Terbit: 18 Februari 2018 | Diperbarui: 9 Desember 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Melihat perkembangan bayi menjadi hal yang tidak akan dilewatkan bagi setiap orangtua. Tidak ada yang lebih menggemaskan saat bayi belajar merangkak.

Si Kecil Bermain di Karpet Berisiko Kanker, Kok Bisa?

Photo Credit: flickr.com/Ben Aerssen

Pada saat Anda meletakkannya di karpet yang telah dibersihkan dengan cermat, si kecil berkelok-kelok dan bolak-balik, seolah bersiap untuk berjalan. Tak lama kemudian, dia berjalan melintasi ruangan.

Selama karpet di rumah Anda bersih, Anda mungkin tidak terlalu memikirkannya. Namun itu bisa menjadi kesalahan fatal dan jangka panjang.

Yang mungkin tidak Anda ketahui adalah bahwa kebanyakan karpet mengandung bahan kimia beracun baik selama pembuatan atau sesudahnya untuk memperkuat serat, mencegah pewarnaan, dan memperpanjang umur produk.

Pelanggan sering ditawarkan dengan keuntungan dari karpet tahan noda, tapi yang disembunyikan adalah efek toksik bahan kimia ini pada orang dewasa, dan terlebih lagi bayi dan anak-anak.

Setelah terkena efek gas beracun, seperang konsumen melaporkan ke Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat (CPSC), dan Laboratorium Penelitian Greenpeace merilis analisis mereka terhadap senyawa yang ditemukan di karpet.

Beberapa efek yang dialami konsumen termasuk iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, sulit bernapas, dan berdampak negatif pada sistem saraf pusat.

Bahan Kimia Beracun di Karpet Berkontribusi Meningkatkan Resiko Kanker
Bahan kimia beracun memicu stres yang tak terbantahkan ke sistem kekebalan tubuh dan merupakan penyebab utama kanker. Berikut adalah beberapa bahan kimia yang biasa ditemukan di karpet yang bisa membahayakan Anda dan anak-anak Anda:

  • Organotin
    Bahan kimia ini umum digunakan dalam farmasi, pelapis kaca, cat kapal, pestisida, dan kain tahan api. Organotin mengandung timbal, timah, dan merkuri. Hal ini dianggap sebagai kontaminan global oleh World Wildlife Fund (WWF).
  • Permethrin
    Pestisida kuat yang dikenal sebagai neurotoksin, yang bisa menyerang sistem saraf pusat serangga.
  • Triclosan
    Senyawa antibakteri yang digunakan pada banyak produk pembersih, sabun tangan, barang perawatan pribadi, dan mainan anak-anak terbukti meningkatkan penumpukan bakteri Staph di daerah sinus. Ini juga mengganggu fungsi tiroid, terakumulasi pada ibu menyusui, dan mempengaruhi perkembangan pada janin dan anak-anak.
  • Formaldehid
    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengakui ancaman langsung dan jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia. Diakui di seluruh dunia sebagai karsinogen, ini ditemukan dominan di bahan bangunan rumah, produk perawatan pribadi, kosmetik, dan perawatan tahan noda.
  • Brominated Flame Retardants
    Karena proliferasi penggunaannya yang luar biasa, polyidrominated diphenyl eters (PBDEs) telah menyerap lebih dari 97 persen rumah tangga di Amerika Serikat. Mereka telah dikaitkan dengan gangguan tiroid, ketidaksuburan, dan kerusakan akibat perkembangan pada bayi. Banyak produk untuk anak-anak tes positif untuk PBDEs. Ini termasuk: jok mobil, boks portabel, dan kereta bayi. Selanjutnya, toksin ini biasa digunakan di kasur, karpet, dan busa yang digunakan pada furnitur.
  • Phthalates
    Digunakan untuk membuat plastik keras fleksibel dan awet pada mainan anak-anak, barang rumah tangga, industri manufaktur, alat berkebun, dan kosmetik. Kelas toksin ini begitu lazim sehingga para ahli memperkirakan setiap manusia di negara maju memiliki jejak di tubuh. Phthalates telah terbukti mengganggu perkembangan reproduksi dan menyebabkan disfungsi hormon karena sifat pengganggu endokrin mereka.

Apa yang Harus Dilakukan terhadap Bahan Kimia Beracun di Rumah Anda?
Semua bahan kimia ini menghasilkan kerusakan jangka panjang pada sistem inti tubuh. Meskipun demikian, beberapa instansi pemerintah membuktikan “keamanan” mereka dalam jumlah “jejak”. Apa yang tidak dipertimbangkan oleh instansi pemerintah adalah efek toksik sinergis yang dimiliki bahan kimia ini saat dikombinasikan, yaitu bagaimana hal itu paling sering disajikan.

Karena bahan kimia digabungkan dalam rumah tangga, bahan tersebut memiliki efek toksik yang melampaui zat kimia apa pun yang bisa terjadi secara tunggal.

Selain itu, bahan kimia dalam produk rumah tangga rata-rata bersifat bio-akumulatif, yang menyebabkan margin keselamatan untuk jumlah jejak terlampaui dengan sangat cepat.

Bahan Kimia Penyebab Kanker Jadi Musuh Tersembunyi!
Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) memperkirakan bahwa 80 persen paparan pestisida terjadi di dalam rumah, dengan perkiraan “keamanan” di rumah Anda sendiri. Bukan berarti mereka melakukan banyak hal untuk menurunkan angka-angka itu, tapi mereka memang menyebutkannya.

Yang benar adalah bahan kimia berbahaya ini telah beredar bertahun-tahun dengan sedikit pengawasan. Baru dalam 10 tahun terakhir ini, pertanyaan tentang bahan kimia dalam produk sehari-hari telah dinaikkan. Sayangnya, bahan kimia sudah mencemari ke dalam persediaan makanan dan air.

Minat terakhir telah menunjukkan adanya racun mematikan di rumah kita dan kaitannya dengan risiko kanker, penyakit neurodegeneratif, kerusakan sistem kekebalan tubuh, ketidaksuburan, cacat lahir, dan masalah perkembangan.

Lindungi Anak Anda dari Risiko Kanker
Kita memulai hidup dengan merangkak di karpet beracun dan dengan cepat mencemari mainan, perabotan, produk perawatan pribadi, makanan dan produk pembersih. Ada begitu banyak racun dalam kehidupan sehari-hari kita yang mengidentifikasi mereka semua akan membutuhkan laboratorium.

Sementara itu, pertimbangkan untuk meletakkan tikar organik agar bayi Anda merangkak dengan bebas, atau dapatkan karpet kapas atau wol yang tidak menggunakan bahan kimia. Anda akan melindungi keluarga terutama bayi Anda dari beberapa efek bio-akumulatif bahan kimia yang dapat mempengaruhi kesehatan.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi