Terbit: 30 Januari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan kita terkena stress. Sebagai contoh, kita mengalaminya karena faktor tekanan pekerjaan, kondisi ekonomi yang sedang cukup berat, atau adanya masalah internal dengan keluarga. Meskipun wajar terjadi pada setiap orang, pakar kesehatan dr. Sonia Wibisono ternyata menyebut stress sebagai masalah kesehatan yang tidak disepelekan. Tanpa kita sadari, stress bisa memicu datangnya penyakit berbahaya lho.

doktersehat-stres-kerja

Saat stres, kelenjar pituitary yang ada dalam otak kita akan menurunkan produksi hormon serotonin, hormon yang berperan dalam mengendalikan suasana hati, mengendalikan kinerja pankreas dalam memproduksi insulin, dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah adalah, jika sampai kinerja pankreas terganggu, maka produksi insulin akan menurun dan akhirnya membuat tubuh kesulitan mengendalikan kadar glukosa dalam darah. Jika hal ini terjadi, maka kita pun lebih rentan untuk terkena diabetes.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh pakar kesehatan dari Geisinger Health System, Danville, Pennsylvania, Amerika Serikat, disebutkan bahwa faktor lingkungan memang memiliki peran besar dalam memicu datangnya diabetes. Lingkungan yang tidak sehat dan bisa menyebabkan stres ternyata ikut menjadi pemicu datangnya penyakit ini pada sebagian besar dari 15.308 responden yang terlibat.

Mengingat diabetes termasuk dalam penyakit yang sangat mematikan dan sebagian masyarakat Indonesia masih menerapkan pola makan yang tidak sehat sehingga rentan terkena penyakit ini, kita pun sebaiknya tidak membiarkan stres berlarut-larut. Jika pikiran sudah mulai penat, cobalah untuk berpikir lebih positif dan belajar lebih ikhlas. Lakukan kegiatan yang dianggap mampu membuat suasana hati menjadi lebih baik seperti berolahraga, kembali bertemu dengan teman-teman, melakukan hobi yang sudah lama tak dilakukan, atau melakukan aktifitas lain yang dekat dengan alam.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi