Terbit: 2 Oktober 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Hipomagnesemia adalah kondisi ketika kadar magnesium dalam tubuh berkurang atau rendah. Ini dapat ditandai dengan kedutan otot hingga aritmia. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan dan lainnya di bawah ini!

Hipomagnesemia: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Hipomagnesemia?

Hipomagnesemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan magnesium. Magnesium adalah mineral dan elektrolit yang memiliki sejumlah fungsi penting dalam tubuh.

Tubuh tidak dapat memproduksi magnesium, untuk itu mineral ini harus didapatkan dari makanan tertentu yang kaya akan magnesium.

Menurut National Institutes of Health (NIH), sekitar 50-60 persen magnesium tubuh disimpan di tulang dan kurang dari 1 persen terdapat di dalam darah.

Magnesium berperan penting terhadap lebih dari 300 reaksi metabolisme dalam tubuh. Reaksi ini memengaruhi sejumlah proses tubuh yang sangat penting, termasuk:

  • Metabolisme glukosa dan insulin.
  • Metabolisme tulang.
  • Fungsi jantung.
  • Konduksi sinyal antara otot dan saraf.
  • Sintesis protein.
  • Produksi dan penyimpanan energi seluler.
  • Stabilisasi sel.
  • Sintesis DNA dan RNA.
  • Transmisi sinyal saraf.
  • Tekanan darah.

Tanda dan Gejala Hipomagnesemia

Orang yang memiliki hipomagnesemia ringan mungkin tidak menimbulkan gejala, tetapi gejala umumnya termasuk:

  • Kedutan, terutama di otot wajah.
  • Kelemahan dan kelelahan.
  • Mual dan muntah.
  • Perubahan kepribadian.
  • Tremor.
  • Refleks yang sangat terasa.
  • Sembelit.

Sedangkan kekurangan magnesium yang lebih parah dapat menyebabkan gejala berikut:

  • Kontraksi otot.
  • Kejang.
  • Perubahan irama jantung.

Dalam kasus yang jarang terjadi, perubahan ritme jantung dapat mengancam jiwa.

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Jika kadar magnesium tubuh berkurang atau turun terlalu banyak, ini bisa menjadi keadaan darurat yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, sesegera mungkin hubungi dokter jika mengalami kondisi ini.

Penyebab Hipomagnesemia

Hipomagnesemia adalah kondisi yang dapat terjadi ketika tubuh tidak menyerap cukup magnesium dari makanan. Kondisi ini mungkin terjadi ketika tubuh melepaskan magnesium terlalu banyak dari ginjal atau melalui saluran gastrointestinal.

Malnutrisi atau gizi buruk, kemungkinan disebabkan oleh anoreksia, bulimia, atau sering muntah dapat menyebabkan kekurangan magnesium. Namun, gizi buruk kemungkinan tidak memicu rendahnya kadar mineral pada orang sehat.

Penyebab hipomagnesemia lain, termasuk:

  • Alkoholisme. Minum alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit atau nutrisi, dan dapat menyebabkan tubuh melepaskan magnesium lebih banyak dari biasanya.
  • Menyusui dan kehamilan. Ketika ibu menyusui atau sedang hamil, kondisi ini dapat meningkatkan kebutuhan akan magnesium.
  • Diare. Diare kronis juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Orang dengan kondisi terkait seperti penyakit Crohn juga lebih rentan terhadap kekurangan magnesium.
  • Usia. Seiring bertambahnya usia, semakin sulit tubuh untuk menyerap magnesium dari makanan.
  • Diabetes. Kadar glukosa yang tinggi pada ginjal dapat menyebabkan tubuh melepaskan magnesium lebih banyak. Penderita diabetes tipe 2 atau resistensi insulin bisa mengalami kekurangan magnesium. Ketoasidosis diabetik adalah komplikasi diabetes yang mengancam jiwa, dan menurunkan kadar magnesium.
  • Kegagalan organ. Kegagalan organ seperti pada ginjal, dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan terlalu banyak magnesium.

Orang yang sedang menjalani pengobatan tertentu juga dapat mengalami kekurangan magnesium. Obat-obatan ini meliputi:

  • Beberapa obat antijamur.
  • Diuretik
  • Penghambat pompa proton atau proton pump inhibitor (PPI).
  • Obat kemoterapi (cisplatin).

Faktor Risiko Hipomagnesemia

Sejumlah faktor tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gejala kekurangan magnesium, termasuk:

  • Sering makan makanan rendah magnesium.
  • Mengalami gangguan gastrointestinal seperti penyakit Crohn, penyakit celiac, atau enteritis regional
  • Kehilangan magnesium yang berlebihan melalui urine dan keringat akibat kelainan genetik atau terlalu banyak minum alkohol.
  • Sedang hamil dan menyusui.
  • Menjalani perawatan di rumah sakit.
  • Mengalami gangguan paratiroid dan hiperaldosteronisme.
  • Memiliki diabetes tipe 2.
  • Lansia.
  • Minum obat tertentu seperti penghambat pompa proton, diuretik, bifosfonat, dan antibiotik.

Baca Juga: 10 Manfaat Magnesium (Beserta Sumber Makanan)

Diagnosis Hipomagnesemia

Dokter mungkin akan mendiagnosis kekurangan magnesium berdasarkan gejala, atau karena pasien memiliki kondisi yang biasanya terkait dengan kekurangan magnesium.

Pemeriksaan dengan tes darah dapat memastikan diagnosis, dan penting pula bagi dokter memeriksa kadar kalsium dan kalium dalam tubuh.

Namun, mengingat sebagian besar magnesium terletak di tulang atau jaringan, pasien mungkin masih mengalami kekurangan magnesium, dan bahkan ketika kadar dalam darah normal. Pasien yang mengalami kekurangan kalsium atau kalium mungkin masih memerlukan pengobatan untuk hipomagnesemia.

Meski begitu, diagnosis kekurangan magnesium berbeda-beda di setiap negara. Hal ini karena sulit untuk mengukur secara akurat jumlah magnesium dalam tubuh seseorang.

Menurut NIH, angka kecukupan gizi (AKG) terhadap magnesium untuk orang berusia 19 dan 30 tahun, di antaranya:

  • 310 miligram untuk wanita.
  • 400 miligram untuk pria.

AKG untuk usia di atas 31 tahun, di antaranya:

  • 320 miligram untuk wanita.
  • 420 miligram untuk wanita.

Sedangkan AKG untuk magnesium lebih tinggi pada remaja berusia 14 dan 18 tahun dan ibu hamil. Sementara anak-anak yang lebih kecil membutuhkan lebih sedikit magnesium daripada remaja dan orang dewasa.

Pengobatan Hipomagnesemia

Hipomagnesemia adalah kondisi yang biasanya diobati dengan suplemen magnesium oral dan mengonsumsi makanan yang meningkatkan magnesium.

Suplemen magnesium yang tersedia dalam berbagai formulasi, di antaranya:

  • Magnesium klorida
  • Magnesium oksida.
  • Magnesium sitrat

Sejumlah makanan yang dapat meningkatkan kadar magnesium, termasuk:

  • Alpukat.
  • Bayam.
  • Ikan salmon.
  • Ikan halibut.
  • Kacang tanah.
  • Kacang almond.
  • Kacang mete.
  • Kacang hitam
  • Kentang panggang dengan kulitnya.
  • Roti gandum.
  • Sereal gandum utuh.
  • Susu kedelai.
  • Pisang.

Jika kondisi hipomagnesemia berat atau tidak menerapkan perawatan di atas, dokter mungkin menyarankan garam magnesium oral atau magnesium yang disuntikkan ke otot atau vena. Selanjutnya dilakukan pemantauan untuk menentukan apakah pengobatan efektif.

Kekurangan magnesium juga terkait dengan kekurangan mineral lainnya, sehingga dokter mungkin akan mengobatinya pada waktu yang bersamaan. Misalnya, kalsium dan magnesium sering kali diterima secara bersamaan.

Penting pula untuk mengobati kondisi yang mendasari seperti diabetes, yang dapat menyebabkan rendahnya magnesium. Jika masih mengalami defisiensi magnesium, kemungkinan pengobatannya tidak efektif.

Baca Juga: Magnesium Sulfat: Dosis, Indikasi, Efek Samping, & Kontraindikasi

Komplikasi

Jika penyebab defisiensi magnesium utamanya tidak diobati, ini dapat menyebabkan kadar magnesium yang sangat rendah. Hipomagnesemia berat dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa, termasuk:

  • Aritmia.
  • Kejang.
  • Kejang arteri koroner atau coronary artery vasospasm (CVS).
  • Kematian mendadak.

Pencegahan Hipomagnesemia

Nutrisi dan kondisi tertentu dapat memengaruhi seberapa banyak magnesium yang diserap tubuh. Jika ingin meningkatkan kadar magnesium dengan meningkatkan penyerapannya, lakukan beberapa langkah berikut:

  • Mengurangi atau menghindari makanan kaya kalsium 2 jam sebelum atau sesudah makan makanan kaya magnesium.
  • Menghindari suplemen zinc dosis tinggi.
  • Mengobati kekurangan vitamin D.
  • Makan sayuran mentah daripada yang dimasak.
  • Berhenti merokok.

 

  1. Crichton-Stuart, Cathleen. 2018. How can I tell if I have low magnesium?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322191#diagnosis-and-rda. (Diakses pada 2 Oktober 2020)
  2. Dix, Megan. 2018. Hypomagnesemia (Low Magnesium). https://www.healthline.com/health/hypomagnesemia. (Diakses pada 2 Oktober 2020)
  3. Villines, Zawn. 2018. What to know about magnesium deficiency. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321735. (Diakses pada 2 Oktober 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi