Terbit: 26 Maret 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya infus, bukan? Hampir semua orang yang tengah menjalani rawat inap diberikan infus sebagai bagian dari prosedur pengobatan rawat inap. Ketahui lebih lanjut mengenai cairan obat ini, yuk!

Infus: Fungsi, Prosedur Pemasangan, Efek Samping

Apa Itu Infus?

Infus adalah obat yang diberikan secara langsung ke dalam pembuluh darah. Pemberian obat dilakukan dengan cara memasukkan selang kecil—disebut Intravena (IV)—ke dalam salah satu pembuluh darah di area tangan. Metode ini digunakan apabila pasien tidak dimungkinkan untuk menerima obat melalui mulut (oral) seperti pada kasus penyakit demam tifoid, jantung, stroke, dan demam berdarah.

Ada dua cara yang umum diterapkan untuk memasukkan cairan ke dalam pembuluh darah, yakni  secara manual atau menggunakan pompa elektrik. Pemberian cairan harus tepat sesuai dengan kebutuhan pasien, terutama dari segi jenis dan dosis infus. Petugas medis dalam hal ini perawat wajib untuk melakukan kontrol terhadap infus yang sedang diberikan kepada pasien guna menjaga asupan obat.

Apa Fungsi Infus?

Fungsi infus adalah untuk memasok obat ke dalam tubuh secara cepat. Hal ini berlaku untuk pasien dengan kondisi-kondisi tertentu seperti:

  • Kekurangan cairan (dehidrasi)
  • Keracunan makanan atau minuman
  • Infeksi akut
  • Peradangan kronis
  • Gangguan imunitas
  • Serangan jantung
  • Stroke
  • Kemoterapi
  • Gejala efek samping penggunaan obat tertentu 

Pada kondisi-kondisi tersebut, pemberian obat-obatan secara oral tidak dimungkinkan oleh karena obat oral membutuhkan waktu yang cukup lama hingga bisa diserap oleh darah. Sedangkan, pasien harus cepat-cepat ditangani sebelum kondisinya memburuk. Cairan ini (IV) lantas menjadi solusi agar penyerapan obat berlangsung cepat dan optimal.

Selain itu, fungsi (IV)  juga untuk membantu pasien ketika tidak bisa mencerna secara oral sehingga langsung muntah begitu makanan dan cairan masuk ke dalam mulut.

Fungsi obat ini sejatinya tidak hanya untuk penyakit-penyakit di atas. Lebih dari itu, ada lagi jenis penyakit yang membuat penderitanya harus diberi IV agar pengobatan berjalan baik. Jika harus menjalani metode infus atau intravena ini, pastikan Anda ditangani secara tepat.

Macam-Macam Cairan Infus

Macam-macam cairan ada banyak dan disesuaikan dengan penyakit yang diderita oleh pasien.

Akan tetapi, jenis yang umum digunakan terdiri dari 4 (empat) jenis sebagaimana dijabarkan berikut ini.

1. Normal Saline 9% (NS)

Jenis  paling umum digunakan yang pertama adalah Normal Saline 9% atau NS atau 0,9 NaCl.

Cairan yang satu ini lazimnya diberikan pada pasien yang mengalami kondisi seperti:

  • Muntah berat
  • Diare
  • Perdarahan
  • Syok

Normal Saline (NS) adalah infus tipe isotonik kristaloid yang komposisinya berupa garam (sodium klorida) dan air steril. Penggunaan NS ini akan tetapi tidak disarankan (atau bahkan dilarang sama sekali) bagi pasien yang memiliki penyakit kardiovaskuler  dan ginjal.

2. Ringer Laktat (RL) 

Ringer laktat adalah macam-macam cairan paling umum lainnya yang fungsinya antara lain untuk mengobati pasien dengan kondisi hipovolemia.

Ringer laktat mengandung komposisi sebagai berikut:

  • Garam (sodium klorida)
  • Potasium klorida
  • Kalsium klorida
  • Sodium laktat

Penggunaan cairan Ringer laktat tidak diperkenankan bagi pasien yang memiliki gangguan pada organ hati (liver). Pasalnya, liver diklaim akan mengalami interaksi dengan laktat.

3. Dextrose (D5)

Sementara itu, Dextrose 5% (D5) adalah jenis isotonik karbohidrat dengan kandungan gula (glukosa) di dalamnya.

Dextrose  juga mengandung sekitar 170 kalori per liternya. Cairan ini umum diberikan pada penderita diabetes. Sedangkan penggunaannya  tidak diperkenankan pada pasien yang mengalami masalah kesehatan seperti gagal ginjal dan kardiovaskuler .

4. Normal Saline 4,5%

Selain Normal Saline 9%, ada juga Normal Saline dengan dosis 4,5% (Half Normal Saline).

Jenis yang satu ini diberikan pada pasien dengan kondisi-kondisi seperti:

  • Diabetes
  • Hipernatremia
  • Dehidrasi

Normal Saline 4,5% tidak diperkenankan  untuk diberikan pada mereka yang memiliki gangguan fungsi hati (liver). Pasalnya, kandungan di dalam infuse disinyalir akan menurunkan kadar cairan yang ada pada organ hati.

Prosedur Pemasangan Infus

Sebelum membahas prosedur pemasangan infuse, perlu dipahami bahwasanya penggunaan infuse terdiri dari dua cara atau metode yaitu:

1. Manual

Petugas medis akan memberikan infuse dengan dosis yang telah ditentukan dalam waktu tertentu, dimana masuknya cairan ke tubuh memanfaatkan gaya gravitasi.

Kantong infus akan diletakkan di tempat yang lebih tinggi dari tubuh pasien. Kemudian infuse akan disalurkan melalui selang yang dipasangkan ke tangan pasien. Petugas akan mengatur penjepit selang agar tetesan cairan infus konsisten

2. Pompa listrik

Infuse dihantarkan ke pembuluh darah pasien dengan bantuan pompa bertenaga listrik. Perawat tinggal mengatur kecepatan dan volume cairan sesuai kebutuhan

Setelah menentukan metode penyaluran yang sesuai dengan kondisi pasien, maka prosedur pemasangan kira-kira sebagai berikut:

  • Petugas akan membersihkan  area punggung tangan atau lipatan lengan yang hendak ditusukkan jarum dengan alkohol. Tujuannya, agar steril dari kuman dan kotoran
  • Petugas akan menyuntikkan jarum khusus yang telah disambung dengan selang infuse ke pembuluh darah vena
  • Petugas akan melakukan kontrol setiap beberapa jam sekali untuk memeriksa kondisi infuse dan melakukan penggantian apabila cairan sudah habis

Efek Samping Infus

Sayangnya, pemakaian infuse tidak lepas dari sejumlah efek samping, terutama apabila cairan ini tidak dipasangkan dengan benar dan pemakaiannya berlebihan. Selain itu, munculnya efek samping juga bergantung pada sensitivitas tubuh pasien terhadap cairan yang diberikan.

Berikut adalah sejumlah efek samping yang perlu Anda ketahui.

1. Dehidrasi

Dehidrasi adalah salah satu efek samping infuse yang kerap terjadi. Kondisi ini disebabkan oleh asupan cairan infus yang kurang dari yang dianjurkan.

Selain dehidrasi, kekurangan cairan infus juga bisa berujung pada kondisi gagal ginjal apabila tidak segera ditangani. Oleh sebab itu, penting bagi perawat untuk senantiasa mengontrol pemakaian infus pada pasien.

2. Infeksi

Infeksi sebagai efek samping infuse terjadi apabila jarum, kateter, dan alat-alat lainnya yang digunakan  dalam prosedur ini tidak steril.

Jika sudah begitu, maka kuman dan bakteri akan dengan mudahnya masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi. Oleh sebab itu, pastikan petugas medis yang menangani Anda benar-benar menggunakan peralatan yang steril.

3. Kerusakan Jaringan

Pemasangan jarum dan kateter haruslah hati-hati. Pasalnya, pemasangan yang tidak tepat akan menghasilkan efek samping yang terbilang serius yakni kerusakan jaringan tubuh.

Hal ini disebut sebagai infiltrasi. Akibat pemasangan tidak sesuai prosedur, cairan yang seharusnya masuk ke pembuluh darah justru menyebar ke jaringan tubuh yang ada di sekitarnya. Kondisi ini bisa jadi sangat berbahaya jika tidak segera ditangani.

4. Edema Paru

Pada kasus yang lebih serius, penggunaan infuse bisa menyebabkan edema paru  atau penumpukan cairan pada paru-paru .

Kondisi ini terjadi apabila pasien menerima terlalu banyak cairan sehingga cairan tersebut akan memenuhi paru-paru. Lagi-lagi, di sini peran petugas medis sangat krusial guna menjaga agar pasien mendapat asupan cairan yang tepat.

5. Gagal Jantung

Tidak hanya edema paru, kondisi serius lainnya akibat pasokan cairan infus yang terlalu banyak adalah gagal jantung. Akan tetapi, kasus ini jarang terjadi bahkan hampir tidak pernah sama sekali.

 

  1. Anonim. 2019. Breaking IV Fluids. https://nurse.plus/become-a-nurse/4-most-commonly-used-iv-fluids/ (Diakses pada 26 September 2019)
  2. Anonim. NICE Issue Warning over Dangerous IV Drip Use. https://www.nhs.uk/news/medical-practice/nice-issues-warning-over-dangerous-iv-drip-use/ (Diakses pada 26 September 2019) 
  3. Ellen Ellis, M. 2016. Intravenous Fluid Regulation. https://www.healthline.com/health/intravenous-fluid-regulation#types (Diakses pada 26 September 2019)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi