghilangkan Jerawat Batu yang Ampuh (Medis & Alami)

Cara Menghilangkan Jerawat Batu Secara Alami

Jerawat batu adalah tipe jerawat yang sulit diatasi, namun beberapa bahan alami berikut ini dipercaya dapat meringankan gejala, yaitu:

1. Tea Tree Oil

Cara menghilangkan jerawat batu secara alami dapat menggunakan tea tree oil. Tea tree oil dipercaya dapat meredakan peradangan dan gejala kulit kemerahan pada kulit berjerawat.

Formula alami dalam tea tree oil bekerja efektif untuk membersihkan pori-pori dari sel kulit mati dan bakteri. Caranya adalah cukup dengan mengoleskan tea tree oil ke area kulit berjerawat setiap malam.

2. Madu

Madu adalah bahan alami yang sudah dipercaya sebagai perawatan kulit sejak lama. Madu mengandung antiseptik dan antijamur untuk mengatasi berbagai gangguan kulit, termasuk jerawat parah.

Anda dapat menggunakan masker madu setiap hari atau mencampurkannya dengan tea tree oil untuk hasil yang lebih efektif dan cepat.

3. Teh Hijau

Teh hijau mengandung antioksidan yang berperan untuk membersihkan bakteri dan racun di kulit, serta mempercepat dan mengatasi bekas jerawat lebih efektif dan cepat. Anda dapat menggunakannya dengan cara diminum atau dijadikan masker dengan campuran madu.

Baca Juga: 9 Manfaat Masker Teh Hijau dan Cara Menggunakannya

4. Kunyit

Kunyit mengandung sifat antibakteri, antiinflamasi, dan astringen untuk membantu mengatasi bakteri, nanah, dan racun penyebab jerawat parah. Anda dapat menggunakannya sebagai masker wajah dengan campuran madu.

Itulah beberapa rekomendasi cara menghilangkan jerawat batu. Perlu diingat bahwa bahan-bahan alami tersebut mungkin hanya membantu meredakan gejalanya, tidak sepenuhnya menyembuhkan. Anda disarankan tetap berkonsultasi ke dokter kulit untuk pengobatan jerawat parah.

Apakah Bekas Jerawat Batu Bisa Hilang?

Apabila Anda mengalami kondisi ini, sebaiknya Anda tidak memencet atau berusaha mengeluarkan isi jerawat dengan tujuan untuk mempercepat penyembuhan. Ini hanya akan memperburuk peradangan kulit dan menyebabkan bekas luka yang sulit hilang.

Anda dapat menggunakan beberapa pilihan perawatan untuk mengatasi bekas luka dari jerawat parah dengan beberapa metode berikut ini:

  • Peeling wajah.
  • Dermabrasi oleh dermatologi.
  • Laser resurfacing atau metode laser untuk menghilangkan node oleh dermatologi.

Anda juga disarankan untuk menjaga kebersihan kulit untuk mencegah jerawat batu muncul kembali setelah sembuh.

Cara Mencegah Jerawat Batu

Apabila Anda sudah memiliki jerawat biasa atau jerawat ringan, sebaiknya lakukan beberapa tips ini untuk mencegah kondisi bertambah parah, yaitu:

  • Bersihkan kulit setiap pagi dan sebelum tidur, atau setelah Anda melakukan aktivitas olahraga.
  • Jangan menyentuh dan memencet jerawat.
  • Hindari paparan sinar matahari langsung dan berlebihan.
  • Cuci rambut secara teratur untuk mengurangi risiko bakteri dari rambut yang mungkin mengontaminasi wajah.
  • Gunakan produk yang mengandung noncomedogenic atau anti penyumbatan pori-pori dan produk kosmetik berlabel bebas minyak.
  • Gunakan produk pembersih yang sesuai dengan jenis kulit Anda.
  • Jangan tidur tanpa membersihkan make up.
  • Anda mungkin harus menggunakan tabir surya.

Selain itu, beberapa perubahan gaya hidup juga mendukung untuk kesehatan kulit, seperti:

  • Kurangi stres dalam hidup Anda karena efek dari stres juga berpengaruh pada kesehatan kulit Anda.
  • Olahraga secara teratur.
  • Cukup tidur.
  • Beberapa penelitian mengatakan untuk mengontrol makanan yang memiliki kadar glikemik tinggi atau membatasi asupan gula untuk mengurangi gejala jerawat.

Tips perawatan kulit tersebut bukan hanya untuk mencegah jerawat, namun berbagai risiko masalah kulit lainnya.

Itulah pembahasan lengkap tentang apa itu jerawat batu. Jerawat batu adalah jenis jerawat yang paling parah namun dapat diatasi dengan lebih cepat dan efektif apabila diobati pada tahap-tahap awal. Segera hubungi dokter kulit apabila kondisi Anda tidak membaik.

 

  1. Cherney, Kristeen. 2017. What Is Cystic Acne and How Is It Treated?. https://www.healthline.com/health/beauty-skin-care/cystic-acne. (Diakses pada 10 Februari 2020).
  2. Conrad Stöppler, Melissa. 2019. Cystic Acne. https://www.medicinenet.com/cystic_acne/article.htm. (Diakses pada 10 Februari 2020).
  3. MacGill, Markus. 2017. Everything you need to know about cystic acne. https://www.medicalnewstoday.com/articles/103258.php. (Diakses pada 10 Februari 2020).
  4. YouBeauty. 2019. 6 Home Remedies for Cystic Acne That Work. https://www.youbeauty.com/beauty/6-home-remedies-for-cystic-acne-that-work/. (Diakses pada 10 Februari 2020).
  5. WebMD. 2019. Cystic Acne: What Is It and How Do You Treat It?. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/cystic-acne#2-6. (Diakses pada 10 Februari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi