Imunisasi Polio – Manfaat, Indikasi, Dosis, & Efek Samping

imunisasi-polio-doktersehat

DokterSehat.Com – Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang hidup di tenggorokan dan saluran pencernaan seperti usus. Polio pernah menjadi penyebab utama kecacatan di Amerika Serikat sejak diperkenalkannya vaksin polio atau imunisasi polis pada tahun 1955. Penyakit ini telah diberantas di AS, namun polio masih umum di beberapa negara berkembang dan hingga diberantas di seluruh dunia. Karenanya, vaksin polio tetap menjadi salah satu imunisasi pada anak yang direkomendasikan. Di sebagian besar AS, imunisasi polio diperlukan sebelum anak mulai sekolah.

Apa Itu Polio?

Polio adalah infeksi virus yang berkembang di tenggorokan dan saluran pencernaan manusia, yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.

Penyebaran virus antar manusia umumnya karena adanya kontak dengan kotoran dari orang yang terinfeksi dan melalui lendir atau cairan dari hidung dan mulut. Jadi kebersihan diri dan lingkungan harus menjadi perhatian.

Virus polio sangat berbahaya, karena kebanyakan orang yang terinfeksi virus tidak menunjukan adanya gejala apapun, namun beberapa orang yang terjangkit virus polio dapat mengalami kelumpuhan yang bisa mengakibatkan cacat permanen dan bahkan kematian. Karena risiko dan dampaknya yang berat, setiap anak dianjurkan mulai mendapat vaksin sedini mungkin; segera setelah kelahiran. Apakah vaksin untuk penyakit polio? dan kapan imunisasi polio diberikan? Selengkapnya simak penjelasan di bawah ini.

Manfaat Imunisasi Polio

Imunisasi polio termasuk pencegahan apa? Vaksin polio atau imunisasi polio adalah pencegahan infeksi virus pada anak-anak dan orang dewasa. Vaksin diberikan dengan jumlah dosis yang sedikit, yang berfungsi membantu mengembangkan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Vaksin ini tidak akan mengobati infeksi aktif yang sudah berkembang di dalam tubuh.

Vaksin polio untuk digunakan pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia minimal 6 minggu. Seperti halnya vaksin apa pun, vaksin polio mungkin tidak memberikan perlindungan dari penyakit pada setiap orang.

Seseorang tidak boleh menerima vaksin ini jika pernah mengalami reaksi alergi yang mengancam jiwa terhadap vaksin yang mengandung virus polio hidup atau tidak aktif, atau jika Anda alergi terhadap 2-phenoxyethanol, formaldehyde, neomycin, streptomycin, atau polymyxin B.

Sementara itu, seseorang tidak boleh menerima vaksin ini jika memiliki penyakit sedang atau berat dengan demam. Vaksin ini harus dihindari jika:

  • Memiliki penyakit sedang atau berat dengan demam
  • Pernah mengalami reaksi alergi yang mengancam jiwa terhadap vaksin apa pun yang mengandung virus polio hidup atau tidak aktif
  • Alergi terhadap 2-phenoxyethanol, formaldehyde, neomycin, streptomycin, atau polymyxin B.

Jenis Imunisasi Polio

Secara garis besar, imunisasi polio terbagi menjadi dua jenis, yaitu Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) dan Oral Poliovirus Vaccine (OPV).

1. Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

IPV biasanya diberikan dengan cara suntik pada bayi usia 2 bulan, 4 bulan, 6-18 bulan, dan balita 4-6 tahun. IPV disuntikkan pada kaki atau tangan, tergantung dari usia anak. Terkadang IPV diberikan dalam kombinasi vaksin bersama dengan vaksin lain. Dalam hal ini, seorang anak mungkin menerima dosis IPV kelima, ini aman.

Meskipun vaksin polio oral (OPV) masih digunakan di banyak di belakan dunia, vaksin ini belum digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 2000. Namun, menggunakan IPV dapat mengurangi risiko pengembangan polio setelah menerima vaksin polio oral.

Oral Poliovirus Vaccine (OPV)

OPV diberikan secara oral (tetes melalui mulut). OPV mengandung virus polio hidup yang dilemahkan (sabin strain tipe 1, 2 dan 3) dan ditujukan untuk profilaksis polio pada bayi usia 6-12 minggu, semua anak yang belum diimunisasi hingga usia 18 tahun, dan orang dewasa yang berisiko tinggi. Namun, orang dewasa harus menerima vaksin IPV.

OPV dapat diberikan beberapa kali untuk memastikan kekebalan tubuh terhadap ketiga jenis virus polio. Studi klinis telah mengungkapkan bahwa OPV sangat efektif dalam mencegah gejala sisa neurologis, yang disebabkan virus polio. OPV telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tahun 1963.

Indikasi Imunisasi Polio

Dalam beberapa kondisi, pemberian imunisasi polio harus diperhatikan, di antaranya:

1. Profilaksis poliovirus

Dewasa: 0,5 mL PO pada awalnya, kemudian diulangi 8 minggu kemudian. Dosis ketiga harus diberikan 8-12 bulan setelah dosis kedua. Ketika kurang dari 4 minggu tersedia sebelum imunisasi diperlukan, dosis PO 0,5 ml tunggal harus diberikan.

Bayi: Dosis PO 0,5 ml pertama harus diberikan pada usia 6-12 minggu. Dosis PO 0,5 ml kedua harus diberikan sebaiknya 8 minggu setelah dosis pertama. Dosis PO 0,5 ml ketiga harus diberikan pada usia 6 bulan, namun, jika kali ini tidak dapat dipenuhi, dosis ketiga dapat diberikan hingga usia 18 bulan. Anak-anak hingga usia 18 tahun: 0,5 mL PO pada awalnya, diikuti oleh dosis kedua lebih disukai 8 minggu setelah dosis pertama.

Dosis ketiga diberikan 8-12 bulan setelah dosis kedua (remaja dan anak-anak yang lebih besar dapat menerima dosis ketiga 6-8 minggu setelah dosis kedua jika ada peningkatan risiko polio).

Dosis booster disarankan saat mulai sekolah pada usia 4-6 tahun, kecuali dosis ketiga dari seri primer diberikan setelah usia 4 tahun.

2. Pasien dengan gangguan ginjal

Pedoman khusus untuk penyesuaian dosis pada gangguan ginjal tidak tersedia; tampaknya tidak ada penyesuaian dosis yang diperlukan.

Dosis Vaksin Polio

Berikut ini dosis imunisasi polio yang dapat diberikan berdasarkan jenisnya, di antaranya:

1. Dosis Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

Bayi dan anak-anak (seri primer): 0,5 ml S.C. atau I.M. pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 hingga 18 bulan, dan pada 4 hingga 6 tahun.

Interval minimum antara dosis adalah 4 minggu. Atau gunakan perencanaan IPV/oral poliovirus (OPV) berurutan: IPV diberikan pada usia 2 dan 4 bulan, kemudian OPV pada 12 hingga 18 bulan dan 4 hingga 6 tahun.

Dewasa: Dosis tiga : Dosis dua 0,5 ml S.C. atau I.M., terpisah 4 hingga 8 minggu, dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 minggu setelah dosis kedua.

2. Dosis Oral Poliovirus Vaccine (OPV)

Vaksin virus polio OPV diberikan secara oral, tidak boleh diberikan secara parenteral (injeksi/suntikan).

OPV dapat diberikan langsung ke mulut menggunakan pipet dosis tunggal yang disediakan oleh produsen. Atau campur dengan air suling atau bebas klorin, sirup, atau susu, atau diadsorpsi (penyerapan) pada roti, kue, atau gula batu.

Jika dosis tidak ditelan, dimuntahkan, atau sebagian besar dimuntahkan sesaat setelah pemberian (5-10 menit), dosis kedua harus diberikan. Jika dosis kedua tidak dipertahankan, jangan menghitung dosis lainnya.

Efek Samping Vaksin Polio?

Ada kemungkinan efek samping dengan obat apa pun, termasuk vaksin. Kondisi ini biasanya ringan dan hilang dengan sendirinya, tetapi reaksi serius juga kemungkinnan terjadi.

Beberapa orang yang mendapatkan IPV merasakan sakit pada area bekas suntikan. Sementara, IPV belum diketahui menyebabkan masalah serius, namun biasanya orang yang mendapatkan IPV tidak memiliki masalah.

Masalah lain yang kemungkinan terjadi setelah vaksin IPV:

  • Terkadang pingsan setelah menjalani prosedur medis, termasuk vaksinasi. Duduk atau berbaring selama sekitar 15 menit dapat membantu mencegah pingsan dan cedera yang disebabkan jatuh. Beri tahu dokter jika Anda merasa pusing, perubahan penglihatan, atau denging di telinga.
  • Beberapa orang mengalami nyeri bahu yang kemungkinan bisa lebih parah dan lebih tahan lama daripada rasa sakit bekas suntikan. Kondisi ini sangat jarang terjadi.
  • Obat apa pun yang diberikan dapat menyebabkan reaksi alergi parah. Reaksi dari vaksin ini sangat jarang, diperkirakan sekitar 1 dalam sejuta dosis, dan akan terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi.

Teman Sehat! Segera beri anak Anda imunisasi polio dan lindungi masa depannya dari serangan virus polio.