Terbit: 3 Februari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Saat awal melihat bayi yang baru lahir, Anda bisa melihat bahwa ubun-ubunnya berdenyut dan bagian tersebut masih terasa lunak. Beberapa orang tua merasa khawatir dengan kondisi ini karena takut jika hal ini akan berisiko bagi bayi. Namun Anda tak perlu khawatir karena bagian lunak dan berdenyut di ubun-ubun bayi adalah hal yang normal, bahkan hal ini penting bagi perkembangan otaknya.

Ini Penyebab Ubun-Ubun Bayi Lunak dan Berdenyut Saat Lahir

Ubun-ubun bayi yang baru lahir terasa lunak dan tampak berdenyut karena tulang tengkorak bayi belum menyatu sepenuhnya. Tulang kepala bayi dibentuk oleh beberapa lempeng tulang, yaitu satu buah tulang di bagian belakang, dua buah tulang di kanan dan kiri, serta dua buah tulang di depan. Saat lahir, tulang-tulang ini belum semua menyambung satu sama lain dan masih terdapat celah di antaranya.

Normalnya ubun-ubun akan menutup saat bayi berusia 12-18 bulan. Meskipun belum tertutup oleh tulang tengkorak, namun ubun-ubun bayi dilapisi oleh jaringan yang cukup tebal sehingga tetap aman walaupun disentuh.

Sedangkan ubun-ubun yang berdenyut berasal dari pembuluh darah yang berada di bawahnya. Denyutan ini seirama dengan detak jantung bayi, dan denyutan di pembuluh darah lainnya. Saat bayi menangis, denyutan di ubun-ubun akan terasa lebih cepat dan lebih keras. Sedangkan saat kondisi bayi tenang seperti tertidur, denyut di ubun-ubun juga akan terasa lebih pelan.

Dalam beberapa kasus, ubun-ubun bayi tidak teraba denyutnya sejak lahir. Hal ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang letaknya lebih dalam, atau jaringan yang melapisi ubun-ubun bayi terasa lebih tebal sehingga menyulitkan perabaan pembuluh darah.

Yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah jika saat lahir tidak terasa adanya denyut pada ubun-ubun, atau ubun-ubun yang menutup terlalu cepat dari seharusnya. Ubun-ubun yang sudah menutup sejak lahir merupakan kelainan bawaan, dan ubun-ubun yang menutup terlalu cepat dapat disebabkan oleh kepadatan tulang yang berlebihan.

Jika pertumbuhan otak terus bertambah sementara tulang tengkorak tidak mampu memberi ruang bagi otak, maka hal ini dapat berbahaya bagi bayi. Beberapa gejala kondisi ini di antaranya muntah, gelisah, kedua mata terlihat menonjol, bahkan hingga penurunan kesadaran dan mengakibatkan koma. Untuk memastikannya, Anda dapat memeriksakan kondisi ini pada dokter spesialis anak untuk kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi