Terbit: 22 Februari 2018 | Diperbarui: 27 April 2018
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Apakah Anda punya kebiasaan makan dengan cepat? Jika iya, sepertinya Anda harus mengurangi kebiasaan ini. Makan terlalu cepat, selain bisa membuat Anda tersedak, hal ini juga bisa memengaruhi kesehatan Anda.

Inilah yang Terjadi Pada Tubuh Apabila Makan Terlalu Cepat

Seperti dikutip dari laman independent.co.uk makan dengan cepat dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula dalam darah dan bisa menyebabkan resistensi insulin. Tidak hanya itu, makan terlalu cepat juga membuat Anda berisiko tinggi untuk terkena sindrom metabolik.

Sindrom metabolik adalah istilah yang menggambarkan kombinasi dari sejumlah kondisi, yaitu hipertensi (tekanan darah tinggi), hiperglikemia (kadar gula darah tinggi), hiperkolesterolemia (kadar kolesterol tinggi), dan obesitas, yang dialami secara bersamaan.

Menguji efek negatif makan cepat
Sebuah tim dari Hiroshima University meneliti 642 pria dan 441 wanita dengan usia rata-rata 51,2 tahun, yang tidak memiliki sindrom metabolik. Para peserta dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan kecepatan makan: lambat, normal dan cepat.

Lima tahun kemudian, para peneliti meneliti ulang partisipan. Hasilnya mengungkapkan, mereka yang makan cepat lebih mungkin (11,6 persen) mengembangkan sindrom metabolik daripada pemakan normal (6,5 persen) dan pemakan lambat (2,3 persen). Penelitian itu juga mengungkapkan, makan cepat dikaitkan dengan penambahan berat badan, lingkar pinggang lebih besar dan kadar gula dalam darah yang lebih tinggi.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

“Makan lebih lambat mungkin merupakan perubahan gaya hidup yang penting untuk membantu mencegah sindrom metabolik,” kata penulis utama di studi ini, Takayuki Yamaji, M.D.

“Saat orang makan cepat, mereka cenderung tidak merasa kenyang dan lebih cenderung makan berlebihan. Makan cepat menyebabkan fluktuasi glukosa yang lebih besar, yang dapat menyebabkan resistensi insulin,” imbuhnya.

Senada dengan hal ini, menurut Peace Health Medical Group, makan terlalu cepat dapat menganggu tubuh untuk mengenali rasa kenyang. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, maka tubuh Anda bisa berhenti untuk memberikan tanda lapar atau kenyang. Pada akhirnya, Anda hanya mengandalkan emosi untuk memberi tahu kapan Anda harus makan.

Sementara itu, menurut U.S. National Library of Medicine, makan terlalu cepat dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Gangguan pencernaan yang bisa terjadi adalah rasa panas sampai perasaan berat pada pencernaan. Rasa tidak nyaman ini biasanya akan mereda setelah tubuh mempunyai kesempatan untuk mengolah makanan.

Tidak hanya makan cepat yang dapat menganggu kesehatan, minum cepat juga dapat meningkatkan aliran balik asam lambung ke kerongkongan setelah makan, sehingga meningkatkan risiko penyakit asam lambung (GERD) yang menyebabkan nyeri ulu hati. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi penyempitan kerongkongan, tukak, hingga pendarahan.

Seberapa cepat Anda harus makan?
Tentukan waktu makan secara teratur. Terlambat makan membuat Anda terbiasa makan cepat. Menunggu hingga terlalu lapar baru makan membuat Anda makan lebih banyak dan memilih makanan yang tidak sehat.

Untuk diketahui, dibutuhkan waktu sekitar 20 menit bagi pencernaan untuk memberi sinyal ke otak bahwa tubuh Anda sudah kenyang. Oleh karena cobalah untuk tidak menghabiskan makanan sekali waktu. Kunyahlah makanan dengan saksama. Gunakanlah meja makan sebagai tempat untuk berdiskusi dengan teman atau keluarga.

Sementara itu, jika Anda selesai makan sebelum 20 menit, tunggulah 20 menit kemudian untuk memastikan apakah Anda memerlukan lebih banyak makanan untuk disantap. Meski cara ini terbilang sulit untuk dilalukan saat Anda sedang dikerjar tenggat pekerjaan, tak ada salahnya untuk mulai berlatih mendengarkan sinyal fisik tubuh sebelum dan sesudah makan. Hal ini diperlukan untuk “menyambung” kembali rasa lapar dan kenyang alami di dalam tubuh.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi