Terbit: 23 Oktober 2020 | Diperbarui: 29 November 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Perawatan yang tepat untuk keadaan ini sering kali dapat mengontrol kondisi yang mendasari hingga mengurangi risiko komplikasi. Simak penjelasan selengkapnya mengenai penyebab hingga cara mengatasinya.

Hipertensi Sekunder: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Hipertensi Sekunder?

Gangguan ini terjadi ketika Anda memiliki tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh penyakit atau kondisi tertentu. Hipertensi sekunder berbeda dari jenis tekanan darah tinggi biasa (hipertensi primer atau hipertensi esensial) karena bisa diketahui penyebabnya dengan jelas.

Gejala Hipertensi Sekunder

Sama seperti tekanan darah tinggi biasa, keadaan ini biasanya tidak memiliki tanda atau gejala khusus. Jika Anda telah didiagnosis dengan tekanan darah tinggi dan memiliki salah satu dari tanda ini, berarti Anda memiliki peningkatan tekanan darah sekunder, antara lain:

  • Hipertensi yang tidak merespons obat tekanan darah tinggi (hipertensi resisten).
  • Tekanan darah sangat tinggi, yaitu tekanan darah sistolik lebih dari 180 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih dari 120 mmHg.
  • Hipertensi yang tiba-tiba, biasanya terjadi sebelum usia 30 atau setelah usia 55 tahun.
  • Tidak ada riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi.
  • Memiliki komorbid yang dapat mengakibatkan darah tinggi, seperti adanya riwayat gagal ginjal, gagal jantung, atau diabetes.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda memiliki keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sekunder, sepertinya Anda harus rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah. Konsultasikan dengan dokter mengenai seberapa sering pemeriksaan tekanan darah dilakukan.

Selain itu, konsultasi dengan dokter diperlukan jika Anda mengalami perubahan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, jantung berdebar, kaki bengkak (edema), kelelahan, pertumbuhan rambut yang tidak normal, atau muncul stretch mark keunguan pada kulit.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Baca Juga: 11 Gejala Darah Tinggi (Hipertensi) yang Harus Diwaspadai

Penyebab Hipertensi Sekunder

Terdapat beberapa kondisi yang bisa menyebabkan penyakit ini. Beberapa penyakit ginjal yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sekunder, antara lain:

  • Komplikasi diabetes (nefropati diabetik). Diabetes dapat merusak sistem penyaringan ginjal sehingga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.
  • Penyakit ginjal polikistik. Kista yang ada pada ginjal membuat organ ini tidak berfungsi dengan normal sehingga meningkatkan tekanan darah.
  • Glomerulonefritis. Ginjal menyaring limbah dan natrium menggunakan filter berukuran mikroskopis yang disebut glomeruli—yang terkadang—bisa menjadi bengkak. Glomeruli yang bengkak membuatnya tidak berfungsi secara normal, sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi.
  • Hipertensi renovaskular. Jenis hipertensi ini disebabkan oleh penyempitan (stenosis) salah satu atau kedua arteri yang menuju ke ginjal. Penyakit ini sering kali disebabkan oleh jenis plak lemak yang sama yang merusak arteri koroner (aterosklerosis). Selain itu, gangguan ini juga bisa muncul akibat jaringan fibrosa dari dinding arteri ginjal menebal dan mengeras menjadi cincin (fibromuscular dysplasia).

Kondisi Medis

Selain terkait dengan ginjal, kondisi kesehatan yang memengaruhi kadar hormon juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sekunder. Beberapa kondisi tersebut, antara lain:

  • Sindrom Cushing. Dalam kondisi ini, obat kortikosteroid dapat menyebabkan penyakit ini.
  • Aldosteronisme. Dalam kondisi ini, tumor terdapat pada salah satu atau kedua kelenjar adrenal. Kondisi ini menyebabkan kelenjar adrenal melepaskan hormon aldosteron dalam jumlah yang berlebihan. Kondisi ini membuat ginjal menahan garam dan air serta kehilangan banyak kalium, sehingga meningkatkan tekanan darah.
  • Feokromositoma. Tumor langka ini biasanya ditemukan di kelenjar adrenal. Keadaan ini meningkatkan produksi hormon adrenalin dan noradrenalin, yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi jangka panjang atau lonjakan tekanan darah jangka pendek.
  • Masalah tiroid. Ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon tiroid (hipotiroidisme) atau menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid (hipertiroidisme), tekanan darah tinggi dapat terjadi.
  • Hiperparatiroidisme. Kelenjar paratiroid mengatur kadar kalsium dan fosfor dalam tubuh. Jika kelenjar mengeluarkan terlalu banyak hormon paratiroid, jumlah kalsium dalam darah yang meningkat memicu peningkatan tekanan darah.

Penyebab Lainnya

Selain terkait dengan ginjal dan kadar hormon, ternyata terdapat beberapa hal lainnya yang juga bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah sekunder. Beberapa kondisi kesehatan tersebut, antara lain:

  • Koarktasio aorta. Kondisi cacat saat lahir ini membuat arteri utama tubuh (aorta) menyempit. Kondisi ini memaksa jantung untuk memompa lebih keras untuk mengalirkan darah melalui aorta dan ke seluruh tubuh. Pada akhirnya, peningkatan tekanan darah bisa terjadi terutama di lengan.
  • Sleep apnea. Kondisi ini sering kali ditandai dengan dengkuran yang parah dan pernapasan berulang kali berhenti. Gangguan ini membuat tubuh tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup, hal itu dapat merusak lapisan dinding pembuluh darah dan sistem saraf menjadi terlalu aktif melepaskan zat kimia tertentu yang meningkatkan tekanan darah.
  • Obesitas. Saat berat badan bertambah, jumlah darah yang beredar ke seluruh tubuh mengalami peningkatan. Keadaan ini memberi tekanan tambahan pada dinding arteri, sehingga meningkatkan tekanan darah.
  • Kehamilan. Keadaan sedang hamil dapat memperburuk tekanan darah tinggi yang ada atau dapat menyebabkan tekanan darah tinggi berkembang.
  • Obat dan suplemen. Berbagai obat resep seperti pereda nyeri, pil KB, antidepresan, dan obat yang digunakan setelah transplantasi organ, ternyata dapat menyebabkan atau memperburuk tekanan darah tinggi pada beberapa orang.

Faktor Risiko Hipertensi Sekunder

Risiko terbesar mengalami gangguan ini adalah kondisi medis yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi seperti masalah ginjal, arteri, jantung, atau sistem endokrin.

Diagnosis Hipertensi Sekunder

Pertama-tama, dokter akan mendiagnosis kondisi dengan melakukan pembacaan tekanan darah. Pengukuran tekanan darah mungkin bisa dilakukan beberapa kali pada pertemuan terpisah. Dokter tidak mendiagnosis gangguan ini hanya berdasarkan pembacaan tekanan darah yang lebih tinggi dari normal.

Beberapa tes lain yang mungkin dilakukan adalah:

  • Pemeriksaan darah. Tes ini diperlukan untuk memeriksa kadar kalium, natrium, kreatinin, glukosa darah puasa, kolesterol total, trigliserida, dan bahan kimia lain dalam darah.
  • Tes urine. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kondisi medis lainnya.
  • Ultrasonografi ginjal. Dikarenakan banyak penyakit ginjal terkait dengan peningkatan tekanan darah sekunder, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ultrasonografi ginjal dan pembuluh darah.
  • Elektrokardiogram. Jika dokter mencurigai kondisi ini terkait dengan masalah jantung, dokter mungkin menyarankan metode ini.

Pengobatan Hipertensi Sekunder

Pada dasarnya perawatan dilakukan dengan mengatasi kondisi yang mendasarinya, apakah itu terkait kelenjar adrenal, penyakit ginjal, sleep apnea, dan lain-lain.

Sementara itu, dalam kasus di mana kondisi disebabkan oleh arteri yang menyempit, pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki masalah. Namun, tidak semua pasien memenuhi syarat untuk menjalani operasi.

Selain mengatasi masalah kesehatan yang mendasari, dokter juga mungkin menyarankan untuk mengonsumsi obat antihipertensi. Akan tetapi, jika gangguan ini disebabkan oleh suatu obat tertentu, dokter mungkin menyarankan untuk berhenti atau menurunkan dosis obat tersebut.

Komplikasi Hipertensi Sekunder

Keadaan ini dapat memperburuk kondisi medis yang mendasari tekanan darah tinggi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Kerusakan arteri
  • Aneurisma
  • Gagal jantung
  • Pembuluh darah ginjal yang melemah dan menyempit
  • Pembuluh darah mata menebal, menyempit atau robek
  • Sindrom metabolik
  • Gangguan memori

Pencegahan Hipertensi Sekunder

Peningkatan tekanan darah sekunder yang disebabkan oleh tumor atau struktur pembuluh darah yang tidak normal adalah kondisi yang tidak dapat dicegah. Akan tetapi, penyebab lain seperti penggunaan obat atau berat badan berlebih dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan kesadaran akan efek samping obat. Diskusikan aturan dan efek samping pengobatan dengan dokter.

 

  1. Anonim. Secondary hypertension. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/secondary-hypertension/symptoms-causes/syc-20350679. (Diakses pada 23 Oktober 2020).
  2. Anonim. Which Type of Blood Pressure Do You Have?. https://www.webmd.com/hypertension-high-blood-pressure/secondary-hypertension. (Diakses pada 23 Oktober 2020).
  3. Anonim. Secondary Hypertension. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/secondary-hypertension-a-to-z. (Diakses pada 23 Oktober 2020).
  4. Anonim. Secondary Hypertension. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21128-secondary-hypertension. (Diakses pada 23 Oktober 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi