Hipertensi: Penyebab, Gejala, Pengobatan & Pencegahan

penyakit-hipertensi-doktersehat

DokterSehat.Com – Hipertensi adalah nama lain untuk tekanan darah tinggi. Kondisi Ini dapat menyebabkan komplikasi parah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kematian. Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh darah ke dinding pembuluh darah. Tekanannya tergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh jantung dan resistensi pembuluh darah. Selengkapnya simak lebih lengkap apa itu hipertensi hingga pencegahannya di bawah ini.

Apa itu hipertensi?

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi di mana kekuatan aliran dari darah terhadap dinding arteri cukup tinggi. Hampir sepertiga dari orang-orang yang memiliki penyakit hipertensi tidak menyadari penyakit ini dalam tubuhnya.

Jika Anda belum memeriksa dan tidak tahu tekanan darah Anda, mintalah kepada dokter untuk memeriksanya. Semua orang dewasa sebaiknya memeriksa tekanan darah mereka setidaknya setiap lima tahun sekali.

Kekuatan tekanan darah ini bisa berubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh aktivitas apa yang sedang dilakukan jantung dan daya tahan pembuluh darah.

Penyebab Hipertensi

Ada dua jenis yang menyebabkan hipertensi. Berikut ini dua jenis penyebab tekanan darah tinggi yang memiliki penyebab berbeda:

1. Hipertensi primer

Hipertensi primer juga disebut hipertensi esensial. Jenis penyebab hipertensi ini berkembang dari waktu ke waktu tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. Kebanyakan orang memiliki jenis tekanan darah tinggi.

Para peneliti masih belum jelas mekanisme apa yang menyebabkan tekanan darah meningkat secara perlahan. Kombinasi faktor dapat berperan. Faktor-faktor ini termasuk:

  • Gen: Beberapa orang secara genetik cenderung mengalami hipertensi. Ini mungkin dari mutasi gen atau kelainan genetik yang diwarisi dari orang tua.
  • Perubahan fisik: Jika sesuatu dalam tubuh berubah, Anda mungkin mulai mengalami masalah di seluruh tubuh. Tekanan darah tinggi mungkin menjadi salah satu masalah itu. Misalnya, diperkirakan perubahan fungsi ginjal karena penuaan dapat mengganggu keseimbangan garam dan cairan alami tubuh. Perubahan ini dapat menyebabkan tekanan darah tubuh meningkat.
  • Lingkungan: Seiring waktu, gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk dapat berdampak buruk pada tubuh Anda. Pilihan gaya hidup dapat menyebabkan masalah berat badan. Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko hipertensi.

2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder sering terjadi dengan cepat dan bisa menjadi lebih parah daripada hipertensi primer. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder meliputi:

  • Sleep apnea obstruktif
  • Penyakit ginjal
  • Cacat jantung bawaan
  • Masalah dengan tiroid
  • Efek samping obat
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Penyalahgunaan alkohol atau penggunaan kronis
  • Masalah kelenjar adrenal
  • Tumor endokrin tertentu

Faktor risiko hipertensi

Sementara itu berikut ini faktor risiko penyebab hipertensi yang patut Anda waspadai di antaranya:

  • Obesitas
  • Terlalu banyak minum alkohol
  • Merokok
  • Riwayat keluarga.

Salah satu aspek yang paling berbahaya dari hipertensi adalah bahwa setiap individu tidak menyadari bahwa dirinya memiliki hipertensi. Padahal, penyebab tekanan darah tinggi bisa saja tidak disadari oleh banyak orang. Banyak orang yang mengabaikan gaya hidup tak sehat yang menjadi penyebab hipertensi.

Risiko mengidap hipertensi dapat dikurangi dengan mengubah hal-hal di atas dan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda mengalami hipertensi adalah dengan pemeriksaan tekanan darah yang teratur. Hal ini penting terutama jika kita memiliki saudara atau keturunan tekanan darah tinggi.

Baca juga: Tempat Kerja Terlalu Berisik Bisa Memicu Hipertensi dan Kolesterol Tinggi

Jenis Hipertensi

Penyakit hipertensi terbagi menjadi tiga berdasarkan tingkatannya, berikut penjelasannya:

1. Hipertensi grade I

Ketika tekanan darah sistole di atas atau sama dengan 140 mmHg, dan tekanan darah diastole di atas atau sama dengan 90 mmHg. Diagnosis hipertensi grade I apabila selama 2 kali pemeriksaan berturut-turut dalam rentang waktu seminggu pasien menunjukkan tekanan darah tersebut.

2. Hipertensi grade II

Ketika tekanan darah sistole di atas atau sama dengan 160 mmHg, dan tekanan darah diastole di atas atau sama dengan 100 mmHg pada satu kali pemeriksaan.

3. Krisis hipertensi

Ketika tekanan darah diastole di atas atau sama dengan 180 mmHg dan tekanan darah diastole di atas atau sama dengan 110 mmHg. Krisis hipertensi sendiri dibagi menjadi 2:

  • Hipertensi darurat (jika terdapat kegagalan organ vital)
  • Hipertensi urgensi (jika belum terjadi kegagalan organ vital).

Gejala Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejalanya. Namun, pada beberapa orang dengan tekanan darah yang sangat tinggi dapat muncul gejala hipertensi berupa:

  • Sakit kepala parah
  • Kelelahan atau kebingungan
  • Masalah penglihatan (kemungkinan komplikasi ke retina mata)
  • Nyeri dada
  • Sulit bernapas
  • Denyut jantung tidak teratur
  • Adanya darah dalam urine (kemungkinan komplikasi ke ginjal)
  • Berdebar di dada, leher, atau telinga.

Jika Anda memiliki gejala hipertensi tersebut, segera periksakan diri Anda ke dokter. Tekanan darah yang tidak terkontrol mampu menyebabkan pasien jatuh ke dalam kondisi krisis hipertensi, yaitu hipertensi yang menyebabkan kegagalan organ seperti serangan jantung atau stroke. Jadi, waspadai gejala hipertensi sebelum penyakit tersebut menjadi semakin parah.

Baca juga: Kerap Mimisan Menandakan Hipertensi?

Diagnosis Hipertensi

Tekanan darah tinggi sering disebut silent disease karena pasien biasanya tidak tahu bahwa tubuhnya memiliki hipertensi. Hal ini dikarenakan karena penyakit hipertensi tidak menunjukkan tanda dan gejala hipertensi secara kasatmata. Itulah kenapa pemantauan tekanan darah secara rutin sangat penting.

Angka tekanan darah yang ideal adalah di bawah 120/80 mmHg. Namun, hasil pengukuran di bawah 130/90 mmHg masih termasuk dalam batas normal. Tekanan darah bisa berubah-ubah. Hasil pengukuran yang tinggi dalam sekali pemeriksaan tidak berarti Anda otomatis mengidap penyakit hipertensi.

Tekanan darah biasanya diukur memakai sfigmomanometer manual maupun digital. Kebanyakan dokter kini memakai sfigmomanometer digital, yaitu alat pengukur tekanan darah yang memakai sensor elektronik dalam mendeteksi denyut Anda.

Pengobatan Hipertensi

Pengobatan hipertensi yang utama adalah dengan mengubah gaya hidup. Pola hidup sehat yang dapat diterapkan, di antaranya:

  • Olahraga teratur
  • Jaga berat badan tetap ideal
  • Batasi konsumsi garam
  • Hindari merokok

Selain itu, Anda juga harus bisa menghindari stres, karena dapat menyebabkan masalah emosional, psikologis, dan bahkan fisik, termasuk penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi. Oleh karenanya, menangani stres penting dilakukan untuk menghindari hipertensi.

Makanan yang dapat menurunkan hipertensi

Diet yang dapat membantu mengontrol hipertensi adalah makanan yang kaya akan kalium, magnesium, serat dan rendah sodium.

Berikuti makanan yang bisa membantu menurunkan hipertensi:

  • Sayuran hijau
  • Buah berries
  • Bit
  • Susu skim dan yoghurt
  • Oatmeal
  • Pisang
  • Salmon, makerel, dan ikan dengan omega-3
  • Biji-bijian
  • Bawang putih
  • Cokelat hitam
  • Pistacio
  • Minyak zaitun
  • Buah delima

Baca juga: Super, Ini 3 Kombinasi Jus Sederhana yang Ampuh Lawan Hipertensi

Obat Hipertensi

Selain mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat san mengonsumsi makanan penurun penyakit hipertensi, Anda juga membutuhkan beberapa obat yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah, di antaranya:

1. Kalsium channel blocker

Obat hipertensi ini digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Kalsium channel blocker bekerja dengan memperlambat gerakan kalsium ke dalam sel jantung dan dinding pembuluh darah, yang membuat jantung lebih mudah untuk memompa dan memperlebar pembuluh darah.

2. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat tekanan darah tinggi yang memperlebar pembuluh darah sehingga meningkatkan jumlah darah yang dipompa jantung dan pada akhirnya menurunkan penyakit hipertensi.

3. Angiotensin II receptor blockers (ARB)

Angiotensin II receptor blocker (ARB) memiliki efek yang sama seperti ACE inhibitor, tetapi bekerja dengan mekanisme yang berbeda.

4. Diuretik

Umumnya dikenal sebagai pil air, yang membantu tubuh untuk menyingkirkan air dan garam yang tidak dibutuhkan melalui urine. Menyingkirkan kelebihan garam dan cairan membantu menurunkan tekanan darah dan dapat membuat jantung memompa darah lebih ringan.

5. Beta-blockers

Obat ini digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dengan cara memblokir efek dari sistem saraf simpatik pada jantung.

6. Omega-3 suplemen minyak ikan

Diet suplemen ikan dan minyak ikan memiliki manfaat bagi orang sehat dan juga orang-orang dengan penyakit jantung.

Pencegahan Hipertensi

Cara terbaik untuk pencegahan hipertensi adalah dengan menjalani pola hidup sehat. Dengan menjalani gaya hidup sehat, Anda dapat membantu menjaga tekanan darah dalam kisaran yang sehat dan menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke. Gaya hidup sehat sama halnya mengobati hipertensi, di antaranya:

  • Makan diet sehat
  • Mempertahankan berat badan yang sehat
  • Mendapatkan aktivitas fisik yang cukup
  • Tidak merokok
  • Membatasi penggunaan alkohol

Disiplin tinggi dalam menerapkan gaya hidup sehat akan memberikan dampak positif yang signifikan pada tekanan darah. Beberapa penderita penyakit hipertensi bahkan tidak perlu mengonsumsi obat-obatan karena berhasil menerapkan perubahan gaya hidup untuk menormalkan tekanan darah.