Terbit: 21 February 2018 | Diperbarui: 7 September 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Tahukah Anda bahwa kesepian benar-benar bisa menyakiti hati dan membuat Anda sakit? Menurut penelitian terbaru, emosi yang paling tidak nyaman ini terkait dengan penyakit jantung serta tekanan darah tinggi.

Awas! Merasa Kesepian Bisa Mengundang Penyakit Mematikan

Kedua kondisi tersebut tampaknya hanyalah akumulasi dalam hal hubungan antara rasa kesepian dan penyakit. Studi juga mengungkapkan kaitan antara isolasi sosial dan kanker.

Merasa Kesepian Berpengaruh pada Tingkat Biologis
Sebuah meta-analisis dari 70 studi yang dilakukan oleh Brigham Young University baru-baru ini menemukan bahwa perasaan kesepian dapat meningkatkan kesempatan seseorang untuk meninggal sebesar 26 persen. Ini bahkan lebih dari sekadar depresi dan kecemasan, yang terkait dengan peningkatan kematian sebesar 21 persen. Sebuah studi bersama yang dilakukan bersama oleh tim peneliti dari University of Chicago dan University of California, Los Angeles, mungkin telah menemukan apa yang membuat emosi ini begitu berbahaya pada tingkat biologis.

“Tingkat toksisitas (merusak) dari kesepian itu menakjubkan,” kata psikolog University of Chicago dan pakar kesepian John Cacioppo.

Rusaknya, seperti melansir The Truth About Cancer, menurut laporan yang dipublikasikan dalam Prosiding National Academy of Sciences, dapat dilihat di tingkat sel. Cacioppo dan yang lainnya menemukan bahwa kesepian dapat menyebabkan sinyal stres “fight or flight” atau bertarung atau menjauhi, jangka panjang yang mempengaruhi fungsi sistem kekebalan, khususnya produksi sel darah putih.

Studi 2015 melakukan penelitian lebih dalam terhadap penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh tim yang sama. Dalam studi sebelumnya, mereka menemukan bahwa perasaan kesepian dapat dikaitkan dengan fenomena yang disebut Conserved Transcriptional Response to Adversity (CTRA). Inilah saat terjadi peningkatan ekspresi gen, untuk radang sementara pada saat bersamaan terjadi penurunan ekspresi gen yang bertanggung jawab atas perlindungan terhadap virus.

Studi tahun 2015 melihat leukosit atau sel darah putih, yang membantu tubuh melawan patogen. Mereka menemukan bahwa sel darah putih manusia dan hewan yang merasa kesepian menunjukkan tanda-tanda CTRA.

Dalam penelitian hewan, para peneliti juga menemukan kadar norepinephrine (obat tekanan darah rendah) yang lebih tinggi dari normal, neurotransmiter (zat kimia yang membawa pesan antar neuron) yang biasanya terhubung dengan respons “fight or flight”.

Mereka juga menemukan bahwa proses CTRA dan keadaan kesepian tampaknya memiliki hubungan timbal balik. Dengan kata lain, CTRA dapat menyebarkan keadaan kesepian dan sebaliknya.

Hubungan antara fungsi kimia dan biologi dan kesepian, menurut para peneliti, tidak bergantung pada faktor lain seperti depresi, stres umum, dan apakah seseorang memiliki dukungan sosial atau tidak.

Apa artinya ini bagi mereka yang ingin menyembuhkan atau mencegah kanker?

Sederhananya, orang yang merasa kesepian kurang memiliki kekebalan dan lebih banyak peradangan dibanding orang yang tidak kesepian. Kondisi ini berhubungan langsung dengan apa yang terjadi ketika tubuh berada dalam keadaan stres kronis dan kondisi yang sama ini dikaitkan dengan pengaturan gen yang dapat berkontribusi terhadap kanker.

Menurut sebuah penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti genetik UCLA Steven Cole:

“Sinyal beta-adrenergik dari sistem saraf simpatik telah ditemukan untuk mengatur beragam gen yang berkontribusi terhadap perkembangan tumor dan metastasis, sedangkan gen yang diatur glukokortikoid dapat menghambat perbaikan DNA dan meningkatkan kelangsungan hidup sel kanker dan ketahanan terhadap kemoterapi.”

Efek Roseto: Bisakah Rasa Kekeluargaan Menyembuhkan Penyakit?
Menariknya, selama bertahun-tahun penelitian lain menunjukkan fakta bahwa kebalikannya mungkin juga benar adanya. Perasaan inklusi sosial dan dukungan sebenarnya dapat menyebabkan resistensi penyakit.

“Efek Roseto” diciptakan setelah sebuah studi 50 tahun tentang penghuni Roseto, Pennsylvania, oleh Dr. Stewart Wolf dan timnya. Beberapa penelitian dilakukan di daerah pusat sebagian besar imigran Italia selama lima dekade. Studi banding juga dilakukan di kota-kota dekat Bangor dan Nazaret.

Pada1960-an, penyakit jantung meningkat di Amerika Serikat secara keseluruhan, sementara kejadian penyakit jantung dan penyakit lainnya praktis tidak ada di Roseto. Wolf dan yang lainnya tercengang mengapa ini terjadi karena warga Roseto sebagian besar tidak mengalami kelebihan berat badan. Mereka mengisap cerutu atau rokok dan meminum anggur merah. Sebagian besar pria tersebut bekerja di tambang batu tulis lokal di mana mereka terkena racun lingkungan yang keras.

Kebiasaan makan tidak berperan dalam kesehatan mereka yang tampak baik. Genetika juga tidak; Kerabat warga Roseto yang tinggal di kota-kota terdekat mengalami tingkat penyakit jantung yang sama dengan negara lainnya.

Dr. Wolf juga mengamati, bahwa generasi pertama penghuni Roseto ada dalam komunitas yang erat adalah tradisi yang dijunjung tinggi. Tidak ada yang menonton tv, perayaan dan makan malam berkelompok.

Wolf dan timnya akhirnya menyimpulkan bahwa gaya hidup dengan stres rendah dan hubungan sosial yang erat secara langsung berkontribusi pada keadaan bebas penyakit dari populasi Roseto generasi pertama.

Pada 1970-an, bagaimanapun, generasi kedua penghuni Roseto mulai menyesuaikan diri dengan rata-rata penyakit jantung karena mereka juga menyesuaikan diri dengan gaya hidup Amerika yang lebih menonton tv, isolasi sosial, dan tingkat stres yang lebih tinggi di tempat kerja dan di rumah.

“Individu yang terisolasi dapat dengan mudah terbebani oleh tantangan kehidupan sehari-hari,” jelas Wolfe.

“Berlebihan semacam ini bisa memicu respons stres dalam tubuh. Respons stres pada individu yang dikelilingi oleh komunitas mendukung untuk rileks. Jenis relaksasi ini diterjemahkan menjadi efek positif pada fisiologi tubuh, yang menyebabkan pencegahan penyakit dan kadang-kadang menyembuhkan penyakit,” Wolfe menambahkan.

Entah bagaimana cara melihatnya, Anda dapat menarik kesimpulan yang sama: kesepian menciptakan penyakit, sementara perasaan didukung dan dirawat dapat membantu untuk mengurangi respons stres dan mengarah pada kesehatan Anda.

Pencegahan dan penyembuhan kanker harus dipelihara di semua tingkat, dan itu termasuk pada tingkat perasaan kita. Jika Anda merasa kesepian, jangan hanya memendamnya sendirian. Hubungi konselor atau pembimbing, hubungi seorang teman, bergabunglah dengan kelompok yang positif di daerah Anda, atau pertimbangkan untuk melihara hewan seperti anjing atau kucing di rumah Anda.

Anda tidak hanya akan merasa lebih baik secara emosional, Anda juga akan memberi penyembuhan pada tubuh yang menakjubkan.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi