Terbit: 21 Desember 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Pesawat terbang masih menjadi salah satu moda transportasi favorit bagi banyak orang yang ingin pergi ke tempat yang jauh. Di musim liburan akhir tahun seperti sekarang ini, penggunaan pesawat juga cenderung meningkat dengan signifikan. Hanya saja, ada anggapan yang dipercaya banyak orang, yakni mereka yang memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi sebaiknya tidak menggunakan pesawat terbang. Apakah anggapan ini benar adanya?

Penderita Hipertensi Tidak Boleh Naik Pesawat

Kaitan antara hipertensi dan pesawat terbang

Saat naik pesawat terbang, terjadi perubahan tekanan udara dengan signifikan, apalagi jika pesawat terbang sangat tinggi. Dikhawatirkan, hal ini akan memberikan pengaruh bagi kondisi tekanan darah.

Menurut pakar kesehatan, penderita hipertensi memang sebaiknya tidak sembarangan naik pesawat karena memiliki risiko besar terkena pecah pembuluh darah saat pesawat mencapai ketinggian tertentu. Padahal, pecah pembuluh darah bisa memberikan dampak yang cukup fatal.

Karena alasan inilah, penderita hipertensi sebaiknya tidak sembarangan memesan tiket pesawat jika ingin pergi ke suatu tempat. Cobalah untuk memeriksakan kondisi hipertensinya terlebih dahulu di dokter, puskesmas, atau rumah sakit terdekat. Jika perlu, mintalah saran dokter untuk mengetahui apakah kita boleh naik pesawat atau tidak.

Pemilik penyakit lain yang juga disarankan tidak naik pesawat

Tak hanya hipertensi, dunia penerbangan ternyata juga menyarankan penderita beberapa jenis penyakit tertentu untuk tidak sembarangan naik pesawat karena bisa meningkatkan risiko terkena komplikasi fatal atau bahkan mematikan. Bahkan, menurut pakar kesehatan, sebenarnya di tiap penerbangan idealnya terdapat satu dokter atau tenaga medis yang bisa membantu penumpang yang tiba-tiba saja mengalami masalah kesehatan dan membutuhkan bantuan medis.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Berikut adalah beberapa jenis penyakit yang membuat seseorang sebaiknya tidak naik pesawat.

  1. TBC

Pakar kesehatan yang berasal dari Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa Saryanto, Marsekal Pertama TNI dr. Krismono Irwanto, MHKes menyebut dokter penerbangan sebenarnya memiliki hak untuk mencegah seseorang untuk naik pesawat karena dikhawatirkan bisa menularkan penyakit ini ke penumpang lainnya. Sebagai contoh, jika seseorang menderita penyakit paru-paru seperti TBC, maka risiko untuk memicu penularan penyakit sangat besar. Sayangnya, sekarang sangat jarang tindakan pengecekan atau pencegahan bagi penumpang dengan kondisi kesehatan ini.

  1. Serangan jantung

Ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan Indonesia, dr. Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP menyebut orang-orang dengan riwayat penyakit jantung sebaiknya tidak sembarangan naik pesawat terbang karena risiko untuk terkena serangan jantung sangatlah tinggi. Hal ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa sebagian besar kasus penumpang yang kehilangan nyawa saat terbang dengan pesawat adalah karena serangan jantung.

Melihat adanya fakta ini, penderita penyakit jantung sebaiknya memang memeriksakan kondisi kesehatannya dulu ke dokter. Kalau kondisi tubuhnya memungkinkan, mereka boleh-boleh saja naik pesawat.

  1. Stroke

Dr. Wawan juga menyebut ada beberapa jenis penyakit lain yang membuat penderitanya sebaiknya tidak sembarangan naik pesawat, yakni stroke, nyeri pinggang, nyeri leher, dan serangan jantung.

  1. Anemia

Anemia atau yang lebih dikenal sebagai masalah kurang darah adalah kondisi yang membuat seseorang memiliki hemoglobin yang rendah. Hal ini akan berpengaruh besar pada kebugaran tubuh, termasuk saat naik pesawat yang memang cukup melelahkan dan membutuhkan daya tahan yang cukup prima.

Penderita anemia sebaiknya memeriksakan kondisi kesehatannya ke dokter terlebih dahulu untuk mengetahui apakah mereka boleh naik pesawat atau tidak. Jika memang terpaksa harus naik pesawat, mereka sebaiknya mendapatkan akses selang oksigen selama penerbangan demi menvegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Jika memang di dalam penerbangan ada dokter atau tenaga medis, penderita penyakit tertentu bisa saja mendapatkan pertolongan, namun jika kondisi korban sudah sangat parah dan membutuhkan bantuan medis dengan segera, biasanya pilot akan langsung melakukan pendaratan darurat.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi