Terbit: 18 Desember 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Induksi persalinan adalah prosedur medis yang digunakan oleh dokter atau bidan untuk membantu proses persalinan. Prosedur ini mungkin direkomendasikan bila ada kekhawatiran terhadap kesehatan ibu atau janin. Kenali syarat, prosedur, hingga efek sampingnya.

Induksi Persalinan: Syarat, Jenis, Risiko, dll

Apa Itu Induksi Persalinan?

Induksi persalinan adalah prosedur yang digunakan oleh tenaga medis untuk membantu kelahiran menggunakan obat-obatan atau teknik medis. Prosedur ini dilakukan agar persalinan lebih cepat terjadi daripada menunggu persalinan secara alami. Proses induksi dimulai secara artifisial yaitu pembukaan serviks secara mekanis, memecahkan ketuban, atau menggunakan obat untuk memulai kontraksi.

Baca Juga: Induksi Ovulasi: Tujuan, Prosedur, Efek Samping, dll

Mengapa Induksi Persalinan Diperlukan?

Perlu tidaknya induksi hal itu bergantung pada beberapa faktor seperti kondisi kesehatan ibu, kesehatan janin, usia kehamilan, berat, posisi, dan ukuran janin, serta keadaan rahim Anda. Syarat induksi persalinan lainnya adalah:

  • Kehamilan postterm. Persalinan belum dimulai secara alami dua minggu setelah tanggal jatuh tempo.
  • Ketuban pecah dini. Ketuban sudah pecah akan tetapi persalinan belum dimulai.
  • Korioamnionitis. Keadaan di mana Anda mengalami infeksi pada rahim.
  • Fetal growth restriction. Ukuran dan berat janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan.
  • Oligohidramnion. Cairan ketuban di sekitar bayi tidak cukup.
  • Diabetes gestasional. Anda menderita diabetes yang berkembang selama kehamilan.
  • Gangguan tekanan darah tinggi. Ibu hamil mengalami komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain (preeklamsia).
  • Solusio plasenta. Plasenta terlepas dari dinding dalam rahim sebelum melahirkan, bisa sebagian atau seluruhnya.
  • Kondisi medis tertentu. Anda memiliki kondisi medis seperti penyakit ginjal atau obesitas.

Berbagai Cara Induksi Persalinan

Pada dasarnya terdapat berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mempercepat persalinan. Obat-obatan atau teknik medis dapat menyebabkan persalinan lebih cepat. Pilihan lainnya adalah mencoba menginduksi sendiri. Namun cara teraman dan paling efektif adalah menemui dokter.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Sebelum Anda mencoba sesuatu, bicarakan dengan dokter atau bidan. Pastikan metode yang Anda coba aman dan kehamilan berada pada waktu yang tepat untuk memulai persalinan. Beberapa cara yang umum digunakan untuk menginduksi antara lain:

  • Induksi Persalinan Alami

Salah satu cara termudah dan teraman yang bisa Anda lakukan adalah dengan berjalan-jalan. Gravitasi dari gerakan dapat membantu menggeser bayi ke posisinya. Meskipun berjalan-jalan mungkin tidak mempercepat waktu persalinan, secara umum hal tersebut adalah sesuatu yang baik untuk mendukung kehamilan yang sehat. Tidak ada bukti bahwa menjadi lebih aktif membuat persalinan menjadi lebih mudah. 

Cara alami lainnya adalah dengan berhubungan seks (jika Anda merasa sanggup). Semen yang dikeluarkan penis mengandung prostaglandin, hal itu membuat otot rahim berkontraksi. Apabila Anda mengalami orgasme, hal tersebut juga akan merangsang otot rahim berkontraksi.

Sebelum mencoba kedua metode di atas, sebaiknya Anda konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau bidan.

  • Obat-obatan

Obat yang disebut prostaglandin melembutkan atau ‘mematangkan’ serviks agar siap untuk melahirkan. Anda dapat meminum obat ini melalui mulut atau dapat dimasukkan sebagai supositoria ke dalam vagina.

Jenis obat berikutnya adalah pitocin yang berguna untuk menciptakan kontraksi. Anda akan mendapatkannya melalui infus.

  • Amniotomi

Prosedur ini dilakukan dengan memecahkan ketuban. Teknik ini dilakukan apabila kantong ketuban belum pecah jelang persalinan atau jika persalinan berlangsung lama. Selain itu, prosedur ini juga dilakukan saat serviks melebar dan kepala bayi berada jauh di dalam panggul

Detak jantung bayi akan dipantau sebelum dan sesudah prosedur. Setelah itu, tenaga medis juga akan memeriksa cairan ketuban untuk mencari jejak kotoran (mekonium).

Risiko Induksi Persalinan

Berikut ini adalah beberapa kemungkinan risiko yang bisa terjadi saat Anda melakukan prosedur ini, antara lain:

  • Induksi Gagal

Sekitar 75 persen dari ibu yang baru pertama kali diinduksi akan berhasil melahirkan melalui vagina. Ini berarti sekitar 25 persen lainnya berisiko melahirkan dengan operasi caesar.

  • Denyut Jantung Rendah

Obat yang digunakan untuk menginduksi persalinan seperti oksitosin atau prostaglandin dapat menyebabkan kontraksi yang tidak normal atau berlebihan. Hal itu dapat mengurangi suplai oksigen ke janin dan menurunkan detak jantungnya.

  • Infeksi

Salah satu metode induksi seperti memecah ketuban dapat meningkatkan risiko infeksi pada ibu dan bayi. Ketuban pecah yang berkepanjangan semakin meningkatkan risiko infeksi.

  • Uterus Robek

Ini adalah komplikasi yang jarang tetapi serius, di mana rahim Anda robek di sepanjang garis bekas luka dari operasi caesar atau operasi uterus besar sebelumnya. Rahim robek sangat jarang terjadi pada wanita yang belum pernah menjalani operasi rahim.

  • Pendarahan Setelah Melahirkan

Induksi meningkatkan risiko otot rahim tidak berkontraksi dengan baik setelah melahirkan (atonia uteri), sehingga dapat menyebabkan perdarahan serius setelah melahirkan. Keadaan ini membuat perdarahan sulit berhenti dan bisa menyebabkan ibu kehilangan banyak darah.

Baca Juga: Hamil 42 Minggu, Kapan Perlu Induksi Persalinan?

Kondisi yang Tidak Diharuskan Melakukan Induksi

Setelah Anda mengetahui berbagai syarat induksi persalinan sebelumnya, hal penting lainnya yang juga harus diperhatikan adalah metode ini tidak bisa diterapkan pada semua orang terutama jika:

  • Anda pernah menjalani operasi caesar sebelumnya dengan sayatan klasik atau major uterine surgery.
  • Anda mengalami infeksi herpes genital aktif.
  • Plasenta menghalangi serviks (plasenta previa).
  • Posisi bokong janin berada di bawah atau janin berbaring melintang.
  • Tali pusat masuk ke dalam vagina sebelum melahirkan (prolaps tali pusat).

Pada akhirnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai persalinan tergantung pada seberapa matang serviks ketika mendapatkan induksi, teknik induksi yang digunakan, dan bagaimana tubuh Anda meresponsnya.

Jika serviks membutuhkan waktu untuk matang, mungkin diperlukan beberapa hari sebelum persalinan dimulai. Jika Anda hanya membutuhkan sedikit dorongan, Anda mungkin akan segera menggendong bayi dalam hitungan jam.

Dalam banyak kasus, induksi mengarahkan wanita untuk melahirkan melalui vagina. Jika salah satu cara gagal, Anda mungkin perlu mencoba induksi lain atau menjalani operasi caesar.

 

  1. Anonim. Labor induction. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/labor-induction/about/pac-20385141. (Diakses pada 18 Desember 2020).
  2. Cherney, Kristeen. 2019. Everything You Need to Know About Labor Induction. https://www.healthline.com/health/pregnancy/inducing-labor#reasons. (Diakses pada 18 Desember 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi