IUD KB – Jenis, Efek Samping, Cara Memilih Kontrasepsi yang Tepat

IUD-Tembaga-doktersehat
photo credit: TIME

DokterSehat.Com – Setelah menikah dan akhirnya memiliki keturunan, beberapa orang memutuskan untuk melakukan KB dan menggunakan alat kontrasepsi. Dengan menggunakan alat kontrasepsi ini, kehamilan bisa dikendalikan sehingga seks yang dilakukan tidak akan berisiko dan pasangan bisa melakukannya dengan sempurna.

Ada banyak metode KB yang ada di Indonesia, namun IUD adalah salah satu yang banyak disarankan? Nah, kira-kira mengapa IUD sangat disarankan? Lalu jenis IUD mana yang tepat untuk beberapa jenis wanita? Simak ulasannya di bawah ini.

Alasan memilih IUD KB

Ada beberapa alasan mengapa wanita memutuskan untuk memilih IUD KB ketimbang alat kontrasepsi lain yang mudah didapatkan. Alasan itu terdiri dari:

  • Waktu pakainya cukup lama. Alat kontrasepsi yang dimasukkan ke serviks ini bisa bertahan selama 5-10 tahun tergantung dengan jenis. Dengan waktu pakai yang lama ini penggunaan IUD akan menjadi lebih hemat.
  • Tidak kebingungan kalau lupa mengganti alat kontrasepsi. Beberapa jenis alat kontrasepsi seperti pil hanya bisa bertahan selama satu hari dan untuk suntik 1-2 bulan sekali. Kalau lupa minum pil atau suntik, kemungkinan kebobolan akan besar.
  • Tidak menimbulkan kegemukan. Beberapa kontrasepsi seperti pil atau suntik menyebabkan obesitas dan membuat wanita lebih berisiko.
  • Peluang pencegahan kehamilan sangat tinggi dan lebih dari 99%. Artinya meski pria melakukan ejakulasi di dalam sekali pun, peluang kehamilan akan rendah.
  • Pemasangan dan pelepasan bisa dilakukan dengan cepat meski tetap membutuhkan tangan ahli seperti dokter atau bidan.
  • Cocok untuk memprogram kehamilan kembali. Misal ingin memiliki anak 3-5 tahun lagi, IUD tinggal dipasang lalu dilepas lagi saat berusaha mendapatkan keturunan.

Efek samping menggunakan IUD KB

Meski aman dan bisa memberikan perlindungan sempurna dari kehamilan yang tidak diinginkan, ada juga efek samping IUD KB. Berikut beberapa efek samping yang akan dirasakan oleh wanita dan pasangan:

  • Muncul rasa sakit yang cukup besar saat pemasangan. Beberapa wanita mungkin tidak terlalu merasakannya. Namun, banyak yang mengatakan kalau pemasangan IUD ini cukup menyakitkan meski durasinya tidak lama.
  • IUD tetaplah benda asing yang masuk ke sistem reproduksi wanita. Benda asing akan menyebabkan gesekan yang besar dan memicu terjadi perdarahan. Selama beberapa minggu atau bulan, wanita tetap akan mengalami perdarahan di luar menstruasi.
  • Rasa nyeri yang hebat di area perut bawah. Tubuh wanita masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan IUD yang dimasukkan ke dalam. Dalam beberapa bulan seks akan terasa sangat menyakitkan.
  • IUD bisa tersangkut di dalam dan susah dilepas. Kondisi ini bisa saja terjadi kalau orang yang memasangnya tidak hati-hati atau wanita melakukan kontraksi otot vagina.
  • Kemungkinan ada gangguan menstruasi tetap ada karena area serviks akan tertutup oleh ujung dari IUD yang melebar.

Jenis IUD KB beserta kelebihan dan kekurangannya

Kontrasepsi IUD tidak hanya terdiri dari satu jenis saja. Ada dua jenis kontrasepsi IUD KB yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan, berikut ulasan selengkapnya.

  1. Kontrasepsi IUD hormonal

Kontrasepsi IUD dengan sistem hormonal paling banyak digunakan oleh wanita. Kontrasepsi ini mengandung progestin yang merupakan sintetis dari progesteron. Saat menggunakan IUD hormonal, lendir di area serviks akan semakin banyak dan kental. Dengan kondisi ini sperma akan susah masuk menembus serviks dan sampai ke rahim.

Kalau pun nantinya sperma bisa masuk ke dalam rahim lalu berlanjut ke tuba falopi, implantasi akan susah terjadi. Pasalnya progestin yang masuk ke dalam tubuh akan membuat lapisan dari rahim semakin tipis. Kondisi ini menyebabkan janin tidak bisa menempel dan wanita menstruasi dengan sedikit darah.

KB dengan IUD hormonal ini sangat efektif dan nyaris 100 persen mencegah kehamilan. Selain itu, penggunaan IUD juga membuat wanita mengalami penurunan risiko terkena kanker serviks. Barangkali kekurangan dari kontrasepsi ini adalah tidak selalu cocok untuk wanita dengan infeksi panggul, gangguan di rahim, sering perdarahan, dan ada endometriosis yang berkanker.

  1. Kontrasepsi IUD tembaga

Cara kerja IUD tembaga adalah merusak sperma yang masuk ke serviks. Sperma yang menerobos akan dimatikan oleh sistem tubuh. Selanjutnya, IUD juga membuat sel telur yang diproduksi tidak sehat dan mudah mati. Dengan dua efek ini kemungkinan terjadi pembuahan akan rendah atau tidak ada sama sekali.

Kontrasepsi IUD tembaga ini tidak menggunakan hormon, jadi sangat aman untuk tubuh. Selain itu, kontrasepsi ini juga bisa bertahan selama 10 tahun, berbeda dengan jenis hormonal yang hanya bisa bertahan selama 3-6 tahun.

Kontrasepsi IUD KB dari tembaga ini bisa digunakan untuk kontrasepsi darurat. Misal saat kondom bocor padahal sedang tidak merencanakan kehamilan. Kekurangannya adalah muncul alergi dengan tembaga dan beberapa wanita mengalami menstruasi dengan darah yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Memilih alat kontrasepsi yang tepat

Memilih alat kontrasepsi yang terbaik itu sebenarnya relatif. Yang perlu Anda lakukan adalah melakukan diskusi dahulu dengan dokter dan juga bidan. Saat diskusi bicarakan apa yang suami inginkan dan rasakan. Kalau ingin seks yang nyaman dan tidak ada gangguan, mungkin jenis suntik atau pil bisa dipilih ketimbang IUD KB.

Kalau pria memiliki penis agak panjang atau lorong vagina lebih pendek, penetrasi akan menyakitkan. Ujung dari penarik IUD KB akan mengenai penis. Jadi, bicarakan dengan dokter dan pasangan agar menemukan satu alat kontrasepsi yang tidak hanya mencegah kehamilan, tapi juga meningkatkan kehidupan seksual.

Inilah sedikit ulasan tentang cara memilih kontrasepsi IUD yang sesuai dengan kebutuhan dan juga kondisi kesehatan wanita. Nah, Anda sendiri dan pasangan lebih memilih menggunakan IUD atau menggunakan alat kontrasepsi lain seperti kondom atau suntik?