Terbit: 22 July 2022 | Diperbarui: 25 July 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Gejala anemia saat hamil sering kali tidak disadari karena tandanya tampak mirip gejala kehamilan pada umumnya.  Jika tidak mendapatkan penanganan dengan tepat, hal tersebut dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin. Simak penjelasan mengenai gejala hingga cara mengatasinya dalam ulasan berikut ini.

Bumil, Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Anemia saat Hamil

Mengenal Gejala Anemia pada Ibu Hamil

Berikut ini gejala anemia pada ibu hamil yang perlu Anda kenali, di antaranya:

  • Mudah kelelahan.
  • Merasa lemah.
  • Pusing.
  • Sakit kepala.
  • Kulit pucat atau kekuningan.
  • Sesak napas.

Sementara gejala anemia berat pada ibu hamil yang mungkin terjadi, termasuk:

  • Detak jantung yang cepat (takikardia).
  • Tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Sulit fokus atau berkonsentrasi.

Gejala anemia pada ibu hamil yang tergolong parah atau tidak diobati selama kehamilan dapat membahayakan ibu dan janin. Beberapa bahaya yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Bayi lahir prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah.
  • Transfusi darah, jika ibu hamil kehilangan banyak darah selama persalinan.
  • Depresi pasca-persalinan.
  • Bayi mengalami anemia.
  • Anak dengan keterlambatan perkembangan.

Baca Juga: Anemia pada Ibu Hamil: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Cara Mengatasi Anemia saat Hamil

Apabila mendunga bahwa Anda mengalami anemia selama kehamilan, sebaiknya temui dokter untuk mendapatkan diagnosis. Jika benar mengalami anemia, mungkin dokter akan menganjurkan untuk meningkatkan asupan zat besi atau perawatan lainnya.

Berikut ini adalah cara mengatasi anemia saat hamil:

1. Suplemen zat besi

Anemia defisiensi besi selama kehamilan biasanya mudah diobati dengan mengonsumsi suplemen zat besi. Jika dokter menyarankan Anda mengonsumsi suplemen zat besi, hal tersebut akan membantu mengatasi gejala anemia.

National Institutes of Health (NIH) merekomendasikan agar wanita mendapatkan jumlah zat besi harian berdasarkan usia dan kehamilan.

Berikut ini dosis zat besi harian untuk wanita:

  • 15 mg untuk usia 14 hingga 18 tahun.
  • 18 mg untuk usia 19 hingga 50 tahun.
  • 27 mg untuk selama kehamilan.

Penting untuk diingat, sebaiknya periksa petunjuk dosis suplemen zat besi di balik kemasan untuk melihat berapa banyak dosis yang dapat diserap tubuh.

Mungkin juga dokter dapat merekomendasikan ibu hamil dengan anemia untuk mengonsumsi vitamin D, folat, atau B12. Semua vitamin ini dapat menyehatkan sel darah merah.

Namun, pastikan untuk memberi tahu dokter tentang obat lain yang sedang Anda gunakan, karena beberapa di antaranya dapat berinteraksi dengan suplemen zat besi. Mungkin Anda perlu mengganti jenis obat atau mungkin dokter memberi tahu cara meminumnya dengan benar.

Jika suplemen tidak efektif meningkatkan kadar zat besi, mungkin ada penyebab lain dari anemia, seperti gangguan penyerapan zat besi. Dalam kasus ini, dokter mungkin meresepkan antibiotik untuk mengobati tukak lambung atau pengobatan lain tergantung pada penyebabnya.

Dalam kasus yang parah, suplemen zat besi intravena atau transfusi darah mungkin diperlukan.

2. Makanan sumber zat besi

Perubahan pola makan menjadi salah satu cara mengatasi anemia saat hamil. Anda dapat mencoba menambahkan lebih banyak makanan kaya zat besi dalam pola makan sehari-hari.

Berikut ini adalah berbagai makanan sumber zat besi, di antaranya:

  • Sayuran berdaun hijau tua, seperti bayam, sawi hijau, pakcoy, brokoli, dan daun katuk.
  • Daging merah
  • Daging ayam.
  • Ikan.
  • Telur.
  • Tahu.
  • Kacang-kacangan.
  • Biji-bijian.
  • Kacang polong.
  • Buah kering.
  • Roti.
  • Sereal.
  • Pasta yang diperkaya zat besi.

Baca Juga: 11 Sayur yang Bagus untuk Ibu Hamil, Kaya Nutrisi dan Sehat!

3. Vitamin C

Mengonsumsi suplemen vitamin C atau makanan yang mengandung vitamin C, seperti buah jeruk, stroberi, melon, kiwi, tomat, dan paprika, juga dapat membantu penyerapan zat besi.

Perlu Anda ketahui bahwa zat besi yang ditemukan dalam tumbuhan tidak mudah diserap seperti zat besi yang ditemukan dalam daging.

Oleh karena itu, ketika mengonsumsi makanan kaya akan zat besi, yang terbaik adalah mengonsumsi makanan lain yang mengandung vitamin C pada waktu bersamaan untuk membantu penyerapan zat besi.

Namun, beberapa orang mungkin tidak dapat dengan mudah menyerap zat besi dari makanan, sehingga mungkin masih direkomendasikan mengonsumsi suplemen zat besi.

Nah, itulah penjelasan tentang gejala dan cara mengatasi anemia saat hamil yang perlu Anda ketahui. Hal terpenting adalah menjaga pola makan sehat dan rutin memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat!

 

  1. Anonim. 2022. Iron deficiency anemia during pregnancy: Prevention tips. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/anemia-during-pregnancy/art-20114455. (Diakses pada 22 Juli 2022)
  2. Anonim. How to Treat Iron Deficiency During Pregnancy. https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-health-wellness/treat-iron-deficiency-naturally-pregnancy/. (Diakses pada 22 Juli 2022)
  3. Miles, Karen. 2021. Anemia in pregnancy. https://www.babycenter.com/pregnancy/health-and-safety/iron-deficiency-anemia-in-pregnancy_10414720. (Diakses pada 22 Juli 2022)
  4. Uscher, Jen. 2020. Anemia in Pregnancy. https://www.webmd.com/baby/guide/anemia-in-pregnancy#091e9c5e809911cb-2-6. (Diakses pada 22 Juli 2022)
  5. Villines, Zawn. 2021. What is low iron during pregnancy?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/anemia-in-pregnancy-2. (Diakses pada 22 Juli 2022)


DokterSehat | © 2023 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi