Terbit: 15 Juli 2020 | Diperbarui: 20 Juli 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Hipermetropi adalah salah satu masalah penglihatan yang paling umum. Ketahui lebih lanjut mengenai Hipermetropi mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, pengobatan, hingga pencegahannya berikut ini!

Hipermetropi (Rabun Dekat): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Apa Itu Hipermetropi?

Hipermetropi adalah kondisi di mana seseorang mampu melihat objek dari jarak jauh dengan baik, tetapi malah kesulitan melihat objek dari jarak dekat. Gangguan mata yang satu ini umum kita kenal dengan nama rabun dekat.

Ada berbagai tingkat keparahan rabun dekat, tergantung pada kemampuan mata untuk fokus melihat benda dekat. Jika Anda hanya dapat melihat dengan jelas objek yang sangat jauh dan sulit sekali melihat objek yang dekat, maka berarti Anda memiliki rabun dekat yang parah. Kabar baiknya, hipermetropi adalah masalah mata yang masih dapat diatasi.

Ciri dan Gejala Hipermetropi

Hipermetropi terjadi jika bola mata lebih pendek dari ukuran normal. Kondisi ini menyebabkan cahaya yang masuk difokuskan di belakang retina mata. Padahal seharusnya, cahaya difokuskan di permukaan retina.

Berikut ini adalah beberapa gejala umum yang biasanya terjadi:

  • Objek dekat terlihat samar
  • Perlu menyipitkan mata untuk memperjelas objek yang dilihat
  • Mata terasa seperti terbakar
  • Mata terasa sakit
  • Ketidaknyamanan mata atau sakit kepala setelah melihat dari dekat seperti saat membaca, menulis, menatap layar komputer, atau menggambar

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Jika Anda tidak memakai kacamata atau lensa kontak dan tidak memiliki gejala dari masalah mata serta memiliki risiko yang lebih rendah, lakukan pemeriksaan mata dasar pada usia sekitar usia 40 tahun. Kemudian lakukan kembali pemeriksaan mata dengan interval waktu sebagai berikut:

  • Setiap 2–4 tahun antara usia 40-54 tahun.
  • Setiap 1–3 tahun antara usia 55-64 tahun.
  • Setiap 1–2 tahun dimulai pada usia 65 tahun.

Jika Anda berisiko tinggi penyakit memiliki penyakit mata tertentu, seperti riwayat keluarga dengan glaukoma, atau memiliki penyakit kronis seperti darah tinggi dan kencing manis, frekuensi pemeriksaan harus ditingkatkan menjadi:

  • Setiap 2-4 tahun sebelum usia 40 tahun.
  • Setiap 1-3 tahun pada usia 40-54 tahun.
  • Setiap 1-2 tahun dari usia 55 tahun ke atas.

Sedangkan jika Anda mengenakan kacamata atau lensa kontak, maka Anda perlu memeriksakan mata setiap tahun.

Penyebab Hipermetropi

Penyebab hipermetropi adalah ketika kornea Anda melengkung terlalu sedikit atau ukuran bola mata lebih pendek dari normal. Alih-alih fokus tepat pada retina, cahaya justru difokuskan di belakang retina yang akhirnya membuat pandangan kabur saat melihat objek dekat.

Seperti diketahui, mata memiliki dua bagian untuk memfokuskan cahaya atau gambar yaitu:

  • Kornea, permukaan depan mata.
  • Lensa, struktur yang jelas dalam mata yang berubah bentuk mencembung atau mencekung (daya akomodasi) untuk membantu memfokuskan mata pada objek.

Dalam mata yang normal, masing-masing elemen memiliki lengkungan halus sempurna, seperti permukaan marmer. Kornea dan lensa lantas membuat gambar tajam terfokus langsung pada retina yang berada tepat di belakang mata.

Jika kornea tidak rata atau lensa memiliki daya akomodasi yang terganggu, sinar cahaya tidak dibiaskan dengan tepat, sehingga terjadilah kesalahan bias. Kesalahan bias inilah yang lantas berujung pada kondisi rabun dekat tersebut.

Faktor Risiko Hipermetropi

Ada sejumlah faktor risiko yang membuat seseorang rentan untuk mengalami gangguan penglihatan yang satu ini, yaitu:

  • Usia di atas 40 tahun
  • Riwayat anggota keluarga (orang tua) dengan kondisi yang sama
  • Menderita diabetes
  • Gangguan pembuluh darah mata
  • Mengidap kanker mata

Diagnosis Hipermetropi

Diagnosis hipermetropi oleh dokter spesialis mata dilakukan melalui sejumlah pemeriksaan mata dasar yang meliputi:

  • Tes ketajaman mata pasien menggunakan eye chart.
  • Pemeriksaan bagian belakang mata. Dokter akan meneteskan cairan pelebar pupil agar bagian belakang mata dapat terlihat dengan jelas.
  • Pemeriksaan mata dengan menggunakan medium lensa pembesar.

Selain itu, dokter juga biasanya akan memasangkan lensa dalam berbagai ukuran untuk menentukan mana yang paling sesuai untuk membantu pasien melihat secara lebih jelas.

Pengobatan Hipermetropi

Tujuan dari mengobati rabun dekat adalah untuk membantu cahaya fokus pada retina melalui penggunaan lensa korektif atau bedah refraktif. Beberapa metode pengobatan hipermetropi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1.  Penggunaan Lensa Korektif

Pada orang yang masih berusia muda, lensa korektif tidak selalu diperlukan karena lensa di dalam mata yang cukup fleksibel untuk mengompensasi kondisi tersebut. Namun seiring bertambahnya usia, lensa menjadi kurang fleksibel dan akhirnya mungkin akan perlu lensa korektif untuk meningkatkan penglihatan dekat.

Lensa korektif meliputi:

  • Berbagai kacamata lebar, trifocals, lensa progresif dan kacamata baca.
  • Lensa Kontak. Berbagai macam lensa kontak yang tersedia – keras, lembut, dipakai terus menerus, sekali pakai, lensa yang terbuat dari gas kaku permeabel dan lensa bifokal. Tanyakan kepada dokter mata tentang pro dan kontra dari lensa kontak dan apa yang mungkin terbaik bagi Anda.

2.  Bedah Refraktif

Metode pengobatan hipermetropi yang satu ini bertujuan untuk membentuk kembali kelengkungan kornea mata. Metode bedah refraktif meliputi:

  • Laser Keratomielosis (LASIK). LASIK adalah prosedur di mana dokter mata membuat flap tipis berengsel melingkar memotong kornea. Kemudian, dokter akan menggunakan laser excimer untuk menghilangkan lapisan dari pusat kornea. Laser excimer berbeda dari laser lain yaitu tidak menghasilkan panas. Setelah laser digunakan, flap kornea yang tipis akan direposisi.
  • Laser-Keratektomi Subepitel (LASEK). Alih-alih menciptakan flap di kornea, ahli bedah menciptakan flap yang hanya melibatkan tutup pelindung tipis kornea (epitel). Dokter akan menggunakan laser excimer untuk membentuk kembali lapisan luar kornea dan curam kelengkungan untuk kemudian mereposisi flap epitel. Guna memfasilitasi penyembuhan, Anda dapat memakai lensa kontak perban selama beberapa hari setelah operasi ini dilakukan.
  • Keratektomi Fotorefraktif (PRK). Prosedur ini mirip dengan LASEK, kecuali menghilangkan epitel. Epitel akan tumbuh kembali secara alami sesuai dengan bentuk baru kornea Anda. Lensa kontak perban mungkin diperlukan selama beberapa hari setelah operasi.
  • Keratoplasti Konduktif (CK). Prosedur ini menggunakan energi frekuensi radio untuk menerapkan panas ke bintik-bintik kecil di sekitar kornea. Efeknya menyerupai bungkus plastik yang terkena panas. Tingkat perubahan dalam kelengkungan kornea tergantung pada jumlah dan jarak dari tempat serta cara di mana kornea sembuh setelah pengobatan. Hasil CK tidaklah permanen.

Komplikasi Hipermetropi

  • Mengurangi kualitas hidup. Rabun dekat yang tidak ditangani dapat memengaruhi kualitas hidup. Pengelihatan yang terbatas dapat menghambat untuk untuk melakukan tugas-tugas yang penting.
  • Ketegangan mata. Rabun dekat yang tidak dikoreksi dapat menyebabkan mata juling karena mata berusaha untuk menjaga fokus cahaya. Hal ini dapat menyebabkan kelelahan mata dan sakit kepala.
  • Ancaman keselamatan. Terganggunya penglihatan berpotensi mengancam keselamatan jiwa saat berkendara.

Beberapa komplikasi lainnya yang mungkin dapat terjadi setelah operasi meliputi:

  • Koreksi pandangan yang tidak tepat, menyebabkan undercorrection atau efek samping penglihatan seperti adanya ‘cahaya pelangi’ melingkar yang muncul di sekitar lampu.
  • Mata kering.
  • Infeksi.

Diskusikan prosedur pengobatan hipermetropi yang tepat untuk mata Anda. Jika memang kacamata mampu mengoreksi dengan tepat dan tidak mengganggu aktivitas, dokter mungkin cukup menyarankan pemakaian kacamata saja.

Pencegahan Hipermetropi

Hipermetropi sejatinya tidak dapat dicegah karena biasanya hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi mata seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, Anda setidaknya bisa memperlambat terjadi masalah penglihatan tersebut. Caranya adalah sebagai berikut:

  • Penuhi asupan vitamin yang baik bagi mata seperti vitamin A dan lainnya.
  • Hindari membaca di tempat yang minim pencahayaan terlalu lama.
  • Mencegah diri dari terkena penyakit diabetes.
  • Periksa mata secara rutin ke dokter.

 

  1. AIMU. 2017. Hypermetropia : Symptoms, Causes, Diagnosis, Management and Complications. https://www.aimu.us/2017/12/05/hypermetropia-symptoms-causes-diagnosis-management-and-complications/ (Diakses pada 15 Juli 2020)
  2. Anonim. Farsightedness. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/farsightedness/symptoms-causes/syc-20372495 (Diakses pada 15 Juli 2020)
  3. Anonim. Long-sight. https://www.moorfields.nhs.uk/sites/default/files/Long%20sight-%208-12.pdf (Diakses pada 15 Juli 2020)
  4. Bergen, T. 2017. Farsightedness. https://www.healthline.com/health/farsightedness#diagnosis (Diakses pada 15 Juli 2020)
  5. Felman, A. 2017. What  to know about farsightedness. https://www.medicalnewstoday.com/articles/180621 (Diakses pada 15 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi