Terbit: 18 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Inkontinensia usus adalah gangguan pencernaan yang harus Anda waspadai karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Simak informasi selengkapnya mulai dari gejala, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahan.

Inkontinensia Usus: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

Apa Itu Inkontinensia Usus?

Inkontinensia usus adalah ketidakmampuan usus untuk mengontrol buang air besar (BAB). Akibat masalah ini, tinja bisa tiba-tiba keluar dari dubur tanpa diketahui oleh penderita.

Inkontinensia usus (bowel incontinence) atau disebut juga inkontinensia tinja memang bukan gangguan kesehatan serius yang bisa mengancam jiwa. Akan tetapi, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Bowel incontinence umumnya dialami oleh mereka yang sudah memasuki usia lanjut, tepatnya usia 65 tahun ke atas.

Ciri dan Gejala Inkontinensia Usus

Ciri-ciri inkontinensia usus adalah tinja yang kerap tiba-tiba keluar dari dubur tanpa disadari oleh penderitanya sehingga akan menimbulkan ketidaknyamanan terutama ketika sedang berada di keramaian. Pada kasus ini, penderita mengalami yang namanya inkontinensia tinja pasif (passive incontinence).

Sementara pada kasus ketika seseorang mengalami dorongan untuk buang air besar secara spontan hingga sulit dikendalikan, itu artinya orang tersebut mengalami inkontinensia tinja yang mendesak (urge incontinence).

Gejala buang air besar secara tiba-tiba ini akan semakin parah apabila penderita kebetulan juga sedang mengalami masalah pencernaan lainnya seperti diare dan sembelit. Selain itu, penderita inkontinensia mungkin juga akan mengalami gejala lain, seperti:

  • Sakit perut
  • Kram perut
  • Perut kembung
  • Gatal pada anus
  • Inkontinensia urine

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala di atas. Terlebih jika buang air besar disertai dengan darah karena ini bisa jadi menjadi pertanda dari sejumlah masalah kesehatan lainnya yang lebih serius seperti:

  • Radang usus besar
  • Penyakit Crohn
  • Kolitis ulseratif
  • Tumor usus besar

Penyebab Inkontinensia Usus

Penyebab paling umum dari inkontinensia usus adalah kerusakan pada otot-otot di sekitar anus (sfingter anal). Melahirkan pervagina (melahirkan normal) bisa merusak sfingter anal atau saraf tersebut, dalam beberapa kasus. Itulah mengapa wanita lebih berisiko untuk mengalami inkontinensia usus ini ketimbang pria.

Selain karena melahirkan secara normal, operasi dubur juga dapat merusak sfingter anal atau saraf yang kemudian mengarah ke inkontinensia tinja ini.

Ada banyak penyebab potensial lain dari inkontinensia usus, yaitu:

  • Diare, sering disebabkan oleh infeksi atau sindrom iritasi usus besar
  • Impaksi tinja karena sembelit parah, sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua
  • Terdapat jaringan parut pada dinding rektum, sehingga daya tampung rektum berkurang
  • Penyakit radang usus, penyakit Crohn atau kolitis ulseratif
  • Kerusakan saraf karena diabetes, cedera tulang belakang, multiple sclerosis, atau kondisi lainnya
  • Kerusakan karena radiasi ke rektum, seperti setelah pengobatan untuk kanker prostat
  • Penurunan fungsi kognitif, seperti setelah stroke atau penyakit Alzheimer lanjut
  • Penggunaan obat pencahar dalam jangka waktu lama

Faktor Risiko Inkontinensia Usus

Sejumlah faktor akan meningkatkan risiko seseorang untuk terkena inkontinensia usus. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Usia. Mereka yang berusia 65 tahun ke atas lebih rentan mengalami inkontinensia.
  • Jenis kelamin. Bowel incontinence lebih rentan dialami oleh wanita ketimbang pria.
  • Kerusakan saraf. Menderita kerusakan saraf, entah itu akibat diabetes atau multiple sclerosis, membuat seseorang berisiko mengalami inkontinensia.

Diagnosis Inkontinensia Usus

Guna mendiagnosis inkontinensia usus pada pasien, dokter akan melakukan serangkaian tes yang terdiri dari:

  • Pemeriksaan tinja. Jika ada diare, pemeriksaan tinja atau feses dapat mengidentifikasi infeksi atau penyebab lainnya.
  • Tabung berkamera kecil di ujungnya dimasukkan ke anus (kolonoskopi/anoskopi). Pemeriksaan ini mengidentifikasi masalah potensial dalam lubang anus atau usus besar. Sebuah tabung pendek yang kaku (anoscopy) atau tabung fleksibel yang lebih panjang (sigmoidoskopi atau kolonoskopi) dapat digunakan untuk memeriksa bagian dalam usus dan anus.
  • Manometri Anorektal. Sebuah monitor tekanan dimasukkan ke dalam anus dan rektum. Hal ini memungkinkan pengukuran kekuatan otot sfingter.
  • Probe USG dimasukkan ke anus. Ini menghasilkan gambar yang dapat membantu mengidentifikasi masalah di dinding anus dan rektum.
  • Tes saraf. Tes ini mengukur respons saraf mengendalikan otot sphincter. Mereka dapat mendeteksi kerusakan saraf yang dapat menyebabkan inkontinensia usus.
  • MRI defecography. Pencitraan resonansi magnetik panggul dapat dilakukan, berpotensi sementara seseorang mengeluarkan tinjanya pada toilet khusus. Hal ini dapat memberikan informasi tentang otot dan struktur pendukung di anus, rektum, dan panggul.

Pengobatan Inkontinensia Usus

Inkontinensia usus biasanya dapat diobati. Dalam banyak kasus, masalah ini dapat disembuhkan sepenuhnya. Perawatan yang direkomendasikan bervariasi sesuai dengan penyebab inkontinensia. Sering kali, lebih dari satu metode pengobatan diperlukan untuk mengontrol gejala.

Perawatan nonbedah sering direkomendasikan sebagai pengobatan awal untuk inkontinensia tinja. Perawatan yang dimaksud adalah sebagai berikut

1. Diet

Langkah-langkah ini mungkin dapat membantu:

  • Mengonsumsi makanan berserat 20-30 gram serat per hari. Hal ini dapat membuat tinja lebih besar dan lebih mudah untuk ditahan.
  • Hindari kafein. Hal ini dapat membantu mencegah diare.
  • Minum beberapa gelas air setiap hari. Hal ini dapat mencegah sembelit.

2. Obat

Cobalah obat ini untuk mengurangi pergerakan usus dan sensasi ingin BAB:

  • Imodium
  • Lomotil
  • Hyoscyamine

Metilselulosa dapat membantu membuat tinja yang cair menjadi lebih padat dan lebih mudah untuk ditahan. Bagi orang-orang dengan penyebab spesifik dari diare, seperti sindrom radang usus, obat-obatan lainnya juga dapat membantu.

3. Terapi Fisik

Pengobatan juga bisa dengan melakukan terapi fisik. Terapi fisik yang dimaksud adalah:

  • Latihan. Memulai program rutin untuk otot yang digunakan untuk mengontrol aliran urine, seperti latihan kegel. Ini membangun kekuatan pada otot panggul dan dapat membantu mengurangi inkontinensia usus.
  • Pelatihan usus. Menggerakkan usus untuk BAB pada waktu yang sama setiap hari. Hal ini dapat membantu mencegah terjadinya BAB yang tidak sengaja.
  • Biofeedback. Sebuah sensor ditempatkan di dalam anus dan di dinding perut. Ini memberikan umpan balik yang dilakukan seseorang latihan untuk meningkatkan kontrol usus.

Pada kasus yang sudah terbilang parah, tindakan medis mungkin akan dilakukan. Tindakan medis yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

  • Operasi sfingter. Seorang ahli bedah bisa menjahit otot-otot dubur lebih erat bersama-sama (sphincteroplasty). Atau ahli bedah mengambil otot dari panggul atau pantat untuk mendukung otot anal lemah (transposisi otot). Operasi ini dapat menyembuhkan banyak orang dengan inkontinensia usus yang disebabkan oleh robekan otot sfingter anal.
  • Stimulator saraf sakral. Seorang ahli bedah implan perangkat yang merangsang saraf panggul. Prosedur ini mungkin yang paling efektif pada orang dengan inkontinensia usus akibat kerusakan saraf.
  • Perangkat manset sfingter. Seorang ahli bedah dapat menanamkan sebuah manset karet yang mengelilingi anal sfingter. Seseorang dapat mengempiskan manset saat buang air besar dan reinflates untuk mencegah inkontinensia usus.
  • Kolostomi. Operasi untuk mengarahkan usus besar melalui sebuah lubang dibuat pada kulit perut. Kolostomi hanya dipertimbangkan ketika inkontinensia usus berlanjut meskipun semua prosedur telah dilakukan.
  • Remodeling sfingter anal dengan radiofrekuensi. Probe dimasukkan ke dalam anus mengarahkan jumlah energi panas yang dikontrol ke dinding dubur. Remodeling ini menciptakan cedera ringan pada otot sfingter sehingga otot sfingter menjadi lebih tebal.
  • Biomaterial suntik. Bahan seperti silikon, kolagen, atau dextranomer atau asam hyaluronic dapat disuntikkan ke sfingter anal untuk meningkatkan ketebalan dan fungsinya.

Pencegahan Inkontinensia Usus

Inkontinensia usus tentu saja dapat dicegah. Beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk mencegah inkontinensia tinja ini adalah sebagai berikut:

  • Banyak konsumsi makanan berserat.
  • Mencegah diare.
  • Tidak mengejan saat buang air besar.
  • Olahraga teratur.

 

  1. Anonim. Bowel Incontinence. https://www.webmd.com/digestive-disorders/bowel-incontinence#1 (diakses pada 18 Agustus 2020)
  2. Anonim. Fecal Incontinence. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fecal-incontinence/symptoms-causes/syc-20351397 (diakses pada 18 Agustus 2020)
  3. Brazier, Y. 2018. What to know about bowel incontinence. https://www.medicalnewstoday.com/articles/165583#symptoms (diakses pada 18 Agustus 2020)
  4. Kivi, R. 2012. Fenal Incontinence. https://www.healthline.com/health/bowel-incontinence (diakses pada 18 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi