Terbit: 2 Juni 2021 | Diperbarui: 9 Juni 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Ibu hamil naik pesawat bukanlah sesuatu yang berbahaya, terutama jika Anda memiliki kehamilan yang sehat. Lantas, bagaimana dengan ibu hamil yang memiliki catatan khusus terkait kondisi kesehatan, bolehkah menggunakan pesawat untuk bepergian? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Ibu Hamil Naik Pesawat, Berbahayakah bagi Janin?

Bepergian saat Hamil

Sebelum menjelaskan mengenai boleh tidaknya ibu hamil naik pesawat, penting untuk diketahui bahwa beberapa wanita memilih untuk tidak bepergian dalam 12 minggu pertama kehamilan karena mual, muntah, dan rasa lelah yang dirasakan pada periode ini. Risiko keguguran juga lebih tinggi dalam 3 bulan pertama, baik Anda sedang bepergian atau tidak.

Selain itu, bepergian di bulan-bulan terakhir kehamilan juga bisa melelahkan dan tidak nyaman. Jadi, banyak wanita menemukan waktu terbaik untuk bepergian adalah di pertengahan kehamilan yaitu saat usia kandungan 4 hingga 6 bulan.

Amankah Ibu Hamil Naik Pesawat?

Pada dasarnya, bepergian dengan pesawat tidak membahayakan janin. Namun jika ibu memiliki masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan, konsultasi dengan dokter diperlukan sebelum Anda memutuskan untuk terbang.

Peluang untuk melahirkan secara alami lebih tinggi setelah 37 minggu (atau sekitar 32 minggu jika Anda mengandung anak kembar) dan beberapa maskapai penerbangan juga tidak memperbolehkan terbang menjelang akhir kehamilan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Setiap maskapai memiliki kebijakan yang berbeda-beda, oleh karena itu Anda harus memeriksa aturan tentang hal tersebut. Sebagian besar maskapai penerbangan tidak mengizinkan wanita hamil untuk terbang setelah 37 minggu.

Pada akhirnya, jika Anda memiliki kehamilan yang sehat, bepergian menggunakan pesawat adalah sesuatu yang aman. Tidak terdapat bukti bahwa terbang dapat menyebabkan keguguran, persalinan dini, atau ketuban pecah.

Risiko yang Mungkin Terjadi saat Ibu Hamil Naik Pesawat

Beberapa ibu hamil mungkin mengalami ketidaknyamanan selama penerbangan, antara lain:

  • Pembengkakan kaki yang disebabkan karena retensi cairan (edema).
  • Hidung tersumbat atau masalah dengan telinga.
  • Mabuk perjalanan.

Selain beberapa hal seperti di atas, risiko ibu hamil naik pesawat lainnya yang bisa terjadi adalah deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena. DVT adalah gumpalan darah yang terbentuk di kaki atau panggul. Saat Anda hamil dan hingga enam minggu setelah melahirkan, Anda memiliki risiko lebih tinggi terkena DVT dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil.

Peningkatan risiko terkena DVT saat terbang terjadi karena duduk dalam waktu lama. Risiko DVT meningkat seiring dengan lamanya penerbangan. Risiko juga meningkat jika Anda memiliki faktor risiko tambahan seperti DVT sebelumnya atau memiliki berat badan berlebih.

Apa yang Dapat Ibu Hamil Lakukan untuk Mengurangi Risiko DVT?

Jika Anda melakukan penerbangan jarak pendek (kurang dari empat jam), Anda tidak membutuhkan perlakuan khusus. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko DVT saat melakukan penerbangan jarak menengah atau jauh, antara lain:

  • Mengenakan pakaian longgar dan sepatu yang nyaman.
  • Pilih yang kursi yang memudahkan Anda untuk keluar masuk dari tempat duduk agar Anda dapat berjalan setiap 30 menit.
  • Jika tidak memungkinkan mendapatkan tempat duduk yang sesuai, Anda bisa melakukan gerakan ringan dari tempat duduk.
  • Penuhi asupan cairan tubuh selama penerbangan.
  • Batasi minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
  • Menggunakan stoking kompresi.

Jika Anda memiliki faktor risiko lain untuk DVT, terlepas dari lama penerbangan, Anda mungkin disarankan untuk mendapatkan suntikan heparin. Obat ini akan mengencerkan darah dan membantu mencegah DVT.

Tindakan ini harus dilakukan pada hari penerbangan dan beberapa hari sesudahnya.  Aspirin dosis rendah tampaknya tidak mengurangi risiko DVT, meski begitu Anda harus meminumnya jika sudah diresepkan untuk alasan lain.

Keadaan yang Mengharuskan Ibu Hamil Tidak Bepergian dengan Pesawat

Jika Anda memiliki salah satu dari kondisi berikut, Anda tidak dianjurkan untuk terbang, antara lain:

  • Anda berisiko lebih tinggi untuk melahirkan sebelum hari perkiraan lahir.
  • Menderita anemia berat.
  • Memiliki anemia sel sabit.
  • Baru saja mengalami pendarahan vagina yang signifikan.
  • Memiliki kondisi serius yang memengaruhi paru-paru atau jantung.

Penting bagi Anda untuk mendiskusikan masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan dengan dokter  spesialis kandungan sebelum terbang. Jika Anda memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami keguguran, perdarahan, persalinan prematur, atau kelamahan janin, mintalah pemindaian ultrasound dan saran dokter untuk meyakinkan sebelum Anda terbang.

Baca Juga: Pemeriksaan Kehamilan saat Pandemi COVID-19 (Panduan Aman)

Tips untuk Perjalanan yang Aman Selama Kehamilan

Jika ibu hamil naik pesawat, ikuti tips berikut agar tetap aman dan sehat, antara lain:

  • Pesan kursi dekat lorong sehingga Anda dapat merenggangkan kaki dan pergi ke toilet dengan mudah.
  • Cobalah untuk berjalan di lorong setidaknya setiap dua jam.
  • Hindari makanan yang menghasilkan gas dan minuman berkarbonasi sebelum terbang.
  • Bawalah botol air agar tetap terhidrasi sepanjang penerbangan.
  • Bawa camilan sehat saat Anda lapar selama penerbangan.
  • Jangan lupa tinjau kebijakan maskapai penerbangan yang Anda gunakan terkait ibu hamil naik pesawat.

Beberapa ibu hamil mengungkapkan bahwa waktu terbaik untuk bepergian dengan pesawat adalah trimester kedua. Pada periode ini, gejala morning sickness mungkin telah mereda dan terjadi peningkatan energi tubuh.

Patokan lain untuk ibu hamil naik pesawat adalah di bawah 36 minggu jika Anda mengandung bayi tunggal. Sedangkan jika mengandung banyak bayi waktu terbaik adalah di bawah 32 minggu. Selalu konsultasi dengan dokter sebelum penerbangan untuk memastikan aktivitas tersebut aman bagi ibu dan janin.

Penerbangan Internasional

Guna menghindari risiko persalinan prematur atau masalah kesehatan, lakukan perjalanan internasional sebelum trimester ketiga.

Jangan terbang keluar negeri jika:

  • Anda mengandung lebih dari satu bayi.
  • Ini adalah kehamilan pertama dan Anda berusia 35 tahun ke atas atau 15 tahun ke bawah.
  • Anda memiliki kelainan plasenta, saat ini atau di masa lalu.
  • Anda mengalami pendarahan vagina atau risiko keguguran.

Selain itu, Anda juga jangan terbang ke luar negeri jika memiliki riwayat:

  • Keguguran.
  • Kehamilan ektopik.
  • Persalinan prematur atau ketuban pecah dini.
  • Tekanan darah tinggi, diabetes, atau preeklamsia pada kehamilan.

 

  1. Anonim. Air travel and pregnancy. https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/patients/patient-information-leaflets/pregnancy/air-travel-pregnancy.pdf. (Diakses pada 2 Juni 2021).
  2. Anonim. Safe Flying While Pregnant. https://www.webmd.com/baby/taking-to-the-skies-pregnant-and-safe#1. (Diakses pada 2 Juni 2021).
  3. Chertoff, Jane. 2018. Is It Safe to Fly When Pregnant?. https://www.healthline.com/health/pregnancy/can-you-fly-when-pregnant#long-flights. (Diakses pada 2 Juni 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi