Terbit: 14 Juli 2021 | Diperbarui: 15 Juli 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Hiperpnea adalah istilah untuk menghirup napas lebih dalam dari biasanya. Keadaan ini sering kali merupakan respons terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme saat tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen. Apa saja yang menyebabkan kondisi ini? Apakah hal ini berbahaya bagi tubuh? Simak penjelasan lengkap di bawah ini.

Hiperpnea: Pengertian, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Apa Itu Hiperpnea?

Hyperpnea atau hiperpnea berarti seseorang bernapas lebih dalam, terkadang Anda juga bisa bernapas lebih cepat. Ini adalah respons tubuh terhadap sinyal dari otak, pembuluh darah, dan persendian untuk menyesuaikan pernapasan. Napas lebih dalam memberikan peningkatan asupan oksigen.

Jika keadaan terkait dengan fisiologis, hyperpnea tidak membutuhkan pengobatan. Namun, jika disebabkan oleh kondisi medis, konsultasi dengan dokter mungkin diperlukan.

Penyebab Hiperpnea

Berikut adalah beberapa penyebab yang bisa menyebabkan keadaan ini, di antaranya:

1. Ketinggian

Kondisi ini dapat menjadi respons normal terhadap kebutuhan untuk meningkatkan asupan oksigen ketika Anda berada di ketinggian. Jika Anda mendaki, bermain ski, atau melakukan aktivitas lain di ketinggian, Anda mungkin membutuhkan lebih banyak oksigen daripada di dataran rendah.

Gejala yang muncul terkait dengan ketinggian seperti:

  • Sesak napas.
  • Kulit dan bibir membiru.
  • Kebingungan.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.

2. Tidur

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa selama tidur nyenyak atau disebut juga REM sleep, tubuh melemaskan otot-otot dilator pernapasan yang membantu menghirup dan menghembuskan napas. Selama fase tidur, beberapa orang mungkin mengalami hyperpnea atau masalah pernapasan lainnya.

Dalam beberapa kasus, sleep apnea dapat terjadi karena pola pernapasan yang disebut Cheyne-Stokes, di mana pernapasan seseorang bergantian antara hipopnea dan hiperpnea yang berkepanjangan. Ini adalah kondisi serius yang membutuhkan analisis dari dokter.

3. Anemia

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah. Seseorang yang menderita anemia perlu mendapatkan oksigen lebih dari biasanya karena sel darah merah berguna mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika tidak diatasi, keadaan ini dapat menyebabkan hiperpnea.

4. Asma

Seseorang dengan asma mungkin lebih cenderung menjadi sesak napas, sehingga berpotensi meningkatkan kemungkinan hiperpnea. Namun menurut sebuah studi, seseorang dapat menjalani pelatihan tentang teknik pernapasan yang lebih dalam untuk membantu mengatasi peradangan saluran napas dan masalah terkait paru-paru.

5. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

PPOK mungkin melibatkan hiperpnea. Sebuah studi mengungkapkan bahwa bahwa hyperpnea terkontrol dapat meningkatkan kinerja otot-otot pernapasan seseorang yang memiliki penyakit ini. PPOK umumnya ditandai dengan kesulitan bernapas, batuk berdahak, dan mengi.

Selain beberapa penyebab seperti di atas, hiperpnea adalah kondisi yang bisa disebabkan oleh:

  • Paparan udara dingin. Paparan suhu dingin di luar ruangan atau dari AC dapat menyebabkan hyperpnea.
  • Asidosis metabolik. Hiperpnea adalah salah satu gejala asidosis metabolik, yang merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan penumpukan asam yang berlebihan di dalam tubuh.
  • Gangguan panik. Kondisi ini mungkin membuat Anda bernapas dalam-dalam.
  • Olahraga. Peningkatan aktivitas fisik adalah situasi yang paling sering untuk hiperpnea. Meski begitu, masih terdapat kontroversi tentang bagaimana olahraga dan hyperpnea saling terkait.

Baca Juga: 7 Latihan Pernapasan untuk Redakan Stres dan Cemas

Kondisi Pernapasan Abnormal Lainnya

Berikut adalah jenis pernapasan abnormal lain yang perlu Anda ketahui, antara lain:

  • Hipopnea. Mengacu pada pernapasan pendek yang tidak biasa.
  • Dispnea. Kesulitan bernapas yang disebabkan karena sesak napas.
  • Pernapasan agonal. Pernapasan yang pendek, lambat, dan tidak teratur ini dapat berkembang menjadi apnea.
  • Apnea. Seseorang dengan apnea dapat berhenti bernapas, kondisi yang dapat mengancam jiwa jika tidak melakukan CPR dengan segera.
  • Takipnea. Ini adalah istilah untuk tingkat pernapasan di atas rata-rata untuk usia seseorang.
  • Bradipnea. Keadaan ini menggambarkan tingkat pernapasan di bawah rata-rata untuk usia seseorang.
  • Hiperventilasi. Tingkat pernapasan yang lebih tinggi dari yang diperlukan menghasilkan pelepasan volume karbon dioksida yang lebih tinggi.
  • Hipoventilasi. Tingkat pernapasan yang lebih rendah dari yang diperlukan menyebabkan pelepasan volume karbon dioksida yang lebih rendah.

Perubahan pola pernapasan adalah hal biasa, tetapi jika Anda mencurigai pernapasan yang tidak normal, konsultasi dengan dokter diperlukan. Pola pernapasan yang tidak biasa mungkin merupakan tanda dari kondisi metabolisme atau cedera yang mendasarinya.

Apakah Hiperpnea Berbahaya?

Pada dasarnya jika hyperpnea dilakukan saat berolahraga, digunakan dengan sengaja untuk memperbaiki kondisi paru-paru, atau untuk menenangkan diri, hal ini bukanlah sesuatu yang berbahaya.

Akan tetapi, beberapa orang yang berolahraga sangat berat, terutama untuk waktu yang lama atau dalam cuaca dingin, dapat mengalami bronkokonstriksi, kondisi ini menyebabkan saluran udara menyempit.

Biasanya, bronkokonstriksi hilang saat Anda berhenti berolahraga. Dapatkan bantuan dari tenaga medis profesional jika kondisi ini menjadi berkepanjangan. Sementara seseorang dengan gangguan paru-paru seperti asma, harus berhati-hati agar olahraga tidak memicu bronkokonstriksi.

Baca Juga: Perbedaan Pernapasan Dada dan Perut: Manfaat dan Cara Melatih Napas

Perawatan Hiperpnea

Pada dasarnya, pernapasan adalah proses alami dan kompleks yang melibatkan beberapa bagian tubuh, termasuk paru-paru, diafragma, dan otot interkostal. Hyperpnea merupakan bagian dari proses pernapasan normal dan pengobatan biasanya tidak diperlukan.

Namun, jika Anda mengalami pernapasan yang tidak normal dan memiliki kekhawatiran, sepertinya Anda perlu mendapatkan nasihat medis. Misalnya, jika hiperpnea memiliki efek negatif pada tidur, perawatan mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah pernapasan yang mendasari.

Namun, jika episode hyperpnea sering terjadi, hal ini mungkin mengindikasikan kondisi yang mendasarinya. Oleh karena itu, pengobatan tergantung pada kondisi yang didiagnosis oleh dokter.

Dalam kasus anemia ringan, biasanya Anda disarankan untuk mengonsumsi vitamin C dan makanan kaya zat besi yang ditemukan dalam sayuran berdaun hijau dan buah jeruk bersama dengan suplemen zat besi. Pasien dengan anemia berat mungkin memerlukan transfusi darah.

Seseorang yang menderita PPOK dan asma diberikan kortikosteroid inhalasi dan bronkodilator untuk membuka saluran udara, mengurangi peradangan, dan mencegah memburuknya kondisi.

Pasien yang didiagnosis dengan asidosis metabolik diberikan natrium bikarbonat secara intravena (melalui pembuluh darah) untuk menyeimbangkan kadar asam. Selanjutnya, pasien dapat diberikan bronkodilator, steroid, oksigen tambahan, dan obat antidiabetes untuk mengobati gejala lain.

Sementara, seseorang yang menderita gangguan panik diberikan antidepresan untuk mencegah terjadinya serangan panik. Anda juga disarankan untuk mengurangi atau menghentikan konsumsi minuman berkafein dan beralkohol hingga obat-obatan rekreasional lainnya untuk mengurangi kecemasan. Olahraga teratur, tidur yang cukup, latihan pernapasan, dan yoga juga dapat membantu memperbaiki kondisi.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. 2021. Hyperpnea: Is deep breathing always a sign of an underlying condition?. https://www.apollo247.com/blog/article/hyperpnea-deep-breathing-always-sign-underlying-condition. (Diakses pada 14 Juli 2021).
  2. Hecht, Marjorie. 2020. What Is Hyperpnea?. https://www.healthline.com/health/what-is-hyperpnea. (Diakses pada 14 Juli 2021).
  3. Millar, Helen. 2018. Hyperpnea: What to know about exercise and respiration. https://www.medicalnewstoday.com/articles/hypernea#about-hyperpnea. (Diakses pada 14 Juli 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi