Terbit: 17 November 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Inkontinensia urine adalah salah satu masalah kesehatan yang perlu Anda ketahui dan waspadai, kendati hal tersebut umumnya bukan merupakan kondisi yang berbahaya. Simak penjelasan lengkap mengenai inkontinensia urine mulai dari gejala, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya berikut ini.

Inkontinensia Urine: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Inkontinensia Urine?

Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu untuk menahan buang air kecil. Hal ini bisa terjadi karena adanya gangguan pada katup (sfingter) dari kandung kemih, entah karena otot sfingter tersebut melemah atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali.

Masalah kesehatan ini dapat terjadi pada siapa saja, namun orang lanjut usia (lansia) menjadi kelompok yang paling sering mengalaminya. Sementara itu, data dari American Urological Association menunjukkan jika wanita lebih berpotensi mengalami inkontinensia urine ketimbang pria, yakni dengan persentase 30 persen.

Ciri dan Gejala Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine ditandai oleh gejala berupa keluarnya urine—baik dalam jumlah kecil maupun sedang—bahkan ketika penderitanya sedang tidak ingin buang air kecil. Berdasarkan hal tersebut, kondisi ini terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Stress Incontinence 

Stress incontinence adalah kondisi ketika urine keluar secara spontan saat kandung kemih mengalami tekanan akibat aktivitas-aktivitas seperti:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

  • Bersin
  • Batuk
  • Tertawa
  • Olahraga
  • Mengangkat benda berat

2. Urge Incontinence

Jenis selanjutnya adalah urge incontinence atau inkontinensia mendesak. Kondisi ini terjadi saat seseorang tiba-tiba ingin buang air kecil yang diikuti dengan keluarnya urine secara tidak sengaja.

Penderita jenis inkontinensia yang satu ini mungkin perlu sering buang air kecil, termasuk sepanjang malam. Inkontinensia yang mendesak dapat disebabkan oleh kondisi kecil seperti infeksi, atau kondisi yang lebih parah seperti gangguan neurologis dan diabetes.

3. Functional Incontinence

Functional incontinence adalah ketidakmampuan untuk menahan keluarnya urine akibat adanya gangguan fisik maupun mental. Sebagai contoh, penderita radang sendi (artrhritis) parah mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk menahan buang air kecil sebelum sampai di toilet

4. Overflow Incontinence

Jenis inkontinensia yang satu ini terjadi jika Anda tidak mengosongkan kandung kemih sepenuhnya saat buang air kecil. Nantinya, urine yang masih tersisa mungkin bocor dari kandung kemih Anda.

5. Mixed Incontinence

Sesuai dengan namanya, Anda yang menderita mixed incontinence akan mengalami lebih dari satu jenis inkontinensia secara bersamaan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Kondisi ini tentunya akan menimbulkan ketidaknyamana. Jika inkontinensia urine sering terjadi hingga memengaruhi kualitas hidup Anda, penting untuk memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, inkontinensia jika dibiarkan begitu saja dapat:

  • Mengganggu aktivitas
  • Memengaruhi psikologis
  • Meningkatkan risiko kecelakaan—seperti terjatuh—pada lansia

Penyebab Inkontinensia Urine

Perlu Anda tahu bahwa inkontinensia urine bukanlah penyakit, melainkan gejala. Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab dari kondisi ini, mulai dari kebiasaan sehari-hari, kondisi medis yang mendasari, hingga gangguan fisik.

Berdasarkan faktor penyebab, inkontinensia ini terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:

1. Inkontinensia Urine Sementara

Inkontinensia jenis ini biasanya terjadi karena konsumsi makanan, minuman, mapun obat-obatan, seperti:

  • Minuman beralkohol
  • Kopi
  • Teh
  • Minuman bersoda
  • Cokelat
  • Bubuk cabai
  • Buah sitrus
  • Obat antihipertensi
  • Obat relaksan otot
  • Suplemen vitamin C (dalam dosis tinggi)

Selain itu, kondisi ini juga terpengaruh oleh kondisi medis. Kondisi medis yang dimaksud adalah:

  • Susah buang air besar (sembelit). Feses yang menumpuk akan memberikan tekanan pada kandung kemih sehingga terjadilah kebocoran urine.
  • Infeksi saluran kemih (ISK). Penyakit ini memicu terjadinya iritasi pada kandung kemih. Adanya iritasi inilah yang menyebabkan inkontinensia.

2. Inkontinensia Urine Tetap

Inkontinensia air kencing juga bisa menjadi kondisi persisten yang disebabkan oleh masalah atau perubahan fisik tertentu, contohnya:

  • Kehamilan. Perubahan hormonal dan peningkatan berat badan janin dapat inkontinensia karena adanya tekanan terhadap kandung kemih.
  • Persalinan. Persalinan secara normal—melalui vagina—berdampak pada melemahnya otot-otot untuk mengontrol kandung kemih, pun merusak saraf kandung kemih dan jaringan pendukung, yang menyebabkan dasar panggul turun (prolaps). Dengan prolaps, kandung kemih, rahim, rektum atau usus kecil bisa terdorong ke bawah dari posisi biasanya dan menonjol ke dalam vagina. Tonjolan seperti itu dapat memicu inkontinensia.
  • Bertambahnya usia. Penuaan otot kandung kemih dapat menurunkan kapasitas kandung kemih untuk menyimpan urine. Selain itu, kontraksi kandung kemih tidak sengaja menjadi lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia.
  • Menopause. Setelah menopause, wanita menghasilkan lebih sedikit estrogen, yakni hormon yang membantu menjaga kesehatan lapisan kandung kemih dan uretra. Alhasil, terjadi kerusakan jaringan pada kandung kemih sehingga dapat memperburuk inkontinensia.
  • Pengangkatan rahim (Histerektomi). Pada wanita, kandung kemih dan rahim memiliki banyak otot dan ligamen yang sama. Setiap operasi yang melibatkan sistem reproduksi wanita—termasuk pengangkatan rahim—dapat merusak otot dasar panggul pendukung yang dapat menyebabkan inkontinensia.
  • Pembesaran prostat. Terutama pada pria yang lebih tua, kondisi ini sering kali berasal dari pembesaran kelenjar prostat, suatu kondisi yang bernama hiperplasia prostat jinak.
  • Kanker prostat. Pada pria, stress incontinence atau urge incontinence juga bisa menjadi pertanda dari kanker prostat. Tetapi lebih sering, inkontinensia merupakan efek samping dari pengobatan kanker prostat.
  • Tumor. Adanya tumor pada sepanjang saluran kemih dapat menghalangi aliran normal urine, yang lantas menyebabkan inkontinensia.
  • Kelainan saraf. Sklerosis ganda (multiple sclerosis), penyakit Parkinson, stroke, tumor otak, atau cedera tulang belakang dapat mengganggu sinyal saraf yang terlibat dalam pengendalian kandung kemih.

Faktor Risiko Inkontinensia Urine

Sementara itu, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  • Jenis kelamin. Wanita lebih cenderung mengalami inkontinensia stres. Kehamilan, persalinan, menopause dan anatomi wanita normal diduga menjadi alasan mengapa kaum hawa lebih berpotensi.
  • Usia. Seiring bertambahnya usia, otot kandung kemih dan uretra kehilangan sebagian kekuatannya. Perubahan seiring bertambahnya usia mengurangi seberapa banyak kandung kemih Anda dapat menahan dan meningkatkan kemungkinan keluarnya urine tanpa sengaja.
  • Kelebihan berat badan. Berat badan berlebih meningkatkan tekanan pada kandung kemih dan otot di sekitarnya, sehingga memungkinkan urine keluar terutama saat batuk atau bersin.
  • Merokok. Kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko inkontinensia air kencing.
  • Genetik. Jika ada anggota keluarga dengan kondisi ini, maka risiko Anda untuk mengalami hal yang sama semakin tinggi.
  • Penyakit. Penderita penyakit neurologis atau diabetes berpotensi mengalami kondisi ini.

Diagnosis Inkontinensia Urine

Dalam mendiagnosis masalah kesehatan yang satu ini, dokter pertama-tama akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien seperti pertanyaan tentang gejala yang muncul, gaya hidup sehari-hari—termasuk makanan, minuman, dan obat-obatan yang dikonsumsi—hingga riwayat penyakit. Setelah itu, barulah dokter akan melakukan sejumlah prosedur pemeriksaan.

Prosedur pemeriksaan pada kasus inkontinensia urine adalah:

  • Analisis urine. Dokter akan memeriksan sampel urine untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi, jejak darah, atau kelainan lainnya.
  • Pencatatan aktivitas kandung kemih. Selama beberapa hari, dokter akan meminta pasien untuk mencatat frekuensi minum, frekuensi buang air kecil, dan volume urine ketika berkemih.
  • Pengukuran sisa pasca-void. Dokter meminta pasien untuk buang air kecil (void) dan memasukannya ke dalam wadah khusus. Kemudian, dokter akan memeriksa jumlah sisa urine pada kandung kemih menggunakan kateter atau USG. Seberapa banyak sisa urine pada kandung kemih akan menunjukkan masalah yang terjadi.

Pengobatan Inkontinensia Urine

Ada sekian macam metode pengobatan inkontinensia urine, dan hal ini tergantung dari jenis serta tingkat keparahan kondisi yang pasien alami. Metode pengobatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Terapi Kandung Kemih

Terapi kandung kemih terdiri dari sejumlah metode yang tujuannya untuk melatih organ tersebut dalam mengendalikan urine. Pelatihan kandung kemih membantu pasien secara bertahap mendapatkan kembali kendali atas kandung kemih mereka.

2. Latihan Otot Pelvis

Dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk  sering melakukan latihan ini guna memperkuat otot yang membantu mengontrol buang air kecil. Juga dikenal sebagai latihan Kegel, latihan ini sangat efektif untuk mengatasi inkontinensia, khususnya stress incontinence.

3. Obat-obatan

Selain itu, dokter akan meresepkan sejumlah obat-obatan untuk membantu mengatasi masalah ini. Obat-obatan tersebut meliputi:

  • Antikolinergik
  • Mirabegron
  • Penghambat alfa (alpha-blockers)
  • Estrogen topikal

4. Pemasangan Alat Khusus

Pada wanita, dokter bisa saja menyarankan pasien untuk menggunakan alat bantu untuk membantu kandung kemih dalam mengontrol keluarnya urine. Alat-alat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Urethral insert, yakni alat kecil sekali pakai seperti tampon yang dimasukkan ke dalam uretra sebelum aktivitas tertentu yang dapat memicu inkontinensia. Alat ini bertindak sebagai sumbat untuk mencegah kebocoran. 
  • Pessarium, adalah cincin kaku yang pasien masukkan ke dalam vagina dan dipakai sepanjang hari. Perangkat ini biasanya digunakan pada seseorang yang mengalami prolaps yang menyebabkan inkontinensia. Pessarium membantu menahan kandung sehingga terhindar dari kebocoran urine.

5. Operasi

Apabila cara-cara sebelumnya tidak cukup ampuh untuk mengobati inkontinensia urine ini, maka tindakan operasi menjadi jalan terakhir. Operasi meliputi:

  • Menaikkan leher kandung kemih (kolposuspensi).
  • Memasang jaringan buatan pada saluran kemih bagian belakang.
  • Membuat otot buatan di sekitar leher kandung kemih.
  • Perbaikan otot panggul.

Pencegahan Inkontinensia Urine

Inkontinensia urin tidak selalu dapat dicegah. Namun, Anda bisa menghindari faktor risikonya dengan cara-cara berikut:

  • Pertahankan berat badan yang sehat.
  • Lakukan latihan dasar panggul.
  • Hindari makanan maupun minuman yang dapat mengiritasi kandung kemih seperti kafein, alkohol, dan makanan asam.
  • Makan lebih banyak serat agar terhindar dari sembelit.
  • Hindari kebiasaan merokok.

 

  1. Anonim. Urinary Incontinence. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urinary-incontinence/symptoms-causes/syc-20352808 (accessed on 17 November 2020)
  2. Anonim. Urinary Incontinence. https://www.nhs.uk/conditions/urinary-incontinence/ (accessed on 17 November 2020)
  3. Ellis, M. 2020. Why Am I Experiencing Urinary Incontinence? https://www.healthline.com/health/urinary-incontinence#diagnosis (accessed on 17 November 2020)
  4. Newman, T. 2017. Urinary incontinence: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/165408#treatment (accessed on 17 November 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi