Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Berbicara

Doktersehat-umur-anak-bisa-bicara
Photo Credit: Flickr.com/Giselle Durigan

DokterSehat.Com – Salah satu keluhan yang sering ditanyakan orang tua mengenai kondisi anak adalah tentang anak 2 tahun belum bisa bicara. Hanya sedikit potongan-potongan kata yang dapat terucap dan hal tersebut juga belum dapat dimengerti dengan mudah oleh lawan bicaranya. Lantas, usia berapa anak bisa bicara dengan lancar?

Umur Berapa Anak Bisa Bicara?

Umumnya, pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal akan dapat berbicara pada usia 1,5 tahun dengan menguasai setidaknya 5 kosakata yang konsisten. Sedangkan, saat memasuki anak 2 tahun, mereka memiliki banyak kosakata untuk berbicara dan dapat merangkai kalimat sederhana. Akan tetapi, jika anak 2 tahun belum bisa bicara, bukan berarti anak Anda mengalami kelainan.

Dari beberapa kasus yang terjadi, anak yang terlambat bicara adalah hal yang biasa dan bukan merupakan kelainan. Selain itu, orang tua dianjurkan untuk jangan terlalu membandingkan antara anak yang satu dengan anak-anak yang lain, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, jika Anda bertanya kapan anak bisa bicara dengan lancar jawaban adalah setiap anak memiliki kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda.

Pada umumnya, saat memasuki usia 2-3 tahun, perkembangan anak seharusnya sudah mencapai tahapan dapat menyebut beberapa benda, mengenali anggota tubuh bila disuruh menunjukkan, mengenal 5-6 benda, menggunakan kombinasi kata menjadi kalimat pendek, mendengarkan bila dibacakan cerita, serta dapat melakukan kontak mata dengan orang lain. Selain itu, anak usia 2 tahun setidaknya mampu mengucapkan 50 kata dan berkomunikasi menggunakan dua kosakata.

Penyebab Anak Belum Bisa Bicara

Pada dasarnya, keterlambatan bicara dan bahasa tergantung dari beberapa faktor, seperti faktor lingkungan atau gangguan pendengaran. Berikut adalah kondisi kesehatan yang mengindikasikan penyebab anak 2 tahun belum bisa bicara, antara lain:

  • Gangguan intelektual

Gangguan intelektual yang juga dikenal dengan istilah tunagrahita ditandai dengan kemampuan mental atau intelektual di bawah rata-rata. Seorang anak yang memiliki gangguan intelektual memiliki kemampuan menyerap informasi baru yang lebih lambat daripada orang pada umumnya.

  • Gangguan oral

Struktur oral (mulut) yang tidak biasa, seperti frenulum yang pendek pada lidah dapat membatasi seorang anak untuk bicara. Hal ini disebabkan oleh karena saat berbicara, pergerakan lidah yang terbatas bisa mengganggu produksi bunyi yang tepat.

  • Gangguan pendengaran

Tidak mampu mendengar membuat seorang anak mengalami telat berbicara. Ini karena bayi mulai berbicara ketika terbiasa mendengar dan menirukan bunyi-bunyian. Hilang pendengaran mungkin saja terjadi karena infeksi telinga kronis.

Perlu diperhatikan, saat anak 2 tahun belum bisa bicara bisa dicurigai jika anak belum mampu mengajukan pertanyaan sederhana, sulit menyanyikan lagu anak-anak yang sering diperdengarkan, atau perkataannya tidak kunjung dipahami oleh keluarga.

Orang tua harus sadar bahwa kemampuan bicara sama pentingnya dengan kemampuan lain dalam perkembangan anak usia 2 tahun.

Anak 2 tahun Belum Bisa Bicara, Normalkah?

Beberapa kasus yang sering dihadapi oleh orang tua adalah anak 2 tahun belum bisa bicara. Meski setiap anak memiliki kemampuan menyerap informasi yang berbeda-beda, sebagai orang tua Anda harus mewaspadai kemungkinan adanya gangguan perkembangan bicara dan kemampuan bahasa.

Perlu Anda perhatikan, jika kemampuan bicara anak Anda tertinggal cukup jauh dari anak seusianya, misalnya hanya bisa mengucapkan bunyi dan kata-kata tertentu berulang-ulang, atau tidak menggunakan kata-kata saat berkomunikasi, mungkin sudah saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter anak, psikiater anak atau ahli terapi wicara untuk mengevaluasi tumbuh kembangnya.

Terapi wicara tidak hanya mengevaluasi keterlambatan bicara pada tahap perkembangan anak usia 2 tahun, namun juga pemahaman anak tersebut ketika mendengar orang lain berbicara. Ketika anak sudah mampu mengatakan 50 kata, seharusnya ia sudah memahami arti kata lebih banyak lagi.

Selain itu, orang tua sebaiknya waspada jika pada usia 2 tahun belum mampu mengikuti perintah sederhana, anak tidak mengetahui fungsi alat yang digunakan sehari-hari, tidak dapat menggabungkan dua kata, atau tidak dapat mengenali organ tubuh yang sering disebutkan.

 

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan saat Anak 2 tahun Belum Bisa Bicara?

 

Sebagai orang tua (terutama ibu) ada baiknya untuk lebih tanggap dan memperhatikan ketika anak mengalami keterlambatan bicara. Berikut beberapa hal yang harus Anda lakukan atau perhatikan secara khusus, antara lain:

1. Konsultasi dengan dokter/psikolog/psikiater tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh anak pada usia tertentu. Usahakan mencari opini lain dari pakar atau orang tua lain untuk memperkuat pernyataan dokter dan memperkaya informasi tentang kondisi anak yang sebenarnya.

2. Jangan biarkan anak terlalu lama menatap layar digital. Kebiasaan ini akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Ketika terlalu lama menatap layar gawai atau televisi, anak akan merasa nyaman dengan tayangan gambar yang begitu menarik karena selalu bergerak dan penuh dengan warna.

Hal itu dapat menyebabkan berkurangnya ketertarikan anak pada objek yang statis/kurang menarik/kurang berwarna yang ada di lingkungan sekitarnya. Akibatnya anak cenderung menjadi pasif, kurang peka dan kurang fokus ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan yang dibutuhkan anak agar dapat mengadopsi kata-kata dari orang lain adalah dengan cara imitasi (meniru). Dalam proses imitasi diperlukan sensitivitas, keaktifan dan konsentrasi.

3. Sediakan waktu mengajak anak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini akan merangsang anak agar lebih termotivasi untuk belajar bicara, karena bermain bersama anak-anak yang lain membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.

4. Selalu menstimulasi dengan mengajak anak berkomunikasi. Meskipun anak belum mampu berbicara dengan baik. Masa batita (1-3 tahun) adalah masa meniru, sehingga ketika orang tua intens mengajaknya berbicara pasti kosakata anak semakin banyak pula.

5. Mengajarkan kata kepada anak dengan kata-kata yang jelas (intonasi, bentuk mulut/bibir saat mengucapkannya). Contoh: makan bukan maem atau mamam, minum bukan mik atau num, susu bukan cucu, dsb.

Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat buat kita semua, khususnya para ibu yang mungkin waktu bermainnya bersama buah hati hanya pada hari sabtu dan minggu.