Terbit: 11 Agustus 2020 | Diperbarui: 26 Agustus 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Tahukah Anda jika insomnia ada beragam jenis? Apa saja jenis-jenis insomnia tersebut? Simak informasi selengkapnya berikut ini!

12 Jenis Insomnia dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Insomnia?

Insomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan pengidapnya tidak dapat tidur dengan nyenyak sepanjang malam. Alhasil, mereka akan bangun di pagi hari dengan kondisi yang kurang bugar yang mana hal ini tentu akan berdampak pada berkurangnya produktivitas di sepanjang hari.

Insomnia adalah salah satu gangguan tidur yang kasusnya bisa dibilang umum. Berdasarkan laporan dari Cleveland Clinic, insomnia dialami oleh lebih dari 50 persen orang dewasa. Sementara itu, 1 dari 10 orang diklaim mengidap insomnia kronis. Masalah kesehatan ini bisa dialami siapa saja, namun wanita dan lanjut usia menjadi kelompok yang paling rentan.

Jenis Insomnia

Nah, faktanya insomnia pun ada banyak jenisnya. Berikut ini adalah jenis-jenis insomnia yang perlu Anda ketahui.

1. Insomnia Akut

Jenis yang pertama adalah insomnia akut. Insomnia akut adalah insomnia jangka pendek yang dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Ini adalah jenis insomnia yang paling umum.

Insomnia akut juga disebut sebagai insomnia ‘penyesuaian’ karena biasanya terjadi ketika Anda sedang dilanda stres atau kesedihan, seperti ketika ditinggal orang yang dicintai atau hendak memulai pekerjaan baru.

Selain stres, insomnia akut juga bisa disebabkan oleh:

  • Faktor lingkungan (bising, cahaya lampu, dsb.)
  • Tidur di tempat yang asing (hotel, rumah baru, dsb.)
  • Tubuh pegal-pegal atau nyeri
  • Konsumsi obat-obatan tertentu
  • Sedang sakit
  • Jet lag

2. Insomnia Kronis

Insomnia dianggap kronis jika Anda mengalami kesulitan tidur setidaknya tiga hari per minggu selama setidaknya satu bulan.

Insomnia kronis dapat bersifat primer atau sekunder. Insomnia kronis primer—disebut juga insomnia idiopatik—tidak memiliki penyebab yang jelas atau kondisi medis yang mendasari.

Sementara itu, insomnia sekunder—disebut juga insomnia komorbid—lebih sering terjadi. Ini adalah insomnia kronis yang terjadi bersamaan dengan penyakit penyerta lainnya.

3. Insomnia Onset

Insomnia onset adalah kondisi ketika seseorang kesulitan untuk memulai tidur. Jenis insomnia ini bisa bersifat akut atau kronis.

Salah satu penyebab insomnia ini adalah gangguan psikologis atau kejiwaan. Gangguan yang dimaksud meliputi stres dan depresi.

Menurut sebuah penelitian yang dirilis pada tahun 2009, orang dengan insomnia onset kronis sering kali mengalami gangguan tidur lain, seperti sindrom kaki gelisah atau gangguan gerakan tungkai. Selan itu, kafein dan stimulan lainnya juga dapat membuat Anda mengalami insomnia onset ini.

4. Maintenance Insomnia

Maintenance insomnia adalah kesulitan untuk tetap tidur atau bangun terlalu pagi dan kesulitan untuk kembali tidur setelah terjaga. Jenis insomnia ini menyebabkan pengidapnya khawatir tidak bisa kembali tertidur dan tidak memiliki waktu tidur yang cukup.

Pemeliharaan insomnia bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan mental, seperti depresi. Kondisi medis lain yang dapat membuat Anda mengalami gangguan tidur ini meliputi:

  • Sleep apnea
  • Asma
  • GERD

5. Behavioral Insomnia of  Childhood

Behavioral insomnia of childhood—sesuai dengan namanya—dialami oleh anak-anak. Anak tidak akan tidur tepat waktu dan teratur apabila tidak dibiasakan oleh orang tuanya sejak dini.

Alhasil, anak nantinya akan mengalami kesulitan untuk tidur tepat waktu. Kalaupun sudah tertidur, anak rentan untuk terbangun di malam hari dan sulit tidur kembali.

6. Insomnia Akibat Penyakit

Menderita suatu penyakit juga akan membuat seseorang jadi sulit untuk dapat tidur dengan nyenyak di malam hari. Beberapa jenis penyakit yang mengakibatkan insomnia adalah sebagai berikut:

  • Diabetes
  • Parkinson
  • Hipertiroidisme
  • Sleep apnea

7. Insomnia Akibat Obat-obatan

Selain penyakit, konsumsi obat-obatan menjadi pemicu selanjutnya dari insomnia. Insomnia akibat konsumsi obat-obatan ini apabila seseorang mengonsumsi jenis obat seperti:

  • Obat kemoterapi
  • Obat antidepresan
  • Obat penghambat beta

Akan tetapi, hal ini tidak berlaku untuk semua orang. Beberapa orang tetap memiliki kualitas tidur yang baik kendati mengonsumsi obat-obatan tersebut. Apabila Anda mengalami insomnia pasca mengonsumsi obat-obatan di atas, sebaiknya periksakan diri ke dokter guna mengembalikan tidur berkualitas Anda.

8. Insomnia Organik

Insomnia organik adalah istilah yang biasanya digunakan oleh dokter ketika belum dapat memastikan apa yang menjadi penyebab pasien mengalami kondisi tersebut, entah itu karena penyakit, obat-obatan, maupun kondisi psikologis.

Oleh sebab itu, dokter memerlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, barulah dokter dapat menentukan jenis insomnia apa yang dialami oleh pasien tersebut.

9. Insomnia Nonorganik

Apabila setelah pemeriksaan pasien tidak memiliki kriteria atau ciri-ciri yang mengindikasikan tipe insomnia pada umumnya, maka dokter akan mengatakan jika ini merupakan insomnia nonorganik.

10. Insomnia Idiopatik

Munculnya rasa kantuk sehingga Anda ingin tidur dipengaruhi oleh hormon melatonin. Pada beberapa orang, produksi hormon ini sangat sedikit di malam hari sehingga membuatnya tidak dapat merasakan kantuk. Kondisi tersebut lantas diberi nama insomnia idiopatik.

Akan tetapi, apa yang sebenarnya menjadi penyebab insomnia ini belum dapat diketahui secara pasti. Insomnia idiopatik biasanya akan dialami seumur hidup.

11. Insomnia Psikologis

Insomnia psikologis adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat tidur dengan nyenyak di malam hari dikarenakan adanya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan psikologis. Gangguan kesehatan yang dimaksud meliputi:

  • Stres
  • Cemas
  • Panik
  • Depresi

12. Insomnia Paradoks

Jenis yang terakhir adalah insomnia paradoks. Insomnia ini tergolong berat dikarenakan penderitanya tidak dapat tidur secara cukup di malam hari. Bahkan beberapa di antaranya tidak bisa tidur sama sekali. Parahnya, kondisi ini bisa terjadi berhari-hari.

Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami gangguan tidur yang satu ini dalam jangka waktu yang cukup lama.

Baca Juga: Insomnia: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Cara Mengatasi Insomnia

Tidak bisa tidur dengan nyenyak tentu menjadi hal yang tidak Anda inginkan, bukan? Lantas, bagaimana cara mengatasi insomnia ini? Berikut sejumlah tips yang bisa Anda terapkan:

  • Mengonsumsi obat-obatan (eszopiclone, zolpidem, antihistamin).
  • Mengonsumsi suplemen melatonin.
  • Bermeditasi sebelum tidur.
  • Memasang aromaterapi.
  • Mengelola stres dengan baik.

Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda perihal cara mengatasi insomnia, terutama untuk penggunaan obat-obatan. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. Insomnia. https://www.webmd.com/sleep-disorders/insomnia-symptoms-and-causes (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  2. Anonim. 11 Kinds of Insomnia. https://www.health.com/condition/sleep/the-11-kinds-of-insomnia#insomnia-due-to-a-medical-condition-0 (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  3. Lamoreux, K. 2020. Everything You Need to Know About Insomnia. https://www.healthline.com/health/insomnia#pregnancy (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  4. Longhurst, A. 2019. What Are the Different Types of Insomnia? https://www.healthline.com/health/types-of-insomnia#types (Diakses pada 11 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi