Terbit: 23 Oktober 2020 | Diperbarui: 24 Oktober 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi yang terjadi akibat penumpukan plak dan lemak pada dinding pembuluh darah. Ini menyebabkan sejumlah gejala ringan hingga berat. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari gejala, penyebab, pengobatan dan lainnya!

Penyakit Jantung Koroner: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, dll

Apa Itu Jantung Koroner

Jantung koroner adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh penumpukan kolesterol (plak), lemak, atau zat lainnya pada dinding pembuluh darah. Penumpukan plak dapat mempersempit arteri dan menurunkan aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke jantung.

Berkurangnya aliran darah ke jantung dapat menyebabkan nyeri dada (angina), sesak napas, atau tanda dan gejala lainnya. Penyumbatan total menyebabkan serangan jantung. Ini akan menjadi parah seiring bertambahnya usia, penurunan elastisitas pembuluh, paparan radikal bebas, dan plak pada bilik pembuluh darah.

Jantung koroner adalah kondisi yang juga disebut penyakit jantung iskemik atau penyakit arteri koroner. Ini termasuk salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, sekitar 35 persen kematian akibat penyakit jantung. Menurut Federasi Jantung Dunia, angka kematian akibat PJK di Asia Tenggara mencapai 1,8 juta pada 2014. 

Tanda dan Gejala Jantung Koroner

Jika plak belum menghambat aliran darah atau belum ada robekan plak, maka belum tentu muncul gejala. Namun, plak yang sudah cukup besar dan menyumbat pasokan darah ke jantung dapat menimbulkan berbagai gejala.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Berikut ini adalah sejumlah gejala jantung koroner:

1. Nyeri Dada

Kondisi ini bisa menjalar ke leher, rahang, bahu, dan tangan kiri, punggung, perut kiri. Nyeri terasa ringan sampai dengan berat seperti tertindih pada dada. Kebanyakan orang menyebutnya angina yang sering kali terjadi pada bagian tengah atau kiri dada.

Angina bisanya akibat stres fisik atau emosional. Kondisi ini sering kali hilang dalam beberapa menit setelah menghentikan aktivitas yang menyebabkan stres. Pada sebagian orang, terutama wanita, nyeri mungkin singkat dan tajam yang terasa pada leher, lengan, atau punggung.

2. Sesak Napas

Jika jantung tidak dapat memompa darah yang membawa oksigen dan nutrisi dengan cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, seseorang mungkin akan mengalami sesak napas atau kelelahan yang ekstrem saat beraktivitas.

3. Serangan Jantung

Arteri koroner yang tersumbat total akan menyebabkan serangan jantung. Tanda dan gejala serangan jantung yang umum, termasuk tekanan pada dada dan nyeri bahu atau lengan, atau terkadang sesak napas dan berkeringat, mual, muntah, dan mudah lelah.

Wanita lebih mungkin daripada pria untuk mengalami tanda dan gejala serangan jantung yang kurang umum, termasuk nyeri leher atau rahang. Penderitanya mungkin memiliki gejala lain seperti sesak napas, kelelahan, dan mual. Terkadang serangan jantung terjadi tanpa menimbulkan tanda atau gejala yang jelas.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami serangan jantung, hubungi nomor darurat atau segera ke rumah sakit terdekat. Jika tidak memiliki akses ke layanan medis darurat, minta pada seseorang untuk mengantar Anda ke rumah sakit.

Selain itu, berkonsultasi dengan dokter jika memiliki faktor risiko penyakit arteri koroner, termasuk:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Kolesterol tinggi.
  • Merokok.
  • Diabetes.
  • Obesitas.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung.

Dokter mungkin akan melakukan tes untuk penyakit arteri koroner, terutama jika memiliki tanda atau gejala arteri yang menyempit.

Penyebab Jantung Koroner

PJK berkembang akibat cedera atau kerusakan pada lapisan dalam arteri koroner. Kerusakan ini menyebabkan penimbunan lemak dari plak yang menumpuk pada lokasi cedera.

Endapan tersebut terdiri dari kolesterol dan produk limbah lainnya dari sel (aterosklerosis). Jika potongan plak pecah, trombosit akan berkumpul pada area tersebut untuk memperbaiki pembuluh darah. Penumpukan ini dapat menyumbat arteri dan mengurangi aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke jantung.

Jantung adalah otot yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Menurut Cleveland Clinic, jantung yang sehat dapat menyuplai sekitar 3.000 galon darah ke seluruh tubuh setiap hari.

Seperti organ atau otot lainnya, jantung harus menerima suplai darah yang cukup dan dapat digunakan untuk menjalankan fungsinya. Aliran darah yang berkurang ke jantung dapat menyebabkan gejala jantung koroner. Sedangkan penyumbatan total menyebabkan serangan jantung.

Baca Juga: Penyakit Jantung Bawaan: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Faktor Risiko Jantung Koroner

Faktor risiko penyakit arteri koroner meliputi:

  • Usia. Bertambahnya usia dapat meningkatkan risiko arteri mengalami kerusakan dan menyempit, terutama berusia 65 tahun ke atas.  
  • Jenis kelamin. Pria umumnya berisiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner daripada wanita. Namun, risiko wanita meningkat setelah mengalami menopause.
  • Riwayat keluarga. Seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung berisiko terkena penyakit arteri koroner yang lebih tinggi, terutama jika kerabat dekat memilikinya ketika masih sangat muda. Risiko Anda paling tinggi jika ayah atau saudara laki-laki menderita penyakit jantung sebelum usia 55 tahun atau jika ibu atau saudara perempuan mengembangkannya sebelum usia 65 tahun.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi). Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri, yang mempersempit aliran darah.
  • Merokok. Perokok aktif memiliki risiko penyakit jantung yang meningkat secara signifikan. Perokok pasif (yang menghirup asap rokok orang lain) juga meningkatkan risiko penyakit arteri koroner.
  • Kadar kolesterol darah tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah dapat meningkatkan risiko pembentukan plak dan aterosklerosis. Kolesterol tinggi terjadi akibat kadar kolesterol jahat atau LDL (low-density lipoprotein) yang tinggi. Kadar kolesterol baik atau HDL (high-density lipoprotein) yang rendah, juga dapat memicu perkembangan aterosklerosis.
  • Diabetes. Kadar gula darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit arteri koroner. Diabetes tipe 2 dan penyakit arteri koroner memiliki faktor risiko yang serupa, seperti obesitas dan hipertensi.
  • Kegemukan atau obesitas. Memiliki berat badan berlebih biasanya dapat memperburuk faktor risiko lainnya.
  • Tidak aktif secara fisik. Kurang olahraga atau bergerak juga terkait dengan penyakit arteri koroner dan beberapa faktor risikonya.
  • Pola makan tidak sehat. Terlalu banyak makan makanan yang mengandung banyak lemak jenuh, lemak trans, garam, dan gula dapat meningkatkan risiko penyakit arteri koroner.
  • Stres tinggi. Stres yang meningkat dan tidak berkurang dapat merusak arteri dan memperburuk faktor risiko lain untuk penyakit arteri koroner.

Diagnosis Jantung Koroner

Ada beberapa langkah yang untuk mendiagnosis PJK. Awalnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat medis, kemudian dokter akan merekomendasikan sejumlah tes dapat membantu mendiagnosis penyakit jantung koroner, termasuk:

  • Elektrokardiogram (EkG): Tes ini merekam aktivitas listrik dan irama jantung. Biasanya, EKG dapat mendeteksi riwayat serangan jantung sebelumnya atau yang sedang berlangsung.
  • Ekokardiogram: Merupakan scan ultrasound yang dapat memeriksa jantung memompa darah. Ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung.
  • Holter monitor: Ini adalah alat portabel yang pasien gunakan selama dua hari atau lebih. Tes ini mencatat semua aktivitas listrik jantung, termasuk detak jantung.
  • Tes stres: Jika tanda dan gejala sering muncul selama olahraga, dokter dapat menyarankan tes yang melibatkan penggunaan treadmill atau obat sebagai pengganti olahraga untuk menstimulasi jantung.
  • Kateterisasi koroner: Dokter menyuntikkan pewarna ke dalam arteri melalui kateter, biasanya pada kaki dan lengan. Pewarna tersebut akan menunjukkan bintik-bintik kecil atau penyumbatan melalui sinar X.
  • Computed tomography scan (CT scan): Tes ini membantu dokter untuk menggambarkan arteri, mendeteksi kalsium dalam endapan lemak, dan menunjukkan kelainan jantung.
  • Ventrikulografi nuklir: Tes yang menggunakan pelacak atau bahan radioaktif untuk menunjukkan ruang jantung. Dokter menyuntikkan pelacak ke pembuluh darah, kemudian menempel pada sel darah merah dan masuk ke jantung. Kamera atau pemindai khusus dapat melacak pergerakan material.
  • Tes darah: Tes untuk mengukur kadar kolesterol darah, terutama pada orang berusia 40 tahun ke atas, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau kondisi terkait kolesterol, obesitas, dan hipertensi atau kondisi lain seperti kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Pengobatan Jantung Koroner

Pengobatan dan perawatan untuk penyakit arteri koroner biasanya dengan perubahan gaya hidup, obat-obatan, dan operasi, dan prosedur medis tertentu lainnya.

Berikut ini cara mengobati penyakit jantung koroner:

1. Perubahan Gaya Hidup

Menjalani perubahan gaya hidup dapat mencegah dan memperlambat PJK, termasuk:

  • Berhenti merokok.
  • Kurangi makan makanan olahan.
  • Mengonsumsi makanan rendah lemak trans, garam, dan gula.
  • Mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. 
  • Mengonsumsi makanan yang baik untuk kesehatan jantung.
  • Hindari alkohol, atau setidaknya kurangi.
  • Olahraga secara teratur, tetapi berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memulai program olahraga.
  • Menjaga berat badan yang sehat.
  • Mengurangi stres.

2. Obat-obatan

Jika perubahan gaya hidup tidak efektif, mungkin dokter menyarankan penggunaan obat. Obat-obatan yang akan Anda konsumsi tergantung pada kondisi medis. Obat obatan ini termasuk:

  • Aspirin.
  • Obat untuk membantu kolesterol (statin, niasin, fibrat, dan asam empedu sequestrants).
  • Beta blockers.
  • Calcium channel blockers
  • Ranolazine.
  • Nitroglycerin.
  • Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors.
  • Angiotensin II receptor blockers (ARBs).
  • Evolocumab (Repatha), yang menurunkan risiko serangan jantung dan stroke pada penderita penyakit kardiovaskular.

4. Operasi dan Prosedur Lainnya

Perawatan yang umum untuk mengobati penyakit arteri koroner, termasuk:

  • Balloon angioplasty.
  • Operasi bypass arteri koroner.
  • Penempatan tabung kecil (stent) pada pembuluh darah jantung.

Perawatan tersebut dapat meningkatkan suplai darah ke jantung, tetapi tidak dapat menyembuhkan penyakit arteri koroner. Selain itu, dokter juga mempelajari cara baru untuk mengobati penyakit jantung, termasuk:

  • Angiogenesis. Pasien akan mendapatkan sel induk dan materi genetik lainnya melalui pembuluh darah atau langsung ke jaringan jantung yang rusak. Perawatan ini membantu pembuluh darah baru tumbuh dan mengelilingi yang tersumbat.
  • Enhanced external counterpulsation (EECP). Penderita angina jangka panjang tetapi belum mengonsumsi obat nitrat atau tidak memenuhi syarat untuk beberapa prosedur mungkin aman. Ini adalah prosedur rawat jalan yang menggunakan alat khusus pada kaki yang mengembang dan mengempis untuk meningkatkan suplai darah ke arteri koroner.

Komplikasi Jantung Koroner

Jika tanpa mendapatkan pengobatan, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berikut ini:

  • Irama jantung yang tidak normal (aritmia). Ketika irama jantung tidak teratur karena kerusakan pada jantung atau kurangnya suplai darah. Ini dapat menyebabkan gagal jantung atau memperburuk gejala. Detak jantung yang tidak teratur menyebabkan pembekuan darah pada jantung, dan ini menyebabkan stroke jika mencapai otak.
  • Serangan jantung. Ketika arteri koroner tersumbat total, menyebabkan sebagian otot jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Penyumbatan aliran darah ke otot jantung tersumbat bernama sindrom koroner akut.
  • Gagal jantung. Saat jantung terlalu lemah memasok darah untuk tubuh, ini bisa jadi karena jantung tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup atau karena kerusakan akibat serangan jantung.

Baca Juga: Gagal Jantung: Jenis, Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Pencegahan Jantung Koroner

Jantung koroner adalah penyakit yang dapat Anda cegah dengan beberapa cara, yakni menjalani gaya hidup sehat, olahraga teratur menjadi cara pencegahan yang sangat efektif. Selain itu, berikut ini sejumlah cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah PJK:

  • Mengontrol tekanan darah secara rutin dan menjaga agar tekanan darah dalam angka yang normal (<130/90 mmHg)
  • Tidak merokok.
  • Mengontrol kadar gula darah, kolestrol, dan trigliserida.
  • Perbanyak makan buah dan sayuran.
  • Menjaga berat badan yang sehat.
  • Hindari stres berlebih.

Makan Makanan yang Mencegah Jantung Koroner

Dokter mungkin merekomendasikan makanan yang mencegah penyakit jantung koroner, meliputi:

  • Minum produk susu bebas lemak atau rendah lemak.
  • Makan ikan yang mengandung tinggi asam lemak omega-3 (salmon atau tuna) sekitar dua kali seminggu.
  • Buah-buahan seperti apel, pisang, jeruk, pir, dan plum.
  • Kacang-kacangan seperti kacang merah, lentil, buncis, dan kacang polong.
  • Sayuran seperti brokoli, kubis, dan wortel.
  • Biji-bijian seperti oatmeal, beras merah, dan jagung tortilla.

Pantangan Makanan Penyakit Jantung

Ada beberapa pantangan makanan untuk PJK yang harus Anda perhatikan, termasuk:

  • Daging merah.
  • Gorengan, baik dengan minyak nabati maupun hewani.
  • Makanan dan minuman bergula. 

Jantung koroner adalah penyakit yang perlu untuk diwaspadai. Maka dari itu, untuk Anda yang ingin terhindar dari penyakit ini, selalu perhatikan gaya hidup sehat dan mengurangi hal-hal yang dapat menjadi penyebab PJK.

 

  1. Anonim. 2019. Coronary Artery Disease (CAD). https://www.cdc.gov/heartdisease/coronary_ad.htm. (Diakses pada 23 Oktober 2020)
  2. Anonim. 2020. Coronary Artery Disease. https://www.webmd.com/heart-disease/guide/heart-disease-coronary-artery-disease#1. (Diakses pada 23 Oktober 2020)
  3. Anonim. 2020. Coronary heart disease. https://www.nhs.uk/conditions/coronary-heart-disease/. https://www.nhs.uk/conditions/coronary-heart-disease/. (Diakses pada 23 Oktober 2020)
  4. Felman, Adam. 2019. What to know about coronary heart disease. https://www.medicalnewstoday.com/articles/184130. (Diakses pada 23 Oktober 2020)
  5. Higuera, Valencia. 2020. What Is Coronary Artery Disease?. https://www.healthline.com/health/coronary-artery-disease. (Diakses pada 23 Oktober 2020)
  6. Mayo Clinic Staff. 2020. Coronary artery disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronary-artery-disease/symptoms-causes/syc-20350613. (Diakses pada 23 Oktober 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi