Terbit: 7 Mei 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Herpes di bibir dan mulut menggambarkan jika jenis penyakit yang disebabkan oleh virus ini tidak hanya terjadi di kulit dan kelamin. Ketahui lebih lanjut mengenai penyakit ini guna meningkatkan kewaspadaan Anda!

herpes-di-bibir-doktersehat

Herpes di Bibir, Kok Bisa?

Penyakit herpes di bibir adalah kondisi di mana bibir dan area mulut lainnya mengalami infeksi virus, tepatnya virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1). Tak kurang dari 67 persen orang dewasa dilaporkan pernah terinfeksi virus ini. Masalah kebersihan (higienitas) lagi-lagi menjadi alasan mengapa penyakit herpes di bibir yang disebut juga herpes oral atau herpes labialis ini terjadi.

Apakah herpes oral menular? Jawabannya, ya. Saat seseorang terinfeksi virus HSV-1 yang menyebabkan dirinya mengalami penyakit herpes ini, maka orang tersebut akan dengan mudahnya menularkan virus tersebut kepada orang lain. Ada sejumlah cara penyebaran virus herpes labialis atau herpes oral, yaitu:

  • Menggunakan peralatan makan yang sama
  • Menggunakan produk lipstik atau produk kosmetik khusus yang diaplikasikan di bibir secara bersama-sama
  • Berciuman

Penyebab herpes bibir  juga bisa virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2). Virus HSV-2 umumnya ditularkan melalui hubungan seksual dengan penderita herpes genital. Saat seseorang melakukan oral seks dengan pasangannya yang menderita herpes genital, maka virus akan tertular dan mengakibatkan penyakit herpes jenis ini.

Faktor Risiko Herpes di Bibir

Penyebaran virus herpes HSV-1 sebagai ‘biang keladi’ herpes di labialis  juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor risiko, seperti:

  • Infeksi HIV
  • Gangguan autoimun
  • Kemoterapi
  • Perilaku seks tidak aman

Ciri dan Gejala Herpes di Bibir

Herpes ditandai oleh sejumlah gejala yakni munculnya luka di bibir dan area mulut lainnya seperti gusi yang mana luka tersebut pada awalnya terlihat seperti luka sariawan. Gejala herpes yang sesungguhnya baru muncul sekitar 2-12 hari kemudian pasca masa inkubasi virus selesai (Rata-rata gejala muncul dalam kurun waktu 4 hari).

Berikut adalah ciri-ciri penyakit herpes oral yang perlu Anda ketahui dan waspadai:

  • Bibir dan gusi terasa sakit, terbakar, gatal, kesemutan, bengkak, dan melepuh
  • Gusi berdarah
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit pada area pipi dan dagu bagian dalam
  • Sakit dan bengkak pada amandel
  • Kesulitan menelan

Selain gejala di atas, mungkin masih ada lagi ciri-ciri lainnya. Segera kunjungi dokter apabila Anda merasakan satu atau beberapa gejala di atas guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut sebelum kondisi bertambah parah.

Tahapan Penyakit Herpes di Bibir

Setelah virus HSV-1 atau HSV-2 berhasil menginfeksi bibir, setidaknya ada 3 (tiga) aktivitas yang akan dilakukan oleh virus tersebut yaitu:

1. Infeksi Primer

Virus akan masuk ke dalam air liur (saliva), membran mukosa, atau kulit. Setelah itu, virus akan bereproduksi.

Aktivitas ini akan menimbulkan sejumlah gejala seperti luka pada bibir dan gusi yang disertai oleh demam. Akan tetapi, ada kalanya tahapan infeksi primer ini tidak menimbulkan gejala sama sekali. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah infeksi asimptomatik.

2. Latensi

Latensi pada kasus penyakit herpes labialis adalah aktivitas di mana virus herpes berpindah ke dalam jaringan simpul saraf yang terdapat di tulang belakang. Perpindahan virus ini bertujuan untuk reproduksi virus baru. Selain itu, virus akan menonaktifkan dirinya di dalam jaringan simpul saraf tersebut.

3. Reaktivasi

Virus yang tidak aktif akan kembali aktif dan menimbulkan gejala herpes oral. Reaktivasi virus herpes oral ini terjadi apabila penderita mengalami stres mental maupun stres fisik.

Diagnosis Herpes di Bibir

Diagnosis herpes di bibir dilakukan untuk memastikan penyakit sekaligus menentukan metode pengobatan yang tepat. Diagnosis penyakit herpes ini terdiri dari tiga tahap pemeriksaan yakni anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan pada pasien terkait dengan keluhan yang dialami.

  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Apakah sebelumnya pernah melakukan kontak fisik atau menggunakan barang yang sama dengan penderita herpes?
  • Apakah sebelumnya pernah melakukan hubungan seks dengan penderita herpes?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melanjutkan ke pemeriksaan fisik. Dokter akan menganalisis kondisi bibir dan gusi  dengan mengacu pada ciri-ciri herpes labialis secara umum seperti adanya luka menyerupai sariawan, bengkak pada bibir, dan sejumlah gejala lainnya.

Pada tahap ini, umumnya dokter sudah bisa memastikan bahwa pasien menderita herpes oral. Akan tetapi, prosedur pemeriksaan penunjang mungkin tetap dilakukan guna memastikan kondisi.

3. Pemeriksaan Penunjang

Untuk lebih memastikan diagnosis herpes oral pada pasien, dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan penunjang.

Prosedur penunjang yang umum dilakukan adalah biopsi, yakni mengambil sampel liur pasien untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium. Prosedur ini nantinya dapat mengetahui apakah ada pada liur pasien memang terdapat virus herpes atau tidak.

Selain sampel liur, sejumlah elemen lainnya yang akan diuji laboratorium oleh dokter adalah darah dan luka pada bibir maupun gusi itu sendiri.

Dengan melakukan pemeriksaan penunjang, diagnosis dokter terhadap herpes labialis pada pasien menjadi kuat dan metode pengobatan pun bisa ditentukan dengan mudah.

Pengobatan Herpes di Bibir

Bagaimana cara menyembuhkan herpes oral? Pengobatan herpes ini disesuaikan dengan tingkat keparahan yang diderita oleh pasien.

Umumnya, dokter akan meresepkan obat antivirus. Selain itu, ada juga obat-obatan penghilang rasa sakit seperti:

  • Dilocaine
  • Nervocaine
  • Xylocaine
  • Zilactin-L

Cara mengobati herpes di bibir juga bisa dilakukan secara mandiri di rumah, antara lain:

  • Mengonsumsi obat acetaminophen atau ibuprofen untuk mengatasi gejala demam dan nyeri otot
  • Minum banyak air untuk menghidrasi bibir

Pada kasus yang lebih parah, pengobatan herpes oral mungkin memerlukan penanganan medis secara khusus. Kondisi-kondisi yang mengharuskan penderita herpes untuk menjalani perawatan medis khusus antara lain:

  • Infeksi telah menyebar ke organ tubuh yang lain
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Dehidrasi akut
  • Bayi berusia kurang dari 6 minggu

Pencegahan Herpes di Bibir

Cara mencegah penyakit herpes di bibir adalah dengan menghindari faktor-faktor pemicu penularan virus herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2.

Anda sebaiknya jangan melakukan kontak fisik apalagi hubungan seksual terlebih dahulu dengan mereka yang didiagnosis menderita herpes, baik herpes oral maupun herpes genital. Pula, jangan gunakan peralatan-peralatan yang sama dengan yang digunakan oleh penderita herpes misalnya handuk atau sendok makan.

Selain itu, jaga selalu kebersihan dan minum air putih yang banyak untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Perbedaan Sariawan dan Herpes di Bibir

Di atas disebutkan jika herpes oral memiliki ciri-ciri yang mirip dengan sariawan yakni timbul luka atau lepuhan berwarna putih keabuan di area bibir maupun gusi.

Kendati terlihat sama, faktanya antara sariawan dan herpes di bibir terdapat perbedaan. Perbedaan sariawan dan herpes di bibir adalah sebagai berikut:

  • Sariawan tidak disebabkan oleh virus, sedangkan herpes adalah penyakit akibat infeksi virus
  • Sariawan ditandai dengan adanya lepuhan berwarna putih namun tidak berisi cairan. Sedangkan lepuhan pada herpes berisi cairan yang bisa pecah jika terkena gesekan intens
  • Sariawan bukan penyakit menular, sedangkan herpes oral dapat menular
  • Sariawan bisa sembuh dalam waktu maksimal seminggu, sedangkan penyakit herpes labialis bisa sampai 10 hari

 

  1. Anonim. Herpes Oral. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/oral-herpes#1 (Diakses pada 7 Oktober 2019)
  2. Anonim. Herpes – Oral. https://medlineplus.gov/ency/article/000606.htm (Diakses pada 7 Oktober 2019)
  3. Dock, E. 2019. Herpes Simplex. https://www.healthline.com/health/herpes-simplex (Diakses pada 7 Oktober 2019)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi