DokterSehat.Com– Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna laktosa. Laktosa adalah zat gula alami yang ditemukan di susu dan semua produk olahan sapi. Hal ini disebabkan karena tidak tercukupinya produksi enzim laktase di dalam tubuh, enzim yang diproduksi di usus kecil—yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa. Meskipun intoleransi laktosa tidak berbahaya, gejala yang dirasakan dapat mengganggu pasien.



Jenis dan Penyebab Intoleransi laktosa

Ada tiga jenis intoleransi laktosa, dan semuanya memiliki penyebab berbeda. Berikut beberapa jenis dan penyebab intoleransi laktosa:

1. Intoleransi Laktosa Primer

Adalah Jenis intoleransi laktosa yang paling umum. Orang-orang yang mengalami intoleransi laktosa primer mulai memproduksi laktase yang banyak, suatu keharusan bagi bayi yang membutuhkan semua nutrisi dari susu.

Ketika anak-anak mulai beralih dari susu atau mengonsumsi makanan lain, produksi laktase biasanya menurun, tetapi  cukup tinggi untuk mencerna susu bagi orang dewasa.

Produksi laktase menurun tajam pada orang yang memiliki intoleransi laktosa primer, membuat makanan berbahan susu sulit dicerna saat dewasa. Intoleransi laktosa primer diderita secara genetik, terjadi pada sebagian besar orang keturunan Afrika, Asia atau Hispanik. Intoleransi jenis ini juga umum di antara orang-orang keturunan Mediterania atau Eropa Selatan.

2. Intoleransi Laktosa Sekunder

Jenis intoleransi laktosa ini terjadi ketika usus kecil mengurangi produksi laktase karena penyakit, cedera atau operasi usus kecil. Penyakit yang terkait dengan intoleransi laktosa sekunder adalah penyakit seliaka, pertumbuhan bakteri yang berlebihan, dan penyakit Crohn.

Perawatan kelainan yang mendasarinya dapat mengembalikan kadar laktase dan memperbaiki tanda dan gejala, meskipun ini membutuhkan waktu.

3. Intoleransi Laktosa Kongenital

Meski jenis intoleransi  laktosa ini termasuk jarang, bayi dengan intoleransi laktosa yang disebabkan oleh tidak adanya aktivitas laktase. Gangguan ini diturunkan dari generasi ke generasi dalam pola yang disebut autosom resesif, yang berarti bahwa ibu dan ayah harus menurunkan varian gen yang sama agar anak terpengaruh.

Bayi yang lahir prematur mungkin juga memiliki intoleransi laktosa karena tingkat laktase yang tidak mencukupi.

Faktor Risiko Intoleransi Laktosa

Beberapa faktor yang dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap intoleransi laktosa adalah:

1. Bertambahnya Usia

Intoleransi laktosa biasanya muncul pada usia dewasa. Tetapi kondisi ini jarang terjadi pada bayi dan anak kecil.

2. Etnis

Intoleransi laktosa paling sering terjadi pada orang-orang keturunan Afrika, Asia, Hispanik dan Amerika Indian.

3. Lahir Prematur

Bayi yang lahir prematur mengalami penurunan kadar laktase karena usus kecil tidak mengembangkan sel penghasil laktase hingga akhir trimester ketiga.

4. Penyakit di Usus Kecil

Masalah pada usus kecil dapat menyebabkan intoleransi laktosa, termasuk pertumbuhan bakteri yang berlebihan, penyakit celiak, dan penyakit Crohn.

5. Perawatan Kanker Tertentu

Jika pernah menjalani terapi radiasi untuk kanker di perut atau mengalami komplikasi usus akibat kemoterapi, risiko intoleransi laktosa meningkat.

Gejala Intoleransi Laktosa

Tingkat intoleransi laktosa masing-masing orang berbeda tergantung banyaknya jumlah enzim laktase yang dapat diproduksi oleh tubuh. Oleh karena itu, ada beberapa orang yang masih bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan sedikit laktosa, tetapi ada juga beberapa orang yang harus menghindarinya sama sekali.

Ciri-ciri intoleransi laktosa yang paling utama adalah:

  • Mual dan muntah
  • Keram dan nyeri perut
  • Perut penuh dengan gas
  • Perut kembung
  • Diare

Gejala intoleransi laktosa biasanya berlangsung 30 menit sampai 2 jam setelah minum produk susu atau olahan susu sapi. Keparahan gejala bervariasi, tergantung jumlah laktosa yang diminum atau dimakan seseorang dan seberapa tingkat toleransi laktosa pada tubuhnya.

Beberapa orang sensitif terhadap hanya sedikit makanan yang mengandung laktosa, sedangkan orang lain ada yang mampu makan makanan mengandung laktosa yang banyak sebelum gejala tampak.

Diagnosis Intoleransi Laktosa

Dokter akan mendiagnosis dengan memerhatikan ciri intoleransi laktosa dan respons ketika mengurangi jumlah makanan yang mengandung susu. Dokter dapat memastikan diagnosis intoleransi laktosa dengan melakukan salah satu atau lebih dari tes berikut ini:

1. Tes Toleransi Laktosa

Tes ini dapat mengukur reaksi tubuh terhadap cairan yang mengandung laktosa tingkat tinggi. Dua jam setelah minum cairan tersebut, Anda akan menjalani tes darah untuk mengukur jumlah glukosa dalam aliran darah. Jika kadar glukosa tidak naik, tandanya tubuh tidak mencerna dan menyerap minuman yang mengandung laktosa dengan baik.

2. Tes Napas Hidrogen

Tes yang satu ini juga mengharuskan Anda minum cairan yang mengandung laktosa tingkat tinggi. Kemudian dokter mengukur jumlah hidrogen dalam napas secara berkala. Umumnya, sangat sedikit hidrogen yang terdeteksi. Namun, jika tubuh  tidak mencerna laktosa, cairan tersebut akan berfermentasi di usus besar, melepaskan hidrogen dan gas-gas lain yang diserap oleh usus dan akhirnya diembuskan.

Jumlah hidrogen yang lebih besar dari jumlah normal diukur selama tes napas menunjukkan bahwa Anda tidak sepenuhnya mencerna dan menyerap laktosa dengan baik.

3. Sampel Tinja

Tes toleransi laktosa dan tes napas hidrogen tidak cocok pada bayi, oleh karenanya tes tinja dapat dilakukan. Tingginya kadar asetat dan asam lemak lain dalam tinja dapat menandakan intoleransi laktosa.

4. Penyakit atau Kondisi yang Mendasari

Jika gejala intoleransi laktosa bisa disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya, seperti penyakit celiac.

Komplikasi Intoleransi Laktosa

Susu dan produk susu lainnya mengandung kalsium, protein dan vitamin, seperti A, B12 dan D. Laktosa juga membantu tubuh menyerap sejumlah mineral lain, seperti magnesium dan zinc.

Vitamin dan mineral tersebut penting untuk perkembangan tulang yang kuat dan sehat. Jika intoleran terhadap laktosa, sulit bagi Anda untuk mendapatkan vitamin dan mineral penting dalam jumlah yang tepat.

Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan berat badan yang tidak sehat dan berisiko lebih tinggi terkena kondisi berikut:

  • Osteopenia: Di mana tubuh memiliki kepadatan mineral tulang yang sangat rendah. Jika tidak diobati, dapat berkembang menjadi osteoporosis.
  • Osteoporosis: Kondisi ini membuat tulang menjadi kurus dan lemah, dan risiko mengalami patah tulang.
  • Malnutrisi: Ketika makanan yang Anda makan tidak memberi nutrisi penting untuk tubuh yang berfungsi untuk kesehatan. Kondisi ini membuat penyembuhan luka pada tubuh membutuhkan waktu lebih lama dan mungkin terasa lelah atau tertekan.

Jika Anda khawatir berisiko mengalami komplikasi akibat tidak toleransi laktosa, sebaiknya konsultasi dengan ahli gizi, untuk mendapatkan saran tentang diet dan apakah diperlukan suplemen makanan.

Pengobatan Intoleransi Laktosa secara Alami

Jika tidak ingin berhenti minum susu atau produk berbahan susu, berikut beberapa cara mengatasi intoleransi laktosa:

1. Suplemen Enzim

Suplemen ini dapat membantu mencerna laktosa. Suplemen enzim berupa tablet yang ditelan atau diteteskan pada makanan dan minuman.

Namun, respons suplemen enzim berbeda dari orang ke orang. Tetapi, suplemen enzim laktase mungkin sangat efektif untuk beberapa orang.

2. Paparan Laktosa

Jika Anda tidak toleran laktosa, menambahkan laktosa secara teratur dalam makanan Anda dapat membantu tubuh beradaptasi.

3. Probiotik dan Prebiotik

Cara mengatasi intoleransi laktosa berikutnya mengonsumsi probiotik. Probiotik adalah mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesehatan. Prebiotik merupakan jenis serat yang berfungsi sebagai makanan bagi bakteri menguntungkan yang sudah dimiliki di usus, sehingga dapat berkembang.

Makanan Alternatif Pengganti Susu

Produk susu adalah sumber kalsium, protein, vitamin A, vitamin B12, dan vitamin D. Menghindari susu karena intoleran laktosa dapat menyebabkan kekurangan gizi, kecuali jika diganti dengan makanan yang kandungan gizi serupa. Berikut adalah makanan sumber alternatif pengganti susu:

1. Kalsium

Rumput laut, kacang-kacangan dan biji-bijian, jeruk, quinoa, bayam, collard greens, okra, brokoli, daun dandelion, kangkung, dan produk yang diperkaya seperti jus jeruk dan susu nabati.

3. Vitamin A

Vitamin yang satu ini bisa Anda dapatkan dari wortel, brokoli, ubi jalar, minyak ikan cod, hati, bayam, kacang polong, telur, aprikot, labu, melon, pepaya, dan mangga.

4. Vitamin D

Kadar vitamin D dapat ditingkatkan dengan berjemur di bawah sinar matahari, mengonsumsi ikan berlemak, telur, minyak hati ikan, dan susu nabati yang diperkaya.

5. Susu Bebas Laktosa

Orang yang memiliki gejala intoleransi laktosa berat harus memeriksa label produk makanan untuk memastikan bahwa kadar laktosa nol. Sebagai penggantinya, Anda bisa mengonsumsi susu berbasis sayuran yang mengandung lebih sedikit protein daripada susu sapi.

Menurut Nutrition Australia, kebanyakan penderita intoleransi laktosa tidak harus menghindari semua produk susu. Bahkan orang yang memiliki kadar laktase rendah biasanya dapat mentolerir hingga 12 gram laktosa sehari atau satu cangkir susu.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Antonius Hapindra Kasim

 

Sumber:

  1. Anonim. 2019. What Causes Lactose Intolerance?. https://www.webmd.com/digestive-disorders/causes-lactose-intolerance#1. (Diakses 3 Desember 2019)
  2. Anonim. 2018. Lactose intolerance. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lactose-intolerance/symptoms-causes/syc-20374232. (Diakses 3 Desember 2019)
  3. Brazier, Yvette. 2018. Lactose intolerance: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/180120.php. (Diakses 3 Desember 2019)
  4. Anonim. 2019. Lactose intolerance. https://www.nhs.uk/conditions/lactose-intolerance/. (Diakses 3 Desember 2019)
  5. West, Helen. 2017. Lactose Intolerance 101 — Causes, Symptoms and Treatment. https://www.healthline.com/nutrition/lactose-intolerance-101#section8. (Diakses 3 Desember 2019)