Terbit: 10 Juli 2020 | Diperbarui: 18 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Imunisasi adalah bentuk pencegahan dan pengendalian terhadap berbagai macam penyakit yang dapat mengancam nyawa, termasuk polio, campak, tetanus, dan penyakit lainnya. Selengkapnya ketahui tentang fungsi vaksin, dosis, jenis vaksin, efek samping, dan lainnya di bawah ini!

Imunisasi: Fungsi, Dosis, Jenis, Efek Samping, dll

Apa Itu Imunisasi?

Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk membuat tubuh kebal terhadap penyakit menular. Vaksin bekerja dengan merangsang sistem kekebalan untuk melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit.

Supaya terhindar dari berbagai penyakit, seseorang harus memiliki sistem kekebalan tubuh dengan cara membentuk antibodi (zat anti penyakit ) dengan kadar tertentu atau disebut kadar protektif (kadar zat anti penyakit).

Imunisasi atau pemberian vaksin harus sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Jadwalnya terdiri dari jadwal imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Pemberian vaksin bisa hanya satu kali, ada yang beberapa kali, atau bahkan pada usia tertentu untuk vaksin lanjutan.

Imunisasi adalah cara yang terbukti mengendalikan dan bahkan menghilangkan penyakit menular yang mengancam jiwa dan diperkirakan mencegah sekitar 2 sampai 3 juta kematian di dunia setiap tahunnya.

Imunisasi Rutin Lengkap

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap. Imunisasi rutin lengkap terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Alasannya karena imunisasi dasar saja tidak cukup, oleh karenanya diperlukan vaksin lanjutan untuk mempertahankan kekebalan tubuh secara optimal.

Berikut ini jadwal imunisasi berdasarkan usia:

1. Imunisasi Dasar

Pemberian imunisasi dasar dan dosisnya disesuaikan dengan usia bayi:

  • Bayi usia 0 bulan: 1 dosis hepatitis B .
  • Bayi usia 1 bulan: 1 dosis BCG dan polio.
  • Bayi usia 2 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan polio.
  • Bayi usia 3 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan polio.
  • Bayi usia 4 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan polio.
  • Bayi usia 9 bulan: 1 dosis campak.

2. Imunisasi Lanjutan

Pemberian imunisasi lanjutan disesuaikan dengan usia dan tingkat pendidikan:

  • Anak usia 18 bulan – 2 tahun: 1 Dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan campak.
  • Anak kelas 1 SD: 1 Dosis DT dan Campak.
  • Anak kelas 2 dan 5 SD: 1 Dosis Td.

Efek Samping Imunisasi

Meski dianggap aman, vaksin juga memiliki efek samping atau juga disebut Kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang bervariasi tergantung jenis vaksin. Dalam kebanyakan kasus, efek samping biasanya ringan dan akan hilang dalam beberapa hari.

Adapun efek samping yang paling umum dari imunisasi adalah:

  • Nyeri, pembengkakan, atau kemerahan di sekitar bekas suntikan.
  • Demam ringan sampai tinggi.
  • Ketidaknyamanan
  • Anak menjadi rewel

Terkadang, vaksin juga menimbulkan efek samping berikut:

  • Kelelahan otot
  • Insomnia
  • Kelelahan
  • Hilang ingatan
  • Kelumpuhan otot pada bagian tubuh tertentu
  • Kehilangan pendengaran atau penglihatan
  • Kejang

Ada beberapa faktor dapat meningkatkan risiko mengalami efek samping dari imunisasi, di antaranya:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Sedang sakit ketika mendapatkan vaksin.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat pribadi reaksi vaksin.

Vaksin juga dapat menimbulkan reaksi alergi serius pada anak-anak. Alergi biasanya terjadi segera setelah mendapatkan vaksin.

Jika anak mungkin memiliki alergi terhadap komponen apa pun dalam vaksin, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter tentang segala kemungkinan gejala alergi dan cara mencegahnya. Meski begitu, manfaat vaksin jauh lebih besar daripada risiko efek samping.

Jenis Imunisasi

Imunisasi adalah pemberian vaksin yang memiliki berbagai jenis tergantung untuk pencegahan jenis penyakit. Menurut saran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut ini sejumlah jenis imunisasi untuk pencegahan berbagai penyakit:

1. Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B biasanya diberikan segera setelah 12 jam bayi lahir, kemudian imunisasi dianjurkan untuk kembali diberikan setelah bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin hepatitis B berfungsi untuk mencegah infeksi serius akibat virus hepatitis B.

Jika anak belum pernah mendapatkan vaksin hepatitis B ketika masih bayi, anak bisa mendapat vaksin kapan saja. Pemberian vaksin ini dapat dilakukan tanpa harus memeriksa kadar anti-hepatitis B.

Imunisasi hepatitis B dapat menimbulkan sejumlah efek samping, termasuk demam, ruam di kulit, gatal-gatal, pembengkakan di area bekas suntikan, dan mual.

2. Campak

Campak adalah penyakit menular akibat infeksi virus yang ditandai dengan ruam kemerahan di seluruh tubuh, demam, nyeri otot, kelelahan, dan tidak nafsu makan.

Imunisasi campak dapat diberikan pada anak usia 9 bulan dan kembali diberikan pada usia 6-59 bulan serta ketika  SD kelas 1-6. Jika terlambat mendapatkan vaksin campak, terutama anak berusia 9-12 bulan, segera berikan.

Efek samping yang ditimbulkan imunisasi campak, termasuk nyeri di area bekas suntikan (biasanya sembuh dalam beberapa hari), demam, dan ruam di kulit (timbul setelah 12 hari imunisasi dan akan sembuh dalam 2 hari).

3. MMR

Vaksin MMR (measles, mumps, rubella) diberikan pada usia 15 sampai 18 bulan dengan minimal interval 6 bulan antara imunisasi campak dengan MMR. Vaksin MMR dapat diberikan 1 bulan sebelum atau sesudah penyuntikan vaksin lainnya.

Jika anak telah mendapat vaksin MMR di usia 12-18 bulan dan kembali mendapatkannya di usia 6 tahun, vaksin campak (monovalen) tambahan di usia 6 tahun tidak perlu diberikan kembali. Bila vaksin belum diberikan setelah usia 6 tahun, berikan vaksin campak atau MMR kapan pun ketika diperlukan.

Meski jarang, vaksin MMR dapat menimbulkan sejumlah gejala, termasuk sendi nyeri atau kaku, pembengkakan kelenjar, radang otak, pendarahan, dan gondong.

4. Polio

Imunisasi polio diberikan untuk mencegah penyakit polio akibat yang disebabkan kelumpuhan. Imunisasi bayi baru lahir dapat diberikan vaksin polio oral (OPV), yaitu di usia 2, 4, 6, 18 bulan atau usia 2, 3, 4 bulan sesuai program pemerintah. Sedangkan untuk vaksin polio suntik (IPV) dapat diberikan pada bayi berusia 2, 4, 6-18 bulan dan 6-8 tahun.

Jika terlambat memberikan vaksin polio, jangan mengulang pemberiannya dari awal, sebaiknya lanjutkan dan lengkapi sesuai jadwal imunisasi yang ditentukan.

Vaksin polio menimbulkan beberapa efek samping, di antaranya demam, reaksi alergi seperti kulit kemerahan, gatal-gatal, sesak napa, kesulitan menelan, dan pembengkakan di wajah.

5. BCG

Imunisasi BCG (Bacille Calmette-Guérin) diberikan untuk mencegah tuberkulosis alias TBC. Gejalanya ditandai dengan demam, batuk terus menerus, batuk berdarah, nyeri dada. berkeringat di malam hari, dan penurunan berat badan.

Mengingat Indonesia menjadi negara ke-3 tertinggi di dunia atas TBC, setelah India dan Tiongkok. Vaksin BCG dapat diberikan pada usia 2 sampai 3 bulan karena imunisasi bayi di usia kurang dari 2 bulan memiliki sistem imun yang belum matang.

Seperti vaksin lainnya, vaksin ini juga menimbulkan efek samping seperti demam ringan, mual, nyeri perut, nyeri otot, dan diare.

6. DPT

Imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) diberikan untuk mencegah tetanus. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali sebagai vaksin dasar, kemudian kembali diberikan 1 kali (interval 1 tahun setelah DPT 3). Ketika menginjak usia 5 tahun, vaksin diberikan lagi sebelum masuk sekolah dan pada usia 12 tahun diberi vaksin Td.

Imunisasi TT atau suntik tetanus pada wanita perlu diberikan 1 kali sebelum menikah dan 1 kali pada ibu hamil  untuk mencegah tetanus neonatorum (tetanus pada bayi baru lahir).

Jika imunisasi DPT terlambat diberikan, jangan mengulang dari awal, sebaiknya lanjutan vaksin sesuai jadwal imunisasi yang ditetapkan. Bila anak belum pernah mendapatkan imunisasi dasar di usia kurang dari 12 bulan, segera berikan vaksin sesuai imunisasi dasar.

Bila pemberian DPT ke-4 sebelum kembali diberikan tahun ke-4, pemberian ke-5 paling cepat diberikan 6 bulan setelahnya. Jika pemberian ke-4 setelah umur 4 tahun, pemberian ke-5 tidak diperlukan lagi.

7. HiB

Imunisasi HiB (Haemophilus influenzae type B) dapat berupa vaksin PRP-T (konjugasi) yang diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dan kembali diberikan di usia 18 bulan. Vaksin ini juga bisa diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi dengan vaksin jenis lainnya, termasuk vaksin hepatitis B dan DPT atau dikenal vaksin DPT-HB-Hib.

Vaksin HiB hanya diberikan pada anak usia 1 sampai 5 tahun sebanyak 1 kali. Sedangkan anak di atas usia 5 tahun tidak perlu diberikan vaksin karena penyakit ini hanya menyerang anak di bawah usia 5 tahun.

Baca Juga: Vaksin Rabies: Fungsi, Dosis, Efek Samping, dll

8. Rotavirus

Vaksin rotavirus dapat diberikan untuk menekan angka kejadian kematian akibat diare yang masih tinggi di Indonesia. Vaksin rotavirus yang ada di Indonesia terdiri 2 jenis.

Jenis pertama yaitu Rotateq yang dapat diberikan sebanyak 3 dosis pada usia 6 sampai 14 minggu, pemberian kedua setelah 4 sampai 8 minggu, dan dosisi ketiga maksimal di usia 8 bulan. Jenis kedua adalah Rotarix yang diberikan 2 dosis pada usia 10 minggu dan dosis kedua di usia 14 minggu, maksimal di usia 6 bulan.

Jika imunisasi bayi belum didapatkan di atas usia 6 sampai 8 bulan, sebaiknya tidak perlu diberikan karena belum ada hasil penelitian secara klinis.

9. Influenza

Vaksin influenza diberikan dengan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35 bulan cukup 0,25 mL. Anak usia >3 tahun, diberikan 0,5 mL. Pada anak berusia <8 tahun, untuk pemberian pertama kali diperlukan 2 dosis dengan interval minimal 4-6 minggu, sedangkan bila anak berusia >8 tahun, maka dosis pertama cukup 1 dosis saja.

10. Hepatitis A

Manfaat imunisasi hepatitis A untuk mencegah penyakit peradangan hati yang diakibatkan infeksi virus. Vaksin hepatitis A diberikan pada anak di atas usia 2 tahun. Vaksin hepatitis A diberikan sebanyak 2 dosis dengan jarak 6 sampai 12 bulan.

Vaksin hepatitis A menimbulkan beberapa efek samping, umumnya ditandai demam dan lemas. Meski jarang, vaksin ini juga menimbulkan efek samping lainnya seperti batuk, hidung tersumbat, sakit kepala, dan gatal-gatal.

11. Varisela

Imunisasi varisela diberikan untuk mencegah cacar air. Vaksin ini diberikan 1 kali pada anak di bawah usia 1 tahun. Sedangkan untuk anak di atas usia 13 tahun atau pada orang dewasa, diberikan 2 kali dengan rentang waktu 4 sampai 8 minggu.

Bila terlambat mendapatkan vaksin varisela, berikan kapan pun karena vaksin ini dapat diberikan sampai menginjak usia dewasa.

12. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Manfaat imunisasi DBD untuk mencegah demam berdarah akibat virus dengue yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Vaksin ini disarankan hanya diberikan kepada orang dengan infeksi virus dengue yang sudah dikonfirmasi sebelumnya.

Imunisasi DBD dapat diberikan di usia 9 sampai 16 tahun. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu antara 6 bulan. Efek sampingnya berupa nyeri di area bekas suntikan, demam, kemerahan, pembengkakan, dan nyeri otot.

13. HPV

Manfaat imunisasi HPV dapat mengurangi risiko kanker serviks pada wanita. Ini karena sebagian besar kanker serviks terkait dengan human papillomavirus (HPV), yang merupakan infeksi menular seksual (IMS).

Vaksin HPV dapat diberikan secara rutin sebanyak 2 hingga 3 kali untuk perempuan atau laki-laki di usia 9 sampai 26 tahun. Vaksin ini umumnya menimbulkan efek samping ringan, termasuk rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di area bekas suntikan. Namun, terkadang menyebabkan pusing atau pingsan setelah disuntik.

14. Japanese Encephalitis

Vaksin Japanese Ensefalitis (JE) diberikan untuk mencegah infeksi virus pada otak yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. JE menimbulkan beberapa gejala, termasuk demam, sakit kepala, muntah, merasa lemah, atau bahkan kejang (terutama anak-anak).

Vaksin dapat diberikan pada usia 2 bulan hingga 16 tahun. Vaksin diberikan dalam seri 2 dosis, dengan dosis berjarak 28 hari. Dosis kedua dapat diberikan, terutama seminggu sebelum melakukan perjalanan ke tempat di mana terjadi wabah JE. Anak di bawah usia 3 tahun diberi dosis lebih sedikit daripada anak berusia di atas 3 tahun.

15. Tifus

Vaksin tifus berfungsi untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Secara umum, gejalanya berupa sakit kepala, demam, dan ruam.

Vaksin tifus dapat diberikan dua dosis suntikan secara subkutan selama 4 minggu. Sedangkan dosis penguat diperlukan setiap 6 hingga dua 12 bulan. Vaksin dapat diberikan di usia 2 sampai 18 tahun.

Vaksin tifus dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tergolong jarang terjadi, di antaranya demam, mual dan muntah, kram perut, dan diare.

16.  PCV

PCV (pneumococcal conjugate vaccine) dapat membantu mencegah penyakit pneumokokus yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus. Gejala penyakit ini dapat muncul secara tiba-tiba, di antaranya demam, batuk, sesak napas, napas yang cepat, dan nyeri dada.

PCV dapat diberikan pada bayi usia 2 bulan dengan interval pemberian antara 4 sampai 8 minggu. Kemudian dosis ke-4 harus kembali diberikan pada usia 12 sampai 15 tahun.

PVC menyebabkan beberapa efek samping, termasuk demam, eritema (bercak kemerahan di kulit), pembengkakan, sakit di area bekas suntikan, mual, muntah, tidak nafsu makan, mengantuk, insomnia, dan iritabilitas.

 

  1. Anonim. 2018. Berikan Anak Imunisasi Rutin Lengkap, Ini Rinciannya. https://www.kemkes.go.id/article/view/18043000011/berikan-anak-imunisasi-rutin-lengkap-ini-rinciannya.html. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Vaksin Pneumokokus. http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-14-produk-imunologis-dan-vaksin/144-vaksin-dan-antisera/vaksin-pneumokokus. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  3. Anonim 2019. Japanese Encephalitis Vaccine. https://www.cdc.gov/japaneseencephalitis/vaccine/index.html. (Diaskes pada 10 Juli 2020)
  4. Anonim. 2019. Dengue Vaccine. https://www.cdc.gov/dengue/prevention/dengue-vaccine.html. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  5. Anonim. 2018. Immunizations and Vaccines. https://www.webmd.com/children/vaccines/immunizations-vaccines-power-of-preparation#1. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  6. Anonim. Tanpa Tahun. Immunization. https://www.who.int/topics/immunization/en/#:~:text=Immunization%20is%20the%20process%20whereby,against%20subsequent%20infection%20or%20disease. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  7. Boulanger, Amy. 2019. Everything You Need to Know About Vaccinations. https://www.healthline.com/health/vaccinations. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  8. Frothingham, Scott. 2018. Hepatitis B Vaccine: All You Need to Know. https://www.healthline.com/health/hepatitis-b-vaccine-side-effects. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  9. Mayo Clinic Staff. 2020. HPV vaccine: Who needs it, how it works. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hpv-infection/in-depth/hpv-vaccine/art-20047292. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  10. Rokom. 2017. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Ini Bukan Akibat Imunisasi MR. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20170907/3022887/kejadian-ikutan-pasca-imunisasi-bukan-akibat-imunisasi-mr/. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  11. Rusmil, Kusnandi. 2015. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian I). https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-i. (Diakses pada 10 Juli 2020)
  12. The Healthline Editorial Team. 2019. Typhus. https://www.healthline.com/health/typhus. (Diakses pada 10 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi