Terbit: 8 Maret 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Prosedur membekukan embrio mungkin belum banyak dilakukan di Indonesia. Namun metode ini memberikan harapan baru bagi pasangan yang melakukan bayi tabung sebagai upaya untuk memiliki keturunan.

Bayi Tabung dengan Embrio Beku Lebih Aman dari Embrio Segar?

Dilansir dari laman Huffington Post, sebuah studi terkini menyebutkan bahwa perempuan yang menjalani metode bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) dengan embrio beku memiliki kemungkinan lebih besar untuk hamil daripada yang tidak menggunakan embrio beku.

Para ahli dari China dan peneliti dari Yale School of Public Health (YSPH) melakukan penelitian pada lebih dari 2000 wanita yang menjalani siklus IVF pertama secara acak untuk melakukan transfer embrio beku atau transfer embrio segar.

Dalam penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menemukan bahwa persentase wanita yang berhasil melakukan bayi tabung dengan embrio beku hanya selisih sedikit dibandingkan dengan wanita yang melakukan bayi tabung dengan embrio segar. Para peneliti menganggap selisih angka ini tidak signifikan.

“Teknik membekukan embrio semakin populer di klinik kesuburan di dunia, ujar Dr. Lan N. Vuong dari Universitas Kedokteran dan Farmasi di Ho Chi Minh City selaku pemimpin penelitian tersebut.

“Ini adalah salah satu alasan mengapa penelitian kami penting bagi dokter, pakar kesuburan dan tentunya bagi pasangan yang berharap memiliki anak,” imbuh Dr. Lan.

Para peneliti menyebutkan bahwa wanita yang menggunakan embrio beku memiliki tingkat kelahiran hidup 48,7% sedangkan pada wanita yang menggunakan embrio segar mencapai angka 50,2%. Tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok tersebut baik dari segi tingkat implantasi, kehamilan klinis, dan kehamilan yang sedang berlangsung.

Satu perbedaan mendasar yang berhasil ditemukan peneliti adalah pada metode bayi tabung dengan embrio beku menghasilkan risiko sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) lebih rendah dibandingkan wanita yang melakukan bayi tabung dengan embrio segar.

OHSS merupakan efek samping dari penggunaan obat hormonal untuk merangsang perkembangan telur dalam ovarium wanita. Umumnya kondisi ini ditandai dengan sakit perut ringan, mual, muntah, atau diare. Wanita yang melakukan bayi tabung dengan embrio beku memiliki kemungkinan mengalami OHSS sebesar 0,6% sedangkan pada wanita yang melakukan bayi tabung dengan embrio segar kemungkinan mengalami OHSS sebesar 2%.

Beberapa rumah sakit di Indonesia sudah memiliki layanan membekukan sel telur. Bagi Anda yang ingin merencanakan kehamilan di masa depan dapat mempertimbangkan untuk mencoba metode ini. Mengingat metode bayi tabung membutuhkan kesiapan mental dan persiapan dana yang cukup besar, sebaiknya Anda berdiskusi bersama pasangan dan dokter kandungan mengenai metode ini.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi