Terbit: 28 September 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sering meragukan pencapaian diri sendiri dapat mengindikasikan impostor syndrome. Ini merupakan sindrom yang cukup umum muncul di masyarakat. Ketahui selengkapnya tentang sindrom penyemu melalui artikel ini!

Impostor Syndrome: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi

Apa Itu Impostor Syndrome?

Impostor syndrome atau sindrom penyemu adalah kondisi di mana seseorang menganggap dirinya tidak kompeten dan meragukan pencapaiannya sehingga takut orang lain mengeksposnya sebagai penipu. Definisi dari sindrom secara sempit terkait dengan kecerdasan dan prestasi, namun sebenarnya juga terkait dengan perfeksionisme dan konteks sosial.

Sindrom ini pertama kali dideskripsikan oleh psikolog pada tahun 1978. Kondisi ini cukup umum dan penelitian pada tahun 2011 menunjukkan bahwa sekitar 70% orang pernah mengalami episode sindrom ini paling tidak satu kali selama hidupnya.

Setiap orang mengalami kondisi ini dengan jangka waktu yang berbeda. Ada yang merasakannya hanya beberapa minggu saja di awal memulai pekerjaan baru. Di sisi lain, ada juga yang mengalaminya sepanjang hidup.

Gejala Impostor Syndrome

Ketika rasa ragu dilebih-lebihkan, seseorang akan merasa kesulitan untuk mengembangkan citra diri yang realistis. Beberapa gejala juga dapat muncul dan mengindikasikan adanya karakteristik sindrom penyemu.

Berikut adalah beberapa hal yang dirasakan oleh seseorang yang mengalami sindrom ini:

  • Merasa khawatir tidak akan memenuhi ekspektasi. Kebanyakan orang dengan sindrom ini takut bahwa kolega atau atasan mereka berharap terlalu banyak dari mereka.
  • Menghindari tanggung jawab tambahan. Cenderung hanya terlarut dengan pekerjaannya daripada memilih tugas tambahan yang dapat meningkatkan atau membuktikan kemampuan mereka.
  • Terjebak dalam “impostor cycle”. Setiap kali mencapai sesuatu, mereka akan semakin khawatir orang lain menemukan tentang kemampuan mereka tersebut.
  • Mengaitkan kesuksesan dengan faktor luar. Mereka menyangkal kompetensi diri sendiri dan merasa faktor eksternal yang berperan dalam kesuksesan mereka.
  • Sabotase diri. Seseorang dengan sindrom ini cenderung memiliki kepercayaan diri rendah dan takut akan kegagalan.
  • Merasakan ketidakpuasan kerja. Cenderung merasa tidak bahagia dalam pekerjaannya.
  • Tidak dapat menentukan nilai dirinya sendiri. Orang dengan sindrom ini akan ragu untuk meminta kenaikan gaji atau promosi jabatan dalam pekerjaan karena tidak percaya bahwa dirinya pantas mendapatkan lebih.
  • Berlebihan dalam menentukan tugas dan tujuan. Ketakutan akan kegagalan yang intens dan kebutuhan untuk menjadi yang terbaik dapat membuat seseorang mendapat pencapaian berlebihan. Orang dengan sindrom ini juga cenderung menetapkan tujuan yang sangat menantang, namun kemudian akan sangat kecewa jika tidak dapat mencapainya.

Penyebab Impostor Syndrome

Penyebab kondisi ini tidak diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa kondisi yang umum menyebabkan seseorang mengalami sindrom ini. Kondisi tersebut adalah seperti:

  • Tantangan baru. Seseorang yang baru mendapat peluang atau kesuksesan baru –promosi jabatan misalnya– dapat mengalami kondisi ini.
  • Tumbuh dengan saudara kandung yang berbakat.
  • Dicap sebagai “si pintar”. Anak-anak yang diajari bahwa diri mereka unggul dalam kecerdasan, bakat, atau bahkan penampilan dapat mengembangkan sindrom ini.

Sindrom ini juga sering kali dikaitkan dengan kecemasan sosial atau social anxiety. Umumnya seseorang dengan kecemasan sosial merasa dirinya seolah-olah tidak termasuk dalam suatu kinerja atau situasi sosial.

Dapat dikatakan bahwa gejala kecemasan sosial sering kali memicu perasaan sindrom penyamu ini, namun bukan berarti orang yang mengalami kecemasan sosial akan merasakan sindrom ini dan juga sebaliknya.

Seseorang yang tidak memiliki kecemasan sosial juga dapat merasa kurang percaya diri dan merasa cemas ketika berada di dalam situasi yang membuat mereka merasa tidak mampu.

Baca Juga: 10 Manfaat Berpikir Negatif yang Jarang Disadari

Diagnosis Impostor Syndrome

Meskipun sindrom ini cukup umum, tapi sindrom ini belum masuk ke dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5) yang diterbitkan American Psychiatric Association. Ahli kesehatan mental dapat mengenali kondisi ini dengan mengevaluasi gejala.

Anda juga dapat mencoba mengidentifikasi sendiri kondisi ini dengan cara menanyakan beberapa pertanyaan terhadap diri Anda sendiri seperti:

  • Apakah Anda menderita bahkan akibat kesalahan atau kekurangan terkecil dalam pekerjaan Anda?
  • Apakah Anda menghubungkan kesuksesan Anda dengan keberuntungan atau faktor luar?
  • Apakah Anda sangat sensitif terhadap kritik yang membangun?
  • Apakah Anda merasa seperti Anda pasti akan ditemukan sebagai penipu?
  • Apakah Anda meremehkan keahlian Anda sendiri, bahkan pada bidang yang Anda benar-benar terampil daripada yang lain?

Jika Anda merasakan bahwa diri Anda mungkin mengalami sindrom ini, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental profesional untuk memastikan kondisi Anda.

Jenis Impostor Syndrome

Sindrom ini ternyata muncul dapat beberapa bentuk. Berikut adalah 5 jenis sindrom penyemu:

  • The Perfectionist (perfeksionis). Tidak pernah puas dan selalu merasa pekerjaannya lebih baik. Cenderung terpaku pada setiap kesalahan dan kekurangan apa pun dan tidak fokus pada ketakutan mereka. Ini dapat menyebabkan tekanan diri dan kecemasan yang besar.
  • The Super Hero (pahlawan super). Merasa tidak mampu sehingga merasa harus memaksakan diri untuk bekerja sekeras mungkin.
  • The Expert (sang ahli). Selalu berusaha belajar lebih banyak dan tidak pernah puas dengan tingkat pemahaman yang dimiliki. Sering kali sangat terampil, namun tetap meremehkan keahliannya sendiri.
  • The Natural Genius (jenius alami). Sering kali menetapkan tujuan yang terlalu tinggi untuk diri sendiri dan kemudian merasa hancur ketika tidak berhasil pada percobaan pertama.
  • The soloist (solois). Cenderung individualis dan lebih suka bekerja sendiri. Sering menolak bantuan karena merasa harga dirinya berasal dari produktivitasnya. Beranggapan bahwa meminta bantuan adalah tanda dari kelemahan dan ketidakmampuan.

Baca Juga: FoMO (Fear of Missing Out), Dampak untuk Kehidupan dan Cara Mengatasi

Cara Mengatasi Impostor Syndrome

Kondisi ini umumnya tidak membutuhkan perawatan medis. Berikut adalah beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mengatasi gejala yang dialami:

  • Bagikan perasaan Anda. Bercerita dan mendengarkan pendapat orang lain dapat membuat keyakinan irasional Anda berkurang.
  • Fokus membantu orang lain. Membantu orang yang memiliki kondisi sama dengan Anda dapat membantu Anda melatih keterampilan dan membangun kepercayaan pada diri sendiri.
  • Nilai kemampuan Anda. Tulis pencapaian Anda dan hal apa saja yang dikuasai, lalu bandingkan dengan penilaian terhadap diri sendiri.
  • Ambil langkah kecil. Jangan fokus untuk melakukan hal besar dan sempurna, mulailah dengan pencapaian-penacapaian kecil dan cobalah untuk memberi penghargaan terhadap diri sendiri.
  • Berhenti membandingkan. Cobalah untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain karena ini dapat membuat Anda terus menemukan kesalahan diri sendiri yang membuat Anda merasa tidak cukup baik.
  • Gunakan media sosial dengan bijak. Penggunaan sosial media berlebihan berpotensi menyebabkan perasaan rendah diri.
  • Berhenti melawan perasaan Anda. Tidak perlu melawan yang Anda rasakan. Sebaliknya, cobalah terima dengan baik agar Anda dapat melepaskan perasaan yang menahan Anda.
  • Jangan menyerah dengan mudah. Meskipun merasa tidak diterima, jangan pernah berhenti untuk mengejar tujuan Anda.
  • Terima bahwa perfeksionis adalah hal yang mustahil. Tidak ada hal yang sempurna dan kesalahan merupakan bagian dari hidup yang tidak dapat dihindari. Cobalah untuk menerima hal ini agar tidak merasa tertekan dan merasa lebih bahagia.

  1. Cuncic, Arlin. 2020. What Is Imposter Syndrome?. https://www.verywellmind.com/imposter-syndrome-and-social-anxiety-disorder-4156469. (28 September 2020).
  2. Leonard, Jayne. 2018. How to handle impostor syndrome. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321730. (28 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi