Ini Akibatnya Bila Ibu Hamil Mendonorkan Darah

bahaya-donor-darah-saat hamil-doktersehat

DokterSehat.Com – Donor darah adalah sebuah aktivitas yang baik bagi kesehatan dan berguna bagi orang lain. Namun, apa jadinya jika aktivitas donor darah dilakukan oleh ibu hamil. Adakah bahaya donor darah saat hamil?

Bahaya Donor Darah saat Hamil dari Sisi Medis

Bolehkah ibu hamil donor darah? Sayangnya, kegiatan sosial tersebut tidak bisa dilakukan ketika Anda hamil. Semua palang merah di negara mana pun sepakat untuk menyatakan bahaya donor darah saat hamil. Hanya saja, setiap palang merah di negara tertentu memiliki peraturan yang berbeda terakait bolehkah ibu hamil donor darah.

Di Indonesia, ibu hamil baru diperbolehkan mendonorkan darahnya 6 bulan setelah melahirkan. Sedangkan di Amerika Serikat, ibu hamil baru boleh donor darah 6 minggu setelah melahirkan. Di Australia, donor darah baru bisa dilakukan 9 bulan setelah ibu hamil tersebut selesai menyusui bayinya.

Baca juga: Bolehkah Kita Melakukan Donor Darah Saat Sedang Puasa

Mengingat kondisi ibu hamil cenderung berisiko lebih besar mengalami anemia, sehingga ibu hamil memerlukan darah untuk tubuh dan janinnya sendiri. Bahaya donor darah saat hamil yang bisa terjadi adalah meningkatnya risiko anemia.

Perlu Anda ketahui, kadar zat besi ibu hamil sudah rendah bahkan sebelum melakukan donor. Ketika ibu hamil menyumbangkan 250-350 ml darah, tubuhnya berpotensi kehilangan minimal 9-13 persen cadangan zat besi, di mana hal ini semakin meningkatkan risiko anemia.

Pada beberapa kasus, ada wanita yang mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan. Kondisi ini juga bisa menyebabkan anemia. Transfusi sel darah merah dibutuhkan untuk mengatasi kondisi ini.

Beberapa gejala lanjutan dari perdarahan hebat setelah melahirkan seperti rasa nyeri di vagina, peningkatan detak jantung dan penurunan tekanan darah. Pendarahan ini umumnya terjadi karena terbukanya pembuluh darah pada rahim di mana plasenta melekat di dinding rahim ketika hamil.

Selain itu, darah juga dapat keluar dari robekan jalan lahir yang terjadi saat wanita melalui prosedur episiotomy—sayatan yang dibuat pada perineum (jaringan di antara jalan lahir bayi dan anus).

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahaya donor darah saat hamil yang bisa terjadi adalah anemia. Tidak hanya berbahaya bagi ibu hamil, anemia juga bisa merusak pertumbuhan jaringan, terutama otak janin.

Oleh karenanya, untuk melindungi tumbuh kembang janin dan menjaga agar kadar hemoglobin (Hb) Anda tetap optimal, Anda harus mengetahui fakta bahaya donor darah saat hamil.

Setelah Anda mendapatkan penjelasan mengenai bahaya donor darah saat hamil, kini saatnya bagi Anda untuk mengetahui alasan-alasan yang mendukungnya, di antaranya:

1. Ibu hamil membutuhkan suplai darah yang sangat banyak

Penjelasan mengenai bahaya donor darah saat hamil yang pertama adalah terkait kebutuhan darah wanita hamil. Wanita yang sedang hamil memang memiliki volume darah yang lebih banyak dari sebelumnya.

Pada umumnya, volume darah pada ibu hamil meningkat sekitar 60 persen. Akan tetapi, ini tidak mengartikan bahwa wanita hamil memiliki banyak cadangan darah. Justru sebaliknya, para ibu hamil terutama yang masih hamil muda, membutuhkan suplai darah yang jauh lebih banyak dari volume darah.

Ibu hamil membutuhkan suplai darah yang sangat banyak untuk tubuh dan janinnya. Melalui darah, sari-sari makanan dan oksigen didistribusikan untuk kebutuhan janin dan tubuhnya. Oksigen dan sari-sari makanan itulah yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.

2. Ibu hamil mengalami pengenceran darah

Bahaya donor darah saat hamil berikutnya dipengaruhi oleh kondisi darah ibu hamil. Selain karena kebutuhan suplai darah yang sangat banyak, darah pada ibu hamil mengalami pengenceran.

Hal ini dikarenakan cairan pada tubuh wanita hamil cenderung meningkat drastis sehingga memengaruhi kekentalan darah. Sari-sari makanan dan oksigen yang terkandung di dalam darah pun menjadi berkurang.

Nah, itulah sejumlah bahaya donor darah saat hamil yang bisa terjadi.

 

Baca juga: Waspada! Ibu Hamil Bisa Terkena Masalah Darah Rendah

Dampak yang Bisa Terjadi Apabila Ibu Hamil Mendonorkan Darah

Seperti penjelasan sebelumnya mengenai bahaya donor darah saat hamil, sebaiknya ibu hamil menunda terlebih dahulu untuk mendonorkan darahnya. Tunda sementara waktu aktivitas tersebut sampai kondisi badan Anda pulih total.

Ibu hamil yang sebenarnya kekurangan darah tetapi masih tetap ingin memberikan darahnya kepada orang lain akan membuatnya semakin menderita anemia yang lebih parah. Kekurangan darah yang teramat parah ini bisa memengaruhi pertumbuhan janin terutama pada perkembangan otak.

Gejala lain yang harus diwaspadai ibu hamil adalah mata berkunang-kunang, lemas, pusing, hingga mudah mengantuk. Kondisi tersebut bisa berefek pada kesehatan janin dalam kandungan seperti risiko keguguran pasca-persalinan atau infeksi saat proses persalinan.

Selain itu, hal ini juga akan membahayakan keamanan nyawa Anda. Ibu hamil yang kekurangan darah pada level tinggi akan mengalami sesak napas dan kekurangan zat gizi sehingga menjadi jauh lebih lemas dan lesu. Kondisi ini bisa menjadikan ibu hamil sering pingsan dan berdampak pada komplikasi masalah lainnya yang lebih parah.

Bahkan, bahaya donor darah tidak hanya saat hamil, aktivitas ini juga berisiko bagi Anda yang sedang menyusui. Perlu diketahui, air susu ibu (ASI) terdiri dari 87 persen air, saat Anda mendonorkan darah 250-300 ml otomatis jumlah darah dan cairan tubuh akan berkurang, sehingga bisa menyebabkan penurunan produksi ASI.

Karena kebutuhan selama dan setelah kehamilan belum bisa diantisipasi terkait bahaya dan risiko yang bisa terjadi, kebutuhan darah ibu hamil harus tercukupi demi tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu hamil sendiri.

Utamakanlah janin dan diri Anda sendiri selama masa kehamilan. Ibu adalah pendonor darah terbaik berikut sari-sari makanan dan oksigen untuk janin. Jadi, jika ada yang bertanya bolehkah ibu hamil donor darah? Anda sudah bisa menjawab pertanyaan itu dengan lengkap.